Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
kabut


__ADS_3

sebulan berlalu,darwin dan malika semakin intens,ia bahkan membawa malika beberapa kali ke kantornya hanya untuk sekedar menemaninya kerja dan makan siang di kafe dekat kantor,sebenarnya malika sudah membujuk darwin agar tidak berlebihan memperlakukannya,ia sangat malu saat menjadi bahan perhatian dan bisik2 para karyawan kantor,tapi dasar darwin yg memang sedang posesif,ia tidak peduli pandangan orang,ia hanya peduli pada istrinya.


"tolong bilang padanya berhenti mengajakku kesini,aku gak enak dilihatin karyawan kantor, mereka pasti bergosip di belakangkukan?."


saat ini malika tengah duduk di kursi yg ada dekat meja kerja wulan,ia bersembunyi di ruangan sekertaris karna darwin sejak tadi terus menarik tangannya untuk tetap menempel di sebelahnya,akhirnya ia bisa melarikan diri karna darwin kedatangan tamu dari investor luar negri itu yg mengharuskannya melepas malika sebentar.


wulan terkekeh melihat malika yg sedikit kesal menekuk wajahnya suram.


"mereka pasti bergosip nona,beberapa saya mendengarnya di toilet tadi." tukas wulan masih dengan senyum ramahnya.


"benarkan? mereka pasti mengataiku istri manja,posesif atau istri yg merepotkan suami,padahal bukan aku yg mau begini."


"tidak nona,mereka bilang kalau mereka iri, betapa beruntungnya nona mendapatkan suami seperti pak darwin,asal nona tahu saja,pak darwin termasuk boss yg ramah namun susah di ajak untuk berbasa basi,walau suka menegur dan bersapa pada bawahannya ia akan terlihat dingin jika menyangkut masalah pekerjaan atau membahas kedisiplinan karyawannya."


"aku tau...dia juga dingin padaku di awal2."


malika kembali mengingat masa2 ia terkurung di apartement dengan kesinisan darwin setiap hari.


"benar nona,makanya mereka iri karna kini mereka melihat pak darwin dari sisi yg berbeda,saat ada nona di sampingnya, pak darwin nampak menunjukan keromantisannya pada anda,membuat siapa saja yg melihatnya iri."


"romantis apanya?."


"pak darwin tak segan2 mencium nona didepan siapa saja,selalu menggandeng tangan nona saat berjalan,sesekali saya juga melihat ia merapihkan rambut nona saat sedang menatap nona bicara,tatapan seperti itu membuat wanita manapun meleleh dan iri."


"ya ampun wulan,jangan pertegas kalimat penjelasanmu,aku malu,dan memang dia...ya tuhan..aku kehilangan muka disini." malika menutup wajah dengan kedua tangannya,entah seperti apa sekarang wajahnya di hadapan wulan,yg jelas malika tahu wulan sedang tertawa kecil melihat tingkahnya.


wulan dan malika masih asik bicara saat tak lama melihat aldo berjalan menghampiri mereka,ada senyum sapaan disana tapi tidak seriang seperti biasanya,malika dan wulan sadar akan hal itu,seperti ada yg hilang pada aura didiri aldo yg setiap saatnya ceria atau genit pada wulan dan malika,kini laki2 itu seperti lelah dengan sesuatu,apa ia sangat kecapean bekerja denagan darwin? fikir malika.


"kakak ipar,bilang pada suamimu untuk memberikanku cuti barang seminggu saja, dia benar2 keras kepala jika menyangkut kerjaan."

__ADS_1


tukas aldo yg langsung duduk di sebelah malika dan menaruh kepalanya di meja kerja wulan,wajahnya benar2 kusut,dan ada beberapa sembab kehitaman di area matanya, malika berkernyit kebingungan.


"aldo apa kamu sakit? kamu nampak tidak sehat." tukas malika khawatir


"apa saya harus panggil dokter arif pak untuk medical cek up bapak?." wulan menambahkan


"tidak,aku hanya butuh liburan." aldo dengan suara lemah tak bertenaga.


"apa kamu kelelahan?kenapa darwin tidak mengijinkanmu cuti,kalau kamu benar2 jatuh sakitkan dia juga yg repot."


"benarkan?kakak ipar saja berfikir begitu,kalau begini terus aku pasti akan sakit parah,cih..dia selalu beralasan kalau perusahaan sedang sibuk2nya karna investor dan semacamnyalah...ah..kakak ipar ayo bantu aku bicara padanya." aldo meraih tangan malika sudah ingin menyeretnya masuk kedalam ruangan darwin,namun seketika saat itu juga darwin muncul dan melihat adegan tangan istrinya di cengkram aldo,tanpa aba2 mata darwin sudah menusuk seperti akan menyerang.


"ngapain loe megang2 tangan istri gue,lepas."


darwin menepis lengan aldo lalu mendorong bahu aldo dengan kasar,ia meraih pergelangan malika menarik istrinya hingga berdiri dari duduknya dan kini berdiri di sisinya sambil merangkul bahu malika,menempelkannya erat di tubuhnya,aldo cemberut melihat kebucinan temannya sedangkan wulan hanya nyengir menanggapi dengan kekehan kecil.


malika menjelaskan.


"gak ada,perusahaan lagi banyak job dan kerjaan yg ngegantung belom di beres2in kalo loe cuti makin numpuk nanti." darwin meremas2 jemari malika lembut,ia juga sesekali mengusap pipi istrinya yg tertempel ank rambut,malika nampak melirik wulan yg masih tersenyum di sana,aldo kembali duduk di kursi yg tadi di dudukinya,ia terkulai lemas disengaja2.


"sayang,aldo keliatan butuh istirahat,nanti kalau dia sakit beneran gimana? kan kamu juga yg repot." malika masih merayu menolong aldo,sesekali ia menepis lembut tangan suaminya yg sedang menyentuh wajahnya disana sini.


"heuh,dia itu bukan tipe orang yg gampang terkena penyakit,dalam setahun sakit yg datang ke badannya bisa di hitung dengan jari,dia itu cuma lagi mau kabur dari aku buat nyari seseorang yg tiba2 ngilang di hidupnya." segaris senyum sinis merekah di bibir darwin,membuat malika mengernyit bingung.


"maksudnya apa?."


"nanti ku jelaskan di apartement,ayo kita pulang."darwin menarik tangan malika untuk segera meninggalkan ruangan wulan,aldo langsung berdiri dari duduknya kesal.


"ini kan baru jam makan siang,kok loe udah mau pulang ajah." protes aldo

__ADS_1


"kan ada elo,w ijin setengah hari."


"emang ada keperluan mendesak apa harus ijin setengah hari segala?."


"orang jomblo gak bakal paham,wulan tolong di hendel ya,liat2in dia juga jangan sampe dia kabur."


wulan mengangguk mematuhi perintah,sedangkan aldo sudah bersungut2 melihat darwin yg menyeret istrinya menuju pintu lif,kembali aldo duduk sambil membuang nafasnya kesal,wulan ikut duduk di kursinya menatap aldo kasihan.


"apa nisa belum bisa di hubungi pak?".


tukas wulan,langsung terlihat wajah mendung di raut muka aldo.


"belum wulan,dasar bocah itu emang bikin orang frustasi,masa ngambek sampe berbulan2 begini,aku mesti nyari dia kemana? abangnya ajah gak tau dia pergi kemana."


"kok bisa begitu ya pak,dia gak lagi kabur kan ya."


"dia kabur dari aku wulan,tapi gak dari keluarganya,kayaknya mereka sekeluarga sekongkol sama tuh bocah biar ngerahasiain keberadaannya dari aku,ngeselin bangetkan?."


aldo menjatukan lagi kepalanya di atas meja kerja wulan,hatinya akan gelisah setiap kali membahas masalah nisa.


ada kabut yg menggelayut di wajah tampan itu,rona mendung seakan menguasai setiap inci garis muka si playboy yg kini tak berdaya di setiap harinya,semenjak kepergian nisa aldo tidak berselera dengan apapun termasuk pekerjaan dan wanita, ia sampai mengajukan cuti untuk sementara waktu tidak ngeDJ di pub malam seperti biasanya,nisa benar2 meninggalkan perasaan yg mendalam,kepala aldo penuh dengan wajah bodoh bocah itu, dan itu sangat mengganggunya.


bersambung.....


epilog


thanisa tersenyum tipis menatap layar hp nya yg sejak tadi menyala karna beberapa pesan masuk,sebuah gambar wajah dengan kepala yg menempel di meja kerja nampak murung dan mendung membuat ia sedikit gentar, ingin sekali rasanya berlari menghampiri pria itu,memeluknya karna saking rindunya yg menggebu2,tapi kesadarannya kembali saat ingatannya berputar di sebuah chat yg sangat mendominasi laki2 itu,ia ingin berubah,menjadi lebih dewasa dan layak untuk laki2 itu,benar,jika harus kembali,setidaknya ia harus benar2 merubah penampilannya dan sikapnya untuk bisa menjadi layak berdampingan dengan pria pujaannya itu,thanisa menghela nafas sesak, sesak d3ngan kerinduannya yg ia tahan beberapa bulan ini.


"terima kasih kak wulan." balas nisa pada chat yg sedang di bukanya,ia tersenyum lagi, sepertinya tindakan yg benar kalau ia meminta kak wulan yg mengawasi aldo untuknya disana.

__ADS_1


__ADS_2