Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
mengunjungi ibu


__ADS_3

darwin sudah keluar dari ruangan ganti,rambutnya masih sedikit basah sedang ia keringkan dengan handuk kecil di tangannya,ia menghampiri malika yg sudah di tempat tidur bersandar dinbantal dengan kaki berselonjor di bawah selimut,tangan dan matanya sibuk memainkan ponsel sejak tadi.


"sedang apa ?".tukas darwin saat tubuhnya menempel di bahu istrinya.


"sayang,emm apa aku boleh menemui ibu?."tukas malika,matanya menatap darwin berharap.


"kapan?."


"apa itu artinya boleh?".


"aku tanya kapan? kenapa kau menjawabku dengan pertanyaan lagi." darwin menyentil hidung malika pelan,ada senyum manis di bibir istrinya.


"kalau besok bagaimana?".


"tidak bisa,aku ada pertemuan penting besok."


"tapi aku kan bisa pergi sendiri".


seketika malika tersadar oleh kata2nya sendiri,darwin sudah menatapnya sinis.


"apa kau mau aku mengikatmu dengan rantai di lehermu?."


"sayang...".malika mengusap pipi darwin dengan kedua telapak tangannya,ia tau darwin akan murka jika aturannya di bantah,meski sejauh ini ia hanya membolehkannya keluar apartement jika ia di dampingi oleh suaminya sendiri,dan darwin tidak main2 dengan aturannya itu.


"jangan membantahku,aku hanya ingin kau baik2 saja disampingku,jika kau bertemu kakak tirimu bagaimana?aku tidak ingin kau terluka sedikitpun." tangan itu di raih darwin, ia lalu menciumi tangan malika yg selalu nampak wangi seperti buah pir.


"baiklah,aku akan menunggumu saja." malika memilih tak ingin berdebat,ia lalu memeluk tubuh darwin yg membuatnya hangat.


"ayo kita temui ibumu lusa saja,besok aku harus membereskan beberapa hal di kantor."


"apa aku akan ikut lagi kekantormu?".


"kenapa?kau ingin ikut?".


"entahlah,rasanya jika sendirian akan terasa lama menunggumu di sini."


"di kantor pun kau akan sendirian,nanti kau lebih bosan."


"tidak,kan ada wulan,aku suka dengan wulan,dia bisa jadi teman mengobrol yg asik." malika sumringah mengingat lagi obrolannya dengan wulan yg tidak jauh menggosipkan suaminya sendiri.


"kalian bergosip ya?."darwin mencolek dagu istrinya,menatap curiga senyum yg mengembang di bibir malika.


"eh,tidak,kita hanya mengobrol remeh temeh tentang perempuan." malika berbohong jahil,darwin menggerakan tubuhnya semakin merapatkan badannya ke arah malika.


"besok nana akan datang menemanimu, mengobrollah dengannya dulu,dia akan banyak menjawab semua pertanyaanmu."

__ADS_1


"benarkah,apa dia akan menjawab juga kalau aku bertanya tentang masa pubermu?".malika terkekeh,darwin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


"aku tidak punya masa puber,aku puber hanya denganmu."


"ish..pembohong."malika memukul dada darwin pelan,selanjutnya kaki darwin sudah menindih kaki malika,seketika ia sudah memposisikan tubuh istrinya di bawah tubuhnya.


"ayo bermain semalaman,siapa suruh kau selalu menggodaku dengan kata2mu yg aneh2".


bagian mana yg aneh?aku kan hanya membahas kata puber,kau nya saja yg terlalu sensitif dan mudah terpancing. malika menutup wajahnya yg merona dengan selimut,tapi darwin menarik selimutnya dan menendangnya sampai jatuh kelantai,ia sudah mendaratkan bibirnya ke bibir malika yg tetgagap karna belum siap diserang secepat itu,namun selanjutnya yg terjadi adalah tangan darwin yg bermain meraba kemana2,menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya dengan lembut dan agresif,membuat malika mau tak mau suka tak suka mengikuti ritme permainan darwin yg entah sampai kapan akan berhenti,dan malam merangkak naik tanpa mereka sadari tengah malam telah terlewat begitu saja tanpa istirahat.


__________***


lusa yg di janjikan darwin akhirnya tiba,sedari pagi ia sudah antusias ingin secepatnya pergi menemui ibunya,ia membawa beberapa makanan yg ia buat sendiri untuk ibunya,sepagian ini darwin tak hentinya mendengarkan malika mengoceh tentang ibunya,seperti apa ibunya,bagaimana ibunya sangat menyayanginya dan masakan apa yg sering di masak ibunya sehingga menjadi kesukaannya.


"apa dia memperlakukanmu dengan baik selama ini?."darwin mencium tangan malika yg ia genggam sejak tadi dan sebelah tangannya lagi memegang kemudi,mereka sudah dijalan menuju rumah ibunya.


"tentu,ibu sangat baik padaku."malika tersenyum,ada kesedihan di matanya,mengingat kebaikan ibunya yg tak bisa bicara itu tak bisa di gambarkan oleh kata2,mungkin hanya malika yg mengerti cara ibunya menyayanginya.


"pastikan saja kita tidak bertemu kakakmu, aku tidak ingin membunuh siapapun di depanmu."


"sayang...".malika menepuk punggung tangan suaminya,menenangkan kebencian yg terpancar di mata laki2 kesayangannya itu.


"akan aku hancurkan siapapun yg melukaimu,aku bersumpah demi apapun, jadi jangan menghalangiku jika aku melihat dia,suruh saja dia bersiap untuk pesan2 terakhirnya."


mobil darwin di parkir di sisi jalan,karena rumah ibu malika berada di gang yg sempit hanya cukup satu motor saja,setelah meminta ijin pada seseorang yg sepertinya penjual toko di depan, darwin memberi 2 lembar uang 50 ribuan untuk menitipkan mobilnya,ia menenteng tas makanan yg tadi di bawa malika dan menggandeng tangan istrinya menyusuri jalanan sempit menuju rumah ibunya malika. apa setiap hari dia berjalan melewati gang kumuh seperti ini?


fikir darwin,membayangkan istrinya bolak balik menempuh perjalanan di gang sempit apalagi jika dia pulang malam,ah..darwin kesal sendiri memikirkannya.


malika menghentikan langkahnya tepat di sebuah rumah sederhana yg memiliki halaman kecil nampak terlihat sempit karna berdiri tiang jemuran yg terbuat dari bambu disana, mata malika menganak sungai,ia melihat tubuh kurus sang ibu yg tengah menjemur pakaian basah,rambutnya nampak memutih di bagian depan,pakaian lusuh yg ia kenakan menggambarkan kemiskinan yg tak jua pergi dari hidupnya,malika hampir meneteskan air matanya jika saja tangan darwin tidak menyadarkannya,jemari suaminya itu mengusap air mata yg hampir menetes di pipi istrinya.


"jangan menangis,kau akan malu nanti di depanku."tukas darwin berusaha membuat istrinya tersenyum."mendekatlah ke ibumu." darwin mendorong tubuh malika pelan,pelan2 juga malika melangkah menghampiri ibunya yg tak sadar ada seseorang yg tengah menatapnya sedih di balik lembaran2 baju yg bergantung di jemuran itu,lalu seketika malika memberanikan diri menyapa sang ibu yg hampir menyelesaikan aktifitas menjemurnya.


"ibu..".pelan namun cukup membuat ibunya mendengar kalau ada suara yg ia kenal memanggilnya ibu,wanita itu memajukan kepalanya,melihat di balik kain yg bergantung di hadapannya,putrinya tengah menatapnya dengan mata yg berkaca2,seketika tubuhnya menegang,ia buru2 mendekatkan tubuhnya kehadapan malika putrinya yg sudah beberapa lama ini tak di lihatnya.


"malika..!!!".panggil ibunya dengan bahasa isyarat tangan yg sudah malika hafal dan mengerti."kemana saja kamu selama ini". nampak ada butir2 air mata yg hampir jatuh di mata ibunya,ia terus memeluki anaknya meluapkan rindu selama ini.


"apa ibu baik2 saja?". malika membalas dengan bahasa isyarat yg sama.


"ibu baik2 saja,kamu kemana saja? arya bilang kamu pergi ke luar negri,ada apa? arya pasti menjualmu ya? ibu mohon maafkan ibu,malam itu madam helena datang bersama abangmu dan ibu memohon2 untuk mengembalikanmu tapi ibu tak berdaya karna kata abangmu kamu pergi atas kemauanmu sendiri,malika maafkan ibu tidak bisa menolongmu malam itu." air mata ibunya telah menderas,ia memegangi tangan malika dengan erat,dan malika membalas dengan sentuhan yg sama,mengutkan sang ibu dan mencoba memberi tahunya kalau ia tidak apa2 dan baik2 saja.


"ibu,lika baik2 saja."malika mengusap air matanya yg juga jatuh tak terbendung lagi, ibunya mengangguk,memperhatikan tubuh lika yg terlihat berbeda,lebih cantik,wajahnya kini berseri meski air mata tak menutupi kecantikan anaknya,baju lika juga terlihat rapih dan bersih,tidak lusuh seperti saat mereka tinggal bersama,ada kelegaan di hati ibunya memperkirakan kalau anaknya hidup dengan baik selama ini.


"pergilah, kau jangan masuk kedalam rumah,ada arya sedang tidur,jangan cemaskan ibu lagi,hiduplah dengan baik sekarang,ibu akan selalu menyayangimu nak,tapi jika di depan abangmu ibu tidak bisa melakukan itu,ibu harap kau mengerti posisi ibu,pergilah dan jangan datang lagi,ibu akan baik2 saja,dan satu lagi,berhentilah mengirimi ibu uang,pakailah untuk menghidupimu sendiri,ibu sudah cukup dengan penghasilan ibu menjual ikan di pasar,jangan kirimi arya uang lagi,sudah saatnya kau hidup mandiri,ibu mohon jangan datang lagi."


seketika badan malika lemas,kata2 ibunya sangat membuatnya sedih,meski benar adanya jika ia bukan putri kandungnya sekalipun,malika berharap sang ibu mau menerimanya dan hidup bahagia bersamanya,padahal malika sangat ingin membebaskan ibunya dari jeratan bang arya yang selama ini hanya meminta2 uang pada ibu,malika juga dengan jelas dapat melihat bekas2 luka di wajah ibunya,ia tau jika ia bertanya ibunya pasti akan menjawab kalau ia terjatuh atau terbentur sesuatu di pasar tmpatnya menjual ikan,malika sangat tau kelakuan bang arya yg jika dalam pengaruh alkohol ia akan memukul siapa saja yg menentangnya,tapi,ibunya tetap membela anaknya,ia tak mau kehilangan arya meski sering disakiti oleh anaknya itu,ia akan sedih jika arya samapi di penjara atau terluka,pernah suatu ketika arya masuk penjara karna hutang,ibu mati2an meminjam uang kesana kemari untuk menebUs bang arya dan melunasi hutangnya,malika sangat sedih namun juga kasihan dengan ibunya,tapi...biar bagimanapun ia tidak ingin memaksa jika memang pilihan ibunya adalah melepaskan malika dan bukan bang arya,karna malika tahu posisinya yg bukan anak kandung dari ibu.

__ADS_1


darwin yg sejak tadi diam beberapa langkah di belakang malika istrinya, menatap pembicaraan dua wanita yg tanpa suara itu,jujur ia tidak mengerti bahasa isyarat,tapi melihat wajah malika yg semakin sedih ia menerka2 pembicaraan itu bukanlah pembicaraan yg mengenakan,dan pada akhirnya ia melangkah mendekati istrinya dan merangkul malika menyentuh bahunya, nampak malika sedikit kaget melupakan kalau suaminya sejak tadi ada di belakangnya,sang ibu juga sedikit terperanjat menatap laki2 yg kini menyentuh malika tanpa malu dan takut, tatapan matanya menuntut penjelasan pada malika.


"hallo bu,saya darwin,menantu ibu,saya suaminya lika."tukas darwin,ia tau ibunya malika hanya tak bisa bicara bukannya tak bisa mendengar jadi pasti sang ibu bisa mengerti apa yg di ucapkannya,nampak malika mengenalkan kembali darwin pada ibunya malika dengan bahasa isyarat tangan.


"apa ibumu juga tak bisa mendengar?". tanya darwin akhirnya


"tidak sayang,terkadang ibu sedikit tak mendengar jika ucapannya terlalu cepat dan terdengar pelan."


ibu malika meraih tangan darwin,membuat darwin menatap focus kearahnya.


"kau suaminya?aku mohon perlakukan dia dengan baik,dia sudah banyak menderita semenjak tinggal bersamaku,aku mohon bawa dia pergi sejauh mungkin,lindungi dia dari apapun,beri dia makanan yg enak2, jangan sampai dia kelaparan lagi,jangn sampai dia bekerja keras lagi untuk kami,bahagiakan dia seumur hidupnya,aku mohon,dia sudah banyak menanggung penderitaan yg tak pantas dia dapatkan,malika sudah saat dia dia bahagia bersama orang yg di cintainya."


darwin menoleh pada malika yg terpaku menatap ibunya,dengan beruarai air mata malika menyeka pipinya dengan tangannya.


"ada apa? apa yg dia katakan,kenapa kau menangis."darwin mulai kesal dan panik


"tidak sayang,intinya ibu menyuruh kita segera pergi karna takut bang arya keburu pulang dan dia senang kalau ternyata aku sudah menikah dia memintamu untuk menjagaku."


"jangan berbohong,kenapa kau menangis?".


"itu karna aku sedih ibu menitipkanku padamu."


"kenapa sedih?memangnya kau mau dititipkan kesiapa lagi,tidak, sekarang ini kau milikku jadi bilang pada ibumu kalau dia atau abangmu yg kejam itu sudah tidak berhak atas tubuhmu atau apapun yg berhubungan denganmu,apa dia ada disini sekarang?". mata darwin mencari2 di sudut2 halam rumah,ia sudah mengepalkan tangannya saat melihat pintu rumah yg tertutup itu,malika sedikit panik,ia takut bang arya terbangun mendengar suara darwin,buru2 ia menyentuh lengan darwin, menggenggamnya erat.


"sayang,sudahlah,bang arya tidak ada, ayo kita pamit saja dengan ibu."


"kenapa?bahkan kita saja belum masuk kedalam rumahmu untuk sekedar minum."


bahaya kalau darwin sampai memaksa masuk,malika harus merayunya agar ia dan bang arya jangan sampai bertemu wajah,bisa kalang kabut darwin di buatnya.


"tidak sayang ayo kita pulang saja,kasihan ibu juga,aku mohon,jika bang arya tahu kita disini,bukan aku atau kau yg akan kena amukannya,tapi ibu."malika sudah menarik2 lengan darwin,meski begitu darwin tak sedikitpun bergeser dari tempatnya.


"apa?memangnya sekejam apa abangmu itu sampai2 ibunya pun kena amukannya, sepertinya aku memang harus bertemu dengannya untuk mematahkan tangan dan kakinya."darwin semakin marah,terlihat wajah sang ibu berkernyit2 tak mengerti namun ia paham situasinya akan merugikan malika nanti,lihat saja wajah malika yg sudah pias karena panik itu.


"pergilah lika,bawa pergi suamimu,nanti arya kebangun,ibu tidak ingin kalian terluka."tukasan sang ibu membuat malika menatap ibunya lekat dengan kesedihan,sebenarnya malika ingin membiarkan abangnya terbangun dan di hajar habis2an oleh darwin,tapi ia tau ibunya akan sedih dan membencinya nanti, untuk itu malika harus mengalah,ia harus membujuk darwin.


"sayang,ayo kita pergi,dan berikan makanannya pada ibu."malika meraih tas tenteng yg di tangan darwin sejak tadi,ia menyerahkan makanan buatannya sendiri untuk ibunya,ia mengisyaratkan agar ibu mau memakannya,setelah itu malika berpamitan dan menarik lengan darwin yg masih menahan kesal pada tatapan ibunya.


"aku tidak akan membiarkanmu datang lagi kesini."tukas darwin,ia menggandeng tangan malika erat,menyeretnya dengan langkah lebar dengan hentakan kaki yg keras menahan kesal.malika di sampingnya yg berwajah pias dan sedih hanya menunduk tak berani membantah.


**bersambung.....


epilog**


arya terbangun dari tidurnya,ia meneggak segelas air dan berjalan hendak keruang depan untuk melihat ibunya,tapi langkahnya terhenti saat melihat malika sedang berdiri disana bersama ibunya,dari balik jendela kaca rumahnya,ia juga mendengar kalau laki2 yg kini merangkul lika adalah suaminya,ia hampir tersedak saat mengingat lagi siapa laki2 itu,benar...dia adalah cucu satu2nya tuan darius pemilik beberapa pab malam di kota ini,dan beberapa bisnis berskala saham besar di bidang pengembangan arsitek pembangunan kota,ia benar2 tak menyangka malika bisa bersuamikan orang seperti cucuk pewaris tunggal itu,karna sedikit banyak arya tahu bagaimana darwin prasetya di dunia pab malam.

__ADS_1


__ADS_2