
pagi di kantor yang terasa sepi,wulan merapihkan meja kerja milik boss nya yang bernama darwin dengan sangat cekatan,setelah selesai ia akan memakan sarapannya yg ia bawa dari rumah tadi, sudah terbiasa dengan suasana kantor yg sepi,karna wulan tau bosnya akan datang saat matahari hampir meninggi,kecuali kalau ada meeting dengan klient,tapi kali ini ia hampir tersedak makanannya sendiri saat aldo datang bersama seseorang yg baginya tidak asing di matanya.
"pagi wulan,waahhh lagi sarapan ya?bawa bekal sendiri? ternyata wulan pinter masak ya."sapaan aldo hanya di tanggapi dengan anggukan kepala wulan,tapi mata wulan tak lepas dari sosok yg berada di balik punggung aldo,kini saat sosok itu sangat dekat oleh pandangannya,wulan membatu di tempatnya,benar, ia sangat kenal dengan sosok tubuh tegap tinggi itu.
"wulan kenal sama ben?."aldo yg cepat tanggap melihat pandangan berbeda dari mata wulan bertanya langsung tanpa tedeng aling2.
"apa? emmm...itu". wulan melirik ben yg tadi sibuk melihat hp di tangannya kini menatapnya tanpa ekspresi,seketika wulan menundukan pandangannya,aldo tersenyum seperti habis menemukan rahasia dalam kotak pandora milik ben.
"ben emng begitu,wajahnya jarang tersenyum jadi agak kaku sedikit klo ngeliatin orang kayak ngajakin berantem."
aldo terkekeh,wulan semakin kikuk.
"kalo loe masih mau ngobrol biar gue yg masuk duluan,sejam lagi ketua harus gue dampingi buat pertemuan bisnis." ben meraih gagang pintu berkaca transparant itu,ekor mata wulan mengikuti punggung yg masih ia bisa lihat meski sudah ada di dalam sana.
"habiskan sarapannya wulan,oh iya gak usah bikin minum,kita gak bakal lama disini."aldo menegurnya sambil terus berjalan memasuki ruangan,seketika ia melihat ben menoleh padanya,wulan yg salting langsung membuang pandangannya ke segala arah,dan terdengar bunyi "krek" penutup pintu kaca sudah rapat menutup disana,wulan menghela sesal.
"dasar es batu".gumamnya sambil merapihkan kotak makanannya di meja,ia sudah tak berselera,kini ia hanya duduk memandangi meja kerjanya dengan fikiran kosong, seketika memory otaknya memutar kembali ke masa lalu, masa dimana jatuh cinta sangat menggebu2 di usianya kala itu.
------------- ***
Benjamin smith,siapa yg tidak kenal dengan kakak senior satu itu,ia terkenal bukan karna punya nilai tinggi di kampusnya,melainkan kebrutalannya sebagai salah satu anggota preman kampus di tempatnya menuntut ilmu,dan sialnya entah kenapa wulan terjebak asmara pada pria bertubuh kekar namun seksi itu,tidak...kalian salah kalau berfikir ben yg meminta wulan untuk jadi kekasihnya,tapi wulanlah yg terpesona pada laki2 yg ternyata tidak semenakutkan teman2nya bergosip tentangnya,wulan jatuh hati pada laki2 itu saat ben beberapa kali terlihat menolong nenek2 mengangkat keranjang sayurnya menyeberang jalan,lalu di saat laki2 itu bolos mata kuliahnya ia malah membantu temannya berjualan di stasiun dekat kosan milik wulan dulu,tidak pernah ada yg tau jika ben punya sikap yg lembut seperti itu,hanya wulan yg tau,wulan juga pernah melihatnya menjadi relawan donor darah yg di lakukan oleh pihak kampus,cap untuk preman kampus yg baik hati yg mungkin cocok untuk julukan ben kala itu, fikir wulan.
dan entah setan apa yg merasuki wulan saat itu memberanikan dirinya menyatakan cinta pada laki2 yg sedang bolos jam kuliah kedapatan sedang makan es campur di pinggir jalan,dengan semangat dan keberaniannya yg tinggi wulan menghampiri ben tanpa malu kala itu.
"kak ben,ayo kita pacaran."meski terdengar datar,tapi wulan sangat bersungguh2 kala itu.ben hanya menatapnya,memperhatikan gadis yg ada di hadapannya dengan intens, melihatnya dari ujung sepatunya sampai ujung rambutnya yg tergerai hanya sebahu kala itu.
__ADS_1
"berapa umurmu? kau semester brp dan ambil jurusan apa?."tukasan ben dengan mata yg menatap sinis kala itu menggetarkan tubuh wulan yg kecil dan mungil,jika di lihat ia memang hanya persis seperti ank2 yg baru lulus sekolah smp.
"aku...
"pulang sana,jangan mengganggu orang dewasa,kau juga pasti sering tidur dengan air liur di sudut2 bibirmu itukan saat belajar, dasar anak kecil."
"aku bukan anak kecil,aku sudah semester dua kak."
"heuh".ben menarik bibir atasnya tersenyum sinis,ia pergi setelah membayar es yg di habiskannya,wulan mengepalkan jemarinya yg lentik di tangan mungilnya,egonya tak ingin kalah karna ia merasa tergila2 dengan laki2 di hadapannya kini.
"kakak gak punya pacarkan?ayo pacaran dengan ku,aku suka kakak udah lama."
wulan memang tipe perempuan yg blak2an kalo soal perasaan,dia selalu sepolos itu,akan bilang suka jika memang suka dan akan bilang tidak jika memang tidak,tiba2 langkahnya berhenti saat ben juga berhenti melangkah dan berbalik menatapnya lagi.
"selesaikan sekolahmu,aku tidak suka gadis yg bodoh." ben berucap sungguh2,wulan nampak berfikir keras apa kalau aku lulus lebih cepat dia akan memberiku kesempatan?apa dia mau jadi pacarku? gumam2 wulan dalam hatinya.
"kakak aku sedang di perpus,belajar".
"kak ben apa sudah makan? aku di katin sedang istirahat,tapi aku membawa buku untuk belajar."
"kakak aku akan segera lulus".
"kakak tunggu aku ya."
"kakak,kenapa tidak pernah membalas pesanku?."
__ADS_1
"kak ben,apa kau sehat."
wulan masih berharap saat itu,ia masih melihat wajah ben di tahun ke tiga sekolahnya,hingga akhirnya,ben benar2 menghilang setelah kelulusannya,seniornya itu memang lulus duluan tapi wulan tidak menyangka kalau ben benar2 tidak terlihat lgi batang hidungnya bahkan di acara reuni alumni angkatannya,ben tidak pernah hadir, gosip di kampusnya banyak yg mengatakan kalau ia pindah keluar negri,ada yg bilang juga kalau ia sudah menikah dan punya anak,bahkan teman seangkatannyapun pernah bilng ben sudah mati karna hidupnya yg brutal seperti preman,di sisa2 pengharapannya,wulan hampir menyerah jika memang ben sudah menikah dan punya anak,tapi,di sudut hatinya yg paling dalam,wulan berharap masih bisa bertemu laki2 itu meski sebentar.
__________***
dan akhirnya doanya terkabulkan,di saat wulan mulai menyerah ingin move on menutup perasaannya pada laki2 dingin itu, di saat semua baik2 saja tanpa kehadiran siapapun, kenapa dia terlihat baik2 saja,huh,benar,selama ini hanya aku yg seperti orang bodoh mengejarnya,hanya aku yg terus menjaga perasaanku untuknya,hanya aku sendirian,dan mungkin saja benar,jika dia telah menikah dan punya keluarga kecil saat ini,bodohnya aku,baiklah, aku akan tetap move on,aku akan membuang jauh semua perasaanku padanya,dan aku akan tetap baik2 saja meski dia acuh padaku seperti sebelum2nya,ayo sadar wulan,waktu yg kau berikan untuknya sudah habis. wulan menepuk kedua pipinya dengan telapak tangannya sendiri,tersenyum sebentar untuk menyemangati dirinya sendiri,ia sudah berdiri dari duduk melamunnya saat pintu kaca itu terbuka dan ben keluar dari sana,hanya dia,wulan sempat melirik ke balik bahu pria itu mencari2 sosok aldo di sana.
"apa kau sudah menikah?"
eh,suara berat namun seksi di telinga wulan itu mengagetkan wulan beberapa detik,tak sengaja matanya saling menatap pada ben yg menyangga tubuhnya di meja wulan dengan kedua tangannya.
"belum".dengan cepat wulan menjawabnya yg langsung di sesalinya karna ketahuan seperti memberi harapan kembali pada laki2 itu,segaris senyum tipis tergambar di wajah ben.
hanya itu,ben melangkah pergi tanpa menjelaskan apa maksud pertanyaanya pada wulan,gadis itu mengepalkan tangannya,merasa si badan besar itu mempermainkannya dengan sengaja.
kenapa aku tidak bilang saja kalau aku sudah menikah tadi.omel wulan pada dirinya sendiri.
**bersambung.....
epilog**
ben terus menatap kearah pintu kaca yg kini tertutup rapat,ia baru saja menarik kerai di dalamnya agar pandangannya tak terlihat oleh wanita di luar sana,masih teringat jelas gadis culun itu dengan segala kecerobohannya saat menyatakan perasaannya terang2an tanpa basa basi dulu,ben tertawa kecil,ternyata dia sudah menjadi secantik itu. gumam ben dalam hati,waktu yg meski terasa lama untuk melihat gadis aneh itu menjadi kepuasan tersendiri bagi ben,bagaimanapun perhatiannya yg selama ini ia sembunyikan diam2 akan menjadikan buah yg manis untuknya.
"jadi dia yg selama ini loe diem2 liatin, pantesan loe rekomendasiin dia waktu dia ngelamar di sini,cih,padahal gue udah cidekin buat gue ajak ke pesta pembukaan nanti." aldo tergelak menggoda,ben menatapnya sinis sambil menyandarkan bahunya di bahu sofa.
__ADS_1
"jangan sentuh dia,dia milik gue".tukasan tegas dari laki2 berbadan proposional itu membuat aldo nyengir2 takut,ia tau apa yg di ucapkan ben sama persis dengan apa yg akan dilakukannya,ben tidak pernah main2 dengan ancamannya.
kenapa dia bisa mencintai perempuan dalam diamnya,menjaganya tanpa diketahui wanitanya,dan bergerak hanya dengan kata2nya,luar biasa laki2 aneh ini. aldo berfikir sambil bermain dengan imajinasinya tentang ben yg tak banyak menunjukan perasaanya pada siapapun.