Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
pertemuan terakhir


__ADS_3

sebuah mobil melaju ke sebuah rumah yg letaknya jauh dari padat penduduk, sepanjang perjalanan malika terus menggenggam tangan darwin yg tak hentinya menunjukan wajah tak senangnya,meski begitu ia tetap mengantar istrinya ketempat dimana ben yg kini menyetir untuknya karna dia yg tau lokasinya,di tambah lagi karna titah dari kakeknya.


mungkin sekitar 2 jam perjalanan mereka bisa sampai ketempat yg di tuju,sebuah vila mewah bernuansa serba putih di antara rimbunnya pohon besar yg mengelilingi setiap sudut halaman vila besar nan megah itu,udara sejuk menyeruak saat malika dan darwin keluar pintu mobilnya,ben melangkah menunjukan jalan,mereka tidak masuk kedalam vila itu,langkah ben membawa mereka ke pintu kayu yg kusam berada tak jauh dari sebelah dinding vila bagian kanan, sepertinya ada ruangan tersembunyi disana.


dan benar saja,malika dan darwin seperti melangkah ke ruang bawah tanah, ada ruangan kecil dengan jeruji besi yg menjulang besar menjadi pembatas antara mereka yg di luar dan di dalam, malika sempat mencengkram lengan suaminya karna takut, ruangan ini begitu sesak dan panas,pencahayaan hanya pada ruangan yg terdapat di dalam jeruji besi itu.


langkah ben berhenti,di ikuti darwin dan malika,di hadapan mereka kini terpampang sesosok pria lusuh,kumuh dan pucat pasi, duduk di kursi kayu yg hanya ada satu di dalam sana. Hati malika mencelos,ia menatap penuh pilu pada arya yg wajahnya drastis tirus kering di bibirnya dan gemetar di sekujur tubuhnya,seketika,air mata malika tumpah dengan sendirinya.


"bang arya." bergetar malika memanggil, ia sudah ingin melangkah mendekat ke batang2 jeruji besi yg menjadi pembatasnya itu,tapi ben menahannya dengan hanya mengangkat tangannya.


"tidak di bolehkan mendekat nona,dia tetap mendengar anda dari sini."


"apa yg kamu lakukan pada bang arya?." pertanyaan malika disertai tangis yg pilu.


"saya tidak melakukan apa2 nona,ketua hanya menyuruh penjaga memberi makannya 2 hari sekali."


"ya tuhan bang arya." malika memeluk lengan darwin erat.


"jangan menangisinya." suara dingin dari darwin menyadarkan malika,ia tatap wajah suaminya mengeras dan hanya terfokus menatap sosok bang arya yg terduduk lemas disana.


"sayang..".


remasan di jemari malika membuat tatapan darwin beralih pada wajah istrinya,namun segaris senyum smirk,senyum jahat yg lama tak ia lihat tergambar sempurna disana, membuat malika semakin khawatir.


"aku hanya berjanji menahan diri jika dia bisa menjaga mulut dan tangannya yg sudah dia pakai untuk memukulmu,tapi jika kau merespon berlebihan padanya aku tidak menjanjikan apa2,sekarang juga aku bisa meremukkan semua tulang dalam dagingnya."


"tidak,aku mohon maafkan aku." malika menghapus air matanya,ia memohon dengan tatapan yg selalu darwin benci.

__ADS_1


"pergilah bicara padanya." tukas darwin ia menatap ben,memberi perintah pada matanya agar mengizinkan malika masuk menemui pria yg sudah tak berdaya itu. ben yg sudah mengerti isyarat perintah itu langsung membuka pintu besi yg berdecit sangat keras,membuat arya mengangkat kepalanya yg berat saat ini.


"bang arya."


lirih malika saat sudah mendekat berada di dalam bersama laki2 yg pernah menyakiti hati dan tubuhnya itu.


"kau datang untuk menertawakanku?." senyum sinis di bibir bergetar arya membuat malika sedikit menjaga jarak dengannya.


"bagai mana mungkin aku melakukan itu, jika begitu aku sama kejamnya dengan dirimu."


"heuh,apa kau merasa hebat sekarang?."


"berhentilah berulah,berhenti minum juga,aku mohon jaga ibu dengan baik."


"dia ibuku,kau tidak usah mengajariku."


"apa kau menyepakatinya? akhirnya melepaskan ibu."


malika menahan sesak didadanya,ia menyentuh dadanya sendiri dengan kedua tangannya.


"aku menyayangi ibu bang,aku mohon jaga dia dengan baik."


arya menangkap butir bening jatuh disudut mata malika,ia kembali tersenyum sinis dan kesal,ia tau saat2 seperti ini akan datang,tapi ia tak tau kalau malika malah menemuinya untuk perpisahan terakhir,padahal ia berencana pergi jauh dengan sang ibu jika memang ia lepas dari siksaan ini.


"akan kupastikan kau tidak akan pernah bertemu kami lagi,jadi pergi dan bilang pada kakek tua itu untuk melepaskanku dari neraka ini."


"neraka katamu? bukankah tempat seperti ini yg kau mau?baru segini saja kau sudah bilang ini neraka? heuh." suara di balik punggung malika mengagetkan malika dan arya yg langsung menatap darwin berdiri tegak disana menatapnya lurus,malika menghampiri darwin bersiaga kalau2 suaminya tak bisa menahan diri.

__ADS_1


"sayang...".


"kau lupa apa yg selalu kau lakukan pada lika? binatang sepertimu harusnya hidup lebih kotor dari tempat ini,kau bahkan tidak merasa bersalah atas segala perbuatanmu." darwin semakin mendekati arya yg masih terduduk lemah.


"heuh." arya tersenyum sinis


"dia menumpang di tempat ibuku,bukankah sudah seharusnya dia berterima kasih dengan menuruti semua perintahku,hidupnya sudah malang sejak dulu jadi untuk apa pura2 bersedih dan tertindas,padahal dia juga menikmatinya."


kata2 arya menyulut api yg membara dalam tubuh darwin yg memang sudah menyala sejak tadi,arya seolah menyiramnya dengan bensin hingga membuat kobaran besar pada mata pembunuh milik darwin.


greb, seketika darwin meraih kerah baju arya yg tentu saja tak akan sanggup memberontak dengan sisa tenaganya yg tidak sebanding dengan tubuh tegab milik darwin.


"akan aku robek mulut kotormu sekali lagi kau menghina istriku,kau ******** pengecut yg memanfaatkan keadaannya."


"bukankah kau juga menyukainya,dia menggoda setiap laki2 yg datang padanya, bagaimana memilikinya? setelah bosan, bukankah kakekmu juga akan membuangnya, kau tidak akan bisa berbuat apa2,kau tidak ada apa2nya tanpa kakekmu."


bugh,tinju itu melayang pada wajah arya yg langsung jatuh tersungkur,malika menarik lengan darwin yg bisa membunuh bang arya kapan saja,matanya berkaca2 menahan perih di hatinya.


"sudah hentikan." malika menangis,ia melirik ben di luar sana yg hanya melihat sejak tadi,nampaknya ia tak berniat ikut campur atau sekedar melerai perkelahian itu.


"pergi sejauh mungkin,atau kau akan sendirian menjadi mayat terpotong2 tanpa bisa melihat ibumu lagi."


itu ancaman,bukan dari darwin,tapi dari mulut malika yg bergetar menahan tangis saat mengatakannya,tinju darwin masih tertahan di udara,ia melirik istrinya yg menangis tapi dengan ekspreai dingin menatap arya di sana.


selanjutnya ia melangkah pergi meninggalkan arya,ia tahu itu artinya ia juga meninggalkan ibunya,kini,malika berjalan tanpa menoleh,di fikirannya berputar kembali saat2 ia hidup dengan ibu tirinya itu, perlakuan kecil yg membuat hatinya hangat dan dapat bertahan meski bang arya selalu menekannya dengan perlakuan kasarnya,meski begitu ia tau,bang arya akan menjaga ibunya.


*selamat tinggal, ibu

__ADS_1


**bersambung***.....


__ADS_2