
tidak ada hal yang sangat menyakitkan saat perpisahan mengakhiri semua cerita dalam perjalanan hidup, malika terus meratapi perpisahan itu,ia mendapat salam terakhir dari ibunya,bang arya telah membawanya pergi entah kemana,tapi sekertaris ben bilang kakek sudah sangat mencukupi apa yg harus di bawa oleh kedua orang itu.
kini,malika hanya sendiri,tak ada lagi tempatnya bisa lari jika kakek benar2 memisahkan darwin darinya,entah ia harus berharap apa,haruskah ia gembira saat waktunya tiba nanti,saat tespek di tangannya nanti menunjukan dua garis yg di idam2kan para istri normal lainnya.
"nona,apa yg sedang nona fikirkan?".
suara nana yg baru beres di dapurnya menghampiri malika yg sedang duduk di balkon, melamun dengan fikiran yg bercabang2 tentang nasibnya kelak.
"nana,apa darwin akan baik2 saja jika tanpa aku nanti ya?."
ucapan malika membuat nana terkejut,ia berkernyit menatap wajah cantik berkulit putih kemerahan di pipi itu.
"memang nona mau kemana?,saya selalu bilang ke nona untuk menjaga tuan muda, kenapa nona malah ingin pergi meninggalkannya sepertinya."
"nana,aku hanya berfikir mungkin ada saatnya aku akan pergi meninggalkan darwin,jika itu benar terjadi maukah nana menjaga darwin untukku?."
nana meraih tangan malika yg sepertinya berkeringat menahan emosi di dadanya,wajah sedihnya nampak sangat jelas,nana tau,ada yg tidak beres dengan malika dan tuannya si kakek keras kepala itu.
"katakan nona,tuan darius bilang apa? apa dia mengancam nona?."
"tidak nana,aku hanya...
"nona dengarkan saya,jika si kakek tua itu melakukan kekerasan psikis terhadap nona dengan cara mengancam atau apapun itu, beri tahu saya, jangan diam saja dan menurut, anda bukan lagi haknya, tapi anda milik tuan muda sekarang,jangan dengarkan apapun,biar saya yg akan bicara dan memarahi orang tua itu."
malika menatap nana yg bicara dengan berapi2,ia tersenyum melihat ekspresi wajah nana dengan kerutan garis tua disana, nana nampak lucu jika sedang merajuk.
"apa nana sedekat itu dengan kakek?."
"kami muda dan tumbuh bersama."
"pasti nana sangat mengenal kakek."
__ADS_1
"benar nona,makanya saya akan melakukan apapun untuk kedua orang itu,tuan muda dan ketua harus di satukan."
"apa darwin mengetahui semua cerita yg sebenarnya? tentang hidupnya di masa2 sulit, rasanya aneh kalau tiba2 kakek menolaknya hanya karna mata darwin yg mirip dengan ibunya,biar bagaimanapun darwin adalah keturunan dari darahnya."
sepenggal kisah yg tak bisa nana ceritakan dengan siapapun terlintas di memori kepalanya,ia hanya tersenyum pada malika yg kini menatapnya hangat.
"nona cukup berada di sisi tuan saja,berbahagialah bersamanya."
*****
malam sudah menunjukan jam 10 malam,malika masih bolak balik di ruang tv,menunggu suaminya yg juga belum pulang, darwin hanya memberi kabar akan pulang telat,lalu sudah berkali2 malika menelfonnya tapi nomor suaminya tidak aktif dari sejam yg lalu.
ia mulai gelisah,entah kenapa malam ini terasa sunyi sekali baginya,tv yg menyalapun tak bisa menghibur ataupun mengalihkan fikirannya dari darwin,dan air mata mulai menetes di sudut2 mata malika,ia benar2 merindukan suaminya,sampai lelah berdiri dan berjalan mondar mandir malika akhirnya terduduk di sofa,menaikkan kedua kakinya dan mendekapnya dengan lingkaran kedua tangannya,ia menyembunyikan wajahnya di sana,malika mulai terisak mengeluarkan tangisnya yg pecah.
tut..tut..tut.. suara kunci digital di tekan dari luar,malika mengangkat kepalanya dan berlari ke arah pintu,saat sosok yg di harapkannya menyambul dengan senyuman hangat di sana,malika menghambur menubrukkan tubuhnya pada darwin,memeluknya erat dengan melingkarkan lengannya di leher,darwin yg gelagapan menahan tubuhnya agar tak jatuh karna malika melompat kearahnya dengan tiba2.
" sayang...kau menangis?." darwin menggendong malika sampai ke sofa,tangannya membelai rambut istrinya yg masih menyembunyikan wajahnya di belakang punggungnya,isakan kecil yg keluar dari mulut istrinya membuat darwin bertanya2 kenapa malika menangis sesedih ini?.
wajah yg bersembunyi itu kini bergerak perlahan memperlihatkan raut sedih dengan sisa2 basah air mata,rambutnya berantakan hingga menutupi sebagian wajahnya,darwin merapikannya dan menyelipkannya ke balik telinga yg putih kini memerah itu.
"kau kemana saja? aku menghubungimu sejak tadi tapi tidak bisa."
malika sesunggukan sambil mengelap air matanya di pipi dengan jari2nya,darwin tersenyum gemas melihat istrinya yg sedang merajuk.
"kau menangis karna mengkhawatirkanku? aku kan sudah bilang akan pulang terlambat, hp ku mati karna belum mengisi daya,maafkan aku."
"memangnya kau darimana? apa kau sudah makan malam?."
"ada meeting,aku harus ke lokasi pembangunan investor juga,aku sudah makan, kau bagaimana? tidak melewatkan makankan?."
darwin terus mengusap2 pipi istrinya,saat ia tak mendapatkan jawaban ia menoleh untuk melihat meja makan yg ternyata masih berisi makanan yg belum di sentuh,wajahnya kembali menatap malika dengan khawatir.
__ADS_1
"kau belum makan? ada apa?kenapa tidak makan?aku bilang jangan menungguku,ayo bangun,kau harus makan."
"tidak,aku tidak ingin makan,aku sudah tidak lapar."
malika kembali memeluk darwin dengan erat, darwin berkernyit bingung,kenapa malam ini istrinya sangat manja dan menggemaskan sekali.
"nanti kau bisa sakit."
"tidak,aku tidak akan sakit jika hanya tidak makan malam saja,aku akan sakit kalau kau yg pergi tidak memberi kabar."
"hey,siapa yg mau pergi,akukan cuma kerja,aku juga sudah menelfonmu sebelumnya memberi kabar."
"sudah aku tidak ingin berdebat,aku akan tidur di kamar nana."
malika sudah ingin bangkit dari pangkuan suaminya,kesal karna rajukannya dibantah,tapi darwin meremas bokongnya dan menahan tubuhnya dengan kuat.
"enak saja kau ya, setelah bersikap menggemaskan begini aku disuruh tidur sendiri,kau harus bertanggung jawab sudah membuatnya tegang."
sebuah ciuman panjang mendarat di bibir malika,darwin tidak melepaskannya sampai istrinya kehabisan nafas.
ia menggendong tubuh malika yg masih menempel di perutnya dan kakinya yg kini melingkar di pinggangnya,dengan masih terus mencium mesra bibir istrinya,mereka masuk kedalam kamar,melakukan pekerjaan yg akan menguras tenaga hingga pagi buta menjelang nanti.
*****
malika terpaku di depan cermin kamar mandi,ia menatap wajahnya sendiri yg pucat pasi sejak masuk kekamar mandi,lalu tubuhnya lemas seketika,ia brrfikir keras,ia harus melakukan sesuatu sebelum yg tidak di inginkannya terjadi, seketika ia meraih ponselnya yg berada di pinggiran westafel,mencari sebuah nama di layar ponselnya,dengan gemetar ia menghubungi nomor itu,air mata di sudut matanya mengalir tanpa terasa, klik, suara sambungan terangkat di seberang sana,malika tak bisa menahan tangisnya lagi.
"nana,tolong aku."
ia menangis tapi sekuat tenaga menahan suaranya takut terdengar darwin yg masih terlelap di kasurnya,tubuhnya sudah merosot ke lantai,suara nana yg terdengar khawatir di seberang sana seperti tak mampu menyadarkannya,malika mengangkat lagi satu tangannya yg sejak tadi memegang benda kecil sedikit panjang menunjukan garis dua berwarna merah,dunianya baru saja terasa berwarna,tapi saat ia sadar akan meninggalkan darwin,dunianya kembali runtuh.
bersambung.....
__ADS_1