Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
teman


__ADS_3

darwin menggandeng tangan istrinya dengan erat,sejak keluar dari parkiran sampai mereka memasuki lobi perkantoran tempat dimana semua karyawan berlalu lalang disini ia tak melepas genggaman tangannya,malika sampai menundukan kepalanya karna semua mata menatap kearahnya,soal ia yg menjadi pusat perhatian benar2 malika tak menyukainya, tapi mungkin darwin lupa akan hal itu,seolah2 ia malah sedang pamer pada semua orang yg menatapnya.


"kenapa kita kesini?". malika


"aku akan menunjukan kantorku". darwin tersenyum hangat.


lif yg tadi mereka naiki telah terbuka,tepat di lantai pling atas kantor darwin berada,di ujung lorong itu telah ada wulan sekertarisnya yg tengah berdiri di balik meja kerjanya untuk menyambut bossnya datang,setelah mereka bersitatap dekat,wulan membungkuk sedikit memberi salam.


"selamat siang pak".sapa wulan dengan sangat sopan,sedangkan darwin hanya mengangguk,malika yg tersenyum membalas sapaan wulan.


wah,dia cantik sekali


gumam wulan dalam hati,saat ekor matanya menatap malika dengan dress merah motif bunga2 yg panjangnya hanya beberapa senti di atas lututnya.


"apa dia sekertarismu?". tukas malika saat mereka sudah di dalam ruangan kantor milik darwin,warna hitam putih mendominasi ruangan besar itu.


"hem,kenapa?." darwin memeluk tubuh mungil istrinya dengan melingkarkan lengannya pada pinggang kecil malika.


"dia cantik sekali." telapak tangan malika meraba dada suaminya yg terlihat lebar di tatap dari dekat.


"memang kenapa kalau dia cantik? bagiku kamu paling cantik disini."darwin mengecup bibir malika,wajah istrinya kini bersemu merah,malika memukul pelan dada darwin.


"nanti sekertarismu lihat."malika membulatkan matanya,darwin tersenyum gemas,ia melepas pelukannya dan menuntun malika untuk duduk di sofa yg ada di ruangannya.


"aku akan meeting sebentar di ruangan sebelah,kau tunggulah disini,kita akan makan siang bersama."


malika mengangguk,ia terkekeh kecil saat melihat suaminya merapihkan dasinya sendiri,teringat lagi debat di dalam kamar tadi karena malika tak bisa memakaikan dasi,darwin menyipitkan matanya melihat ia di tertawakan istrinya karna menarik dasinya sendiri,gemas melihat senyum malika,seketika ia menyambar bibir istrinya kembali mengecupnya dengan cepat,malika yg terkaget2 sudah ingin mencubit pipi darwin namun laki2 itu segera menarik wajahnya kembali.


"belajarlah membuat simpul dasi,supaya aku bisa menciummu setiap kali kau melakukannya untukku." ucap darwin lembut,wajah istrinya kembali merona,malika menahan panas di wajahnya,ia mengutuki dirinya sendiri karna setua ini tak bisa menahan malu didepan suaminya sendiri.


"pergilah,jangan sampai mereka menunggumu." usir halus malika,padahal ia masih menahan malu yg bergetar di dadanya.


"hem,jika perlu sesuatu panggil saja wulan,aku akan menyuruhnya menemanimu sampai aku selesai."


lagi2 malika mengangguk,ia melambaikan tangan mengantar darwin pergi dan hilang di balik pintu,setelah merasakan ruangan yg begtu hening malika berjalan2 menyusuri setiap sudut kantor suaminya,seleranya benar2 bagus,tepat di belakang kursi kerja darwin terdapat jendela kaca besar yg memperlihatkan pemandangan gedung2 tinggi di luar sana,malika berdiri di sana agak lama,menatap langit yg terlihat gersang karna panas yg menyengat,ia melamun,membayangkan betapa serakahnya dirinya yg bukan apa2 ini berdampingan dengan darwin yg baginya melebihi standar laki2 yg di cintainya dulu, benar,dulu standarnya hanyalah sekelas wirausaha kecil saja,atau sekedar pekerja kantoran biasa,bahkan dulu ia bermimpi ingin punya suami guru,baginya kalangan PNS sudah sangat mewah jika ia bisa mendapatkannya.


apa tidak apa2 jika hidupku seperti ini?apa aku berhak mendapatkan ini semua?apa aku pantas untuk mendampinginya?. malika masih sibuk dengan fikirannya dan pertanyaan2 dalam benaknya hingga seketika kaget pintu kaca itu di ketuk.

__ADS_1


tuk..tuk..tuk...


"maaf nona saya mengantarkan minuman untuk anda." wulan masuk dengan nampan berisi segelas jus jeruk yg sangat menggoda untuk tenggorokan malika yg sejak tadi terasa kering, malika menghampiri wulan yg meletakkan jus itu di atas meja sofa yg tadi di duduki malika.


"apa kau sedang sibuk?".tanya malika


"tidak nona,saya hanya di perintahkan pak darwin untuk melayani nona jika nona perlu sesuatu."jawab wulan masih dengan tindukan kepalanya yg sangat sopan.


"duduklah,temani aku mengobrol,dan tolong jangan panggil aku nona panggil saja aku lika."malika tersenyim sambil mengambil jus jeruk yg menggodanya tadi.


"tidak nona,nonakan istri atasan saya." wulan ikut duduk di sofa seberang malika sambil memangku nampan yg tadi di tangannya.


"eii...tidak apa2,pak darwinkan sedang tidak ada,jadi panggil saja aku dengan santai."


"kalau begitu saya akan panggil nona dengan nama nona jika di luar kantor saja."


"ishh kau ini keras kepala sekali wulan,baiklah,ayo kita saling sapa jika bertemu di luar kantor." malika meneguk gelas jussnya lagi,sepertinya ia benar2 haus sedari tadi,ia tersenyum setelah meletakkan gelas jussnya kembali,kini ia menatap wulan yg duduk di hadapannya.


"wulan sudah lama bekerja disini?".


lanjut malika dengan pertanyaannya untuk memulai obrolan.


"apa wulan mengikuti perkembangan perusahaan ini?suamiku bilang dia bru 2 tahun membangun bisnisnya sendiri."


"benar nona,sebelum disini saya menempati kantor di ruko 2 lantai,tuan darwin tidak ingin pindah sebelum gedung ini beres di renofasi dan di lunasi."


"apa sangat sulit bekerja dengan dia? bukankah dulu dia terlihat arogan dan dingin".


"tidak nona,tuan darwin sangat pekerja keras."


"eeiiyy..kau memujinya karna sedang bicara padakukan?tenanglah,dia memang sedingin itu sejak bertemu denganku juga."


"saya berkata benar nona,tuan darwin penya karisma tersendiri di mata pegawainya."


malika menyipitka tatapannya,menatap wulan denga perasaan curiga karna dia sepertinya sangat memuja darwin di setiap kata2nya sejak tadi,getar cemburu sedikit mengusik malika yg mulai tak nyaman dengan wulan.


"kenapa wulan memilih bekerja di sini,kan banyak perusahaan benevit lainnya yg sudah punya nama besar di luaran sana aku yakin wulan mampu mendapatkannya."

__ADS_1


kali ini malika menyesap jussnya sedikit2, wulan yg tahu aura obrolan mereka mulai berbeda,menangkap ada rona cemburu dinwajah malika,wulan tersenyum sedikit dalam hati ingin menjahili nona bossnya yang terlihat polos ini,benar2 menggemaskan,fikir wulan.


"jujur saja nona,saya tipe orang yg senang bermain feeling,waktu melamar di web perusahaan ini saya berfikir aahh,saya yakin perusahaan ini akan menjadi besar suatu hari nanti,dan saya harus berada di dalamnya untuk menikmati prosesnya,makanya saya tidak melihat berapa besar gaji yg ditawarkan dulu,saya juga melihat profil tuan darwin sebagai boss besar perusahaan ini,dan mohon maaf, tuan darwinlah yg membuat saya mantap bekerja disini."


"kenapa?". cepat malika bertanya,rasanya dadanya semakin menggebu2 melihat wulan dengan senyum malu2.


"karena saya bakal punya boss tampan, bukankah keren jika boss kita di kantor terlihat tampan dan bertalenta seperti pak darwin."


"apa kau menyukai darwin sampai sekarang?". kata2 malika membuat wulan akhirnya tertawa geli melihat malika bertanya dengan wajah takut dan sedikit kesal menatapnya,tersadar malika dengan sikapnya ia memundurkan badannya yg tadi sudah maju2 hampir memlototi wulan.


"siapa yg tak menyukai pak darwin nona, dia dambaan setiap kaum hawa,dari fisik saja sudah sangat menggoda,apa lagi jika tau kalau beliau orang yg ulet dan bertalenta,makanya...selamat nona,anda menjadi wanita seutuhnya yg bisa berdampingan dengannya." wulan mulai menyudahi memanas2i nona besarnya,malika yg tak enak dengan tatapan wulan kini menyentuh punggung tangan wulan menepuknya lembut.


"apa aku mengecewakanmu?maaf..karna aku mengambil boss mu lebih dulu." malika terkekeh kecil,wulan ikut berseri sambil menggeleng sopan.


"tidak apa2 nona,saya hanya mengagumi tuan darwin sebatas dia atasan saya,selebihnya saya juga punya selera saya sendiri." wulan nampak malu2,sebentar ia menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya yg memerah takut di lihat malika,tapi malika tersadar sesama perempuan ia mengerti sekali sikap wulan yg dulu juga pernah ia rasakan.


"ckckck,lihat telingamu memerah begitu, wulan suka tipe seperti pak darwin ya?".


goda malika


"bukan nona,eumm..tipe saya sepertinya sedikit ekstrim,karna jauh dari tuan darwin sama sekali." wulan melirik ke atas seperti memikirkan seseorang,lalu sekelebat wajah jutek dan jahat muncul di kepalanya.


malika sangat senang ketika tahu type wulan bukanlah seperti suaminya,karna kalau tidak,mungkin malika akan selalu ikut darwin untuk pergi kekantornya,dia tidak ingin wulan menikmati wajah suaminya dengan berandai2 kalau samapi ia bisa merebut darwin darinya.tapi yg lebih membuat malika senang lagi adalah karakter wulan yg ternyata bukan wanita yg sok jual mahal atau sungkan mengatakan isi hatinya,nampaknya ia gadis yg ceria dan selalu blak2kan jika mengenai soal perasaannya,maka dari itu ia senang mengenal wulan yg ternyata mudah di ajak bergaul olehnya.


"wulan,ayo jadi temanku,jangan ada canggung di antara kita,sapa aku dengan santai jika kita bertemu di luar kantormu,ok?." malika mempererat genggaman tangannya,iapun melihat wajah wulan lekat2,yg di tatap hanya manggut2 dan tersenyum saja melihat tingkah nonanya satu ini.


bersambung....


"sayang,apa bisnisnya berjalan lancar?". tukas malika saat mereka sudah di dalam mobil


"hem,sejauh ini lumayan."darwin mengemudi dengan sebelah tangan,karna tangan yg sebelah lagi di gunakannya untuk menggenggam jemari malika seperti tadi.


"tapi kenapa wajahmu seperti kesal sejak keluar meeting tadi."


darwin menghela,ternyata ia tidak bisa menyembunyikan raut tidak enaknya sejak tadi di hadapan malika,sia2 aktingnya untuk tetap seperti biasa.


"tidak apa2,aku hanya lelah."ucapnya berbohong,dan malika tau itu,tiba2 ia merasa darwin memberinya jarak yg cukup jauh,seakan ia dilarang masuk ke dunianya yg dalam dan gelap,masih ada sepi dan getir di hati darwin,ruang yg ia sembunyikan untuk menyimpan dendamnya dan juga mengumpulkan rencana menghancurkannya,malika tidak tau,sebesar apa cinta darwin padanya,jika untuk perasaan resahnya saja tak ingin ia bagi dengannya,malika nampak sedih tapi tak ia tunjukan,hanya menggenggam jemari darwin erat seperti yg darwin lakukan saat ini.

__ADS_1


jauh di kepala darwin,kata2 aldo di dalam meeting tadi membangkitkan kekesalannya,mengetahui ada beberapa saham hitam kakeknya yg masuk di jurnal bisnisnya.ia mencengkram kuat kemudinya, ben yg memberitahunya demi persahabatan mereka selama ini


"jika ingin benar2 lepas dari kakek loe, mungkin loe harus siap2 kehilangan separuh saham loe,dan kita kembali ke awal lagi win,loe yakin mau melepas separuh sahamnya?." aldo menatap sahabatnya yg sudah menahan kesal, ia tau,darwin mungkin tak akan pernah bisa lepas dari jerat kakeknya yg ia benci seumur hidupnya.


__ADS_2