
untuk kesekian kali,ben menatap ponsel di tangannya,menimang2nya menunggu balasan dari gadis culun itu sangat menyiksa,akhirnya dengan sangat terpaksa ben menghubungi aldo.
"hallo ben?". suara aldo di seberang sana
"dimana loe?".tanya ben basa basi tanpa ia ketahui aldo sampai berkernyit kebingungan,ia melirik jam di tangannya,waktu menunjukan jam sebelas siang,itu artinya ben tahu kalau ia pasti berada di kantor di jam segini.
"gue di kantor,ada apa?".
"apa darwin disana?".
"ya iyalah,kan dia bosnya,inih kita lagi meeting."
"apa pekerjaan kalian banyak?."
aldo semakin berkernyit dengan pertanyaan ben yg semakin aneh,saat suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya,ia melihat wulan masuk membawa berkas yg di perlukan dan memberikannya pada darwin yg masih membaca beberapa berkas di meja kerjanya,seketika aldo faham maksud ben menelfonnya,senyum sinis mengejek ingin memaki temannya yg lagi bucin itu.sialan,gue di jadiin jembatan doank.pekik aldo dalm hati,ia tersenyum pada wulan yg mengagguk padanya dan pamit keluar ruangan,darwin masih acuh dengan kelakuan satu temannya,akhirnya aldo mencoba bertanya pada bosnya yg sedang sibuk itu tanpa mematikan ponselnya,sengaja supaya di dengar ben langsung.
"win,kerjaan kita masih banyak gak?."
"apaan sih loe,kerjaan kita selalu numpuk setiap hari,gak berkurang malah nambah mulu,siapa sih?." darwin melirik ponsel yg di pegang aldo,temannya itu menyodorkan layar hp nya supaya darwin menatap nama yg tersambung di sana.
"ben?".darwin berkernyit "apa dia mau kesini?".lanjutnya
aldo menempelkan lagi ponsel itu di telinganya.
"ben,apa loe mau mampir kesini kata darwin?". aldo memperjelas pertanyaan darwin,padahal di seberang sana ben mendengarnya sudah sangat jelas.
"gak perlu lah,gue cuma mau bilang hari ini gue sakit."tukas ben lalu tanpa kata2 lagi ia menutup ponselnya,aldo di seberang sana pasti jengkel dengan keisengannya,ia menatap lagi layar ponselnya,melihat satu nama di layar chatnya,wulan pasti sedang sibuk sampai belum membaca pesannya, ben menyandarkan punggungnya di kepala sofa yg menghadap ke balkonnya,mocca berlari menaiki sofa dan meringkuk di samping tuannya,seketika tangan ben mengelus2 bulu lebat mocca,banyak tarikan nafas yg seketika di hembuskannya dengan kasar,biasanya ia tak serindu ini pada gadisnya,ia memang benar2 sakit,tubuhnya demam,tapi fikirannya berlarian kemana2,perintah tuan darius untuk beristirahat seharian ini pun di abaikannya karna terus menatap ponselnya,berharap aldo mengerti dan menyuruh wulan pulang lebih awal.
5 menit kemudian ponselnya berdering,darwin menelfon,dengan malas ben mengangkatnya.
"ben,apa loe mau gue dan aldo ketempat loe buat menengok loe yg lagi sakit?."
"klik"dengan kasar ben mematikan ponselnya,melempar benda kecil itu ke sebelah mocca,ia tahu 2 temannya itu pasti sedang tertawa meledeknya sekarang.
*****
aldo tergelak,seketika ruangn itu penuh tawanya,darwin menggeleng2kan kepalanya sambil tersenyum dan terkekeh kecil di kursi putarnya.
"sejak kapan dia dengan wulan?". tanya darwin,aldo menghentikan tawanya perlahan,ia sebenarnya membayangkan ben yg bertubuh tegap tinggi besar itu sedang merajuk dengan wajah yg dibuat2 kelihatan imut padahal tidak cocok sama sekali dengan karakter wajah dan sifatnya yg manly.
"gue juga gak tau,apa mungkin ya sejak dia ngotot mau ngasih berkas itu ke elo." aldo nampak mengingat2
"berkas yg mana?".
__ADS_1
"yg kita bahas,loe kan minta data nama2 orang2 kakek loe yg masuk ke saham kita,saat itu ben ngotot minta wulan ajah yg suruh ambil,padahal itu hari sabtu,gue sampe gak enak sama wulan udah ganggu hari liburnya."
"hem,bentar lagi juga makan siang,suruh wulan pulang cepat ajah,gue gak mau ben berubah jadi bayi besar yg terus mengganggu meeting kita."
"apa wulan udah gak di butuhkan lagi? kita da pertemuan klient jam 3 sore nanti."
"loe aja yg hendel,anggap ajah ini bentuk terima kasih gue sama ben karna dia akhrnya mau mengkhianati kakek gue demi prtemanan kita."darwin menarik garis sinis di bibirnya,ia kembali focus pada berkas2nya lagi,aldo berdiri melangkah menyambulkan kepalanya ke balik pintu yg langsung menghadapkannya ke meja wulan,terlihat gadis itu dengan serius sedang mengetik sesuatu di komputernya.
"wulan,sebentar lagi makan siang ya?".tukas aldo,seketika wulan berdiri menatap aldo dan mengangguk sopan
"iya pak,ada yg mau bapak pesan biar saya catat dan saya pesankan."
"oh gak,wulan boleh duluan makan siang sekarang,skalian gak usah kembali lgi langsung pulang ajah,biar pak darwin sama saya yg hendel berkas hri ini sampai sore."
nampak wulan berkernyit bingung menatap aldo tak percaya pada kata2 bos tengilnya ini.
"tidak apa2 pak,saya bisa menyelesaikan berkasnya tepat waktu sesuai jadwal."
"ini perintah pak darwin langsung,kamu boleh pulang sekarang,terima kasih ya, oh ya,jangan lupa hari ini memasak bubur, biasanya bubur cepat untuk pemulihan."
aldo menarik lagi kepalanya masuk kdlm ruangan darwin,ia terkekeh sendiri melihat wulan yg kebingungan.
"eh pak,maksdnya apa ya?".wulan hampir meninggikan suaranya,lalu setelah yakin aldo tak lagi mengeluarkan kepalanya ia gumam2 sendiri"maksudnya apa masak bubur sih,siapa yg mau makan bubur". wulan menengklengkan kepalanya sebentar,lalu ia membuka laci di bawah meja kerjanya,meraih ponselnya yg sengaja di getarkan saja setiap ia sedang bekerja,sambil sebelah tangannya beberes krna akan plng cpt,ia membulatkan matanya,pesan dari kak ben yg sjak tadi terabaikan,ada dua pesan darinya.
"aku sakit*".wajah wulan berubah memerah,ia menatap pintu kaca yg tadi menyambulkan wajah bos tengilnya,sekarang ia mengerti maksud memasak bubur itu apa,apa kak darwin mengganggu meeting temannya hanya karna dirinya sakit,dan ya tuhan..wulan menggeleng2kan kepalanya tak percaya kalau kak ben sangat kekanak2n seperti ini.kini wulan dengan merasa malu berpamitan dengan darwin dan aldo yg masih ada di dalam ruangan kerjanya,wajahnya menunduk meninggalkan kantornya,ia yakin pak aldo dan pak darwin sedang menertawakannya sekarang.
*****
"tteett...tteett..."!!" suara bel pintu di apartement ben berbunyi,laki2 itu melangkah ke arah pintu dengan secangkir besar teh hangat di tangannya,di layar kecil itu ia menatap siapa yg ada di luar sana,bibirnya tersungging senyum,ia merogoh kantong celananya mengeluarkan ponselnya,ada pesan masuk disana,dari darwin.
"ucapan terima kasih gue buat si pengkhianat,setelah ini jangan mengganggunya jika lagi kerja,gue butuh kecepatan dia mengoreksi dan merevisi berkas2."pesan darwin hanya di bacanya tanpa niat untuk di balas,lalu ben memencet tombol buka kunci di layar kecil itu,wulan masuk dengan buru2 melepas sepatunya dan berjalan cepat mencari sosok ben yg mungkin sedang kesakitan di sana,tapi ia malah di buat kaget oleh sesuatu yg menyentuh pinggangnya dan menariknya dengan cepat,ben langsung ******* bibir wulan yg berada di dekapannya,tubuh kcil wulan samapi terangkat dan di gendong ben menuju sofa, dengan mata yg masih membulat wulan sedikit mendorong tubuh ben agar melepaskannya,tapi cengkraman ben semakin kuat,membuat wulan pasrah dan menikmati saja ciuman2 lembut dari mulut ben,matanya perlahan terpejam,kini tangannya melingkar di leher kekasihnya itu,wulan membalas setiap ******* pada bibirnya seakan tak ingin mengalah melahap bibir ben yg terasa mint.
"apa kakak sakit?sepertinya kakak demam". tukas wulan saat ciuman itu di sudahinya dengan perlahan,tangannya menyentuh kening ben yg wajahnya masih berada sangat dekat tepat di hadapannya.
"hem,seharian ini aku pusing dan terasa agak menggigil."ben menjatuhkan kepalanya di perut wulan,mereka sudah duduk di sofa setengah tiduran.
"apa sudah minum obat?".
"hem".
hem itu artinya apa?sudah atau blm? gumam wulan
"ayo bangun,aku akan buatkan bubur untuk kaka,setelah itu kakak harus minum obat." wulan sudah ingin bangkit tapi ben menahannya,ia malah mengeratkan pelukannya di pinggang wulan,matanya terpejam tapi tidak tidur.
__ADS_1
"tidak usah,aku akan sembuh jika memelukmu seharian."
"tapi kakak demam,kakak harus...".
"jangan membantah,kau senang sekali ya membangkang."ben nampak kesal,wulan langsung terdiam,bibirnya sedikit mengerucut merasa sedang di omeli,padahakan seharusnya dia yg ngomel2 sama yg sakit tapi gak mau nurut.
"apa aldo dan darwin menyusahkanmu?". ucap ben tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya.
"tidak,itu sudah tanggung jawab pekerjaanku."
"apa kau marah padaku? aku sedikit merengek pada darwin tadi."
merengek dalam arti ben berbeda dengan merengek orang normal biasanya,wulan tau itu,bahkan mungkin sekarang mereka sedang di tertawakan bosnya itu.
"hanya sedikit kesal,jangan ulangi ya,aku malu jika bertemu pak darwin nanti."
"tidak usah malu,dia lebih parah dari pada aku setiap kali bersama dengan istrinya."
"nona malika? benarkah?".
"hem,kau akan tahu nanti."
"mereka terlihat sangat serasi."
wulan mengelus kepala ben di pangkuannya,lalu ben mendongak menatap wajah wulan yg sedang menatapnya,tanpa aba2 ben menyesap bibir wulan lagi,menciumnya dengan keras sampai wulan mengeluarkan erangan dari mulutnya.
"kita juga serasi."tukas ben,wulan menyentuh bibirnya yg pasti memerah,ia menepuk bahu ben pelan,merasa ben sedang merayunya berlebihan,entah kenapa dia selalu melihat sisi yg lain dari ben yg di kenal orang lain,untuk bisa bersamanya saja saat ini wulan sungguh tidak pecaya.
"kak,boleh tanya sesuatu?".
"hem?".
"sejak kapan kakak menyukaiku?".wulan menutup mulutnya sambil tersenyum tak percaya menanyakan hal yg membuatnya malu.
"siapa yg menyukaimu?".ben tersenyum menyembunyikan wajahnya di perut wulan, ia tidak mau wajahnya terlihat oleh wulan karena ketahuan memerah.
"kalau tidak suka kenapa....aaww,sakit kakak."wulan tidak sempat meneruskan kata2nya karena gigitan di perutnya membuat ia menatap punggung ben dengan bersungut2.
"aku tidak mudah menyampaikan perasaanku pada siapapun,dulu aku begitu keras pada diri sendiri,hanya padamu aku menunjukan sisi lain dari diriku,kalau kau terus membahasnya aku benci." ben berucap sambil mengusap2 perut wulan yg di gigitnya tadi.wulan tersenyum,merasa ben sangat menggemaskan di matanya.
"kenapa? malu ya? kak ben yg manly bisa se lucu ini di depanku." wulan terkekeh, wajah ben mendongak mendekatkannya ke wajah wulan yg masih menyisakan garis senyum di bibirnya.
"karena aku akan gugup dan aku tidak ingin menunjukannya pada siapapun,kecuali kamu." tatapan ben tegas,ia mendekatkan lagi bibirnya ke wajah wulan yg seperti tersihir oleh kata2 lelaki di hadapannya, seketika mereka kembali mencium satu sama lain,sama2 memahami perasaan yg mungkin masih terus membara,benar saja, ben yg demam jadi berkeringat karena terus menempel pada tubuh wulan,sepertinya obat sakit yg di derita ben hanya membutuhkan wulan di sisinya,sakit merindu😘
__ADS_1
bersambung.....