Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
kencan bersama part 2


__ADS_3

suasana kafe tersa seperti biasa,hanya di salah satu meja saja yg menjadi tak biasa karan ada aura aneh yg bergelayut disana, aldo dan ben saling menatap saat mereka memutuskan untuk duduk di disatu meja yg sama, sedangkan dua wanita yg bersama mereka saling melirik canggung dengan keadaan yg tak bisa terbaca.


"siapa dia?." ben akhirnya bicara,tapi tetap dengan wajah sangarnya tanpa senyum, bukan sekali dua kali aldo kedapatan membawa gadis yg berbeda2 di depan matanya,tapi kali ini ben tidak bisa tak bertanya karna gadis itu terlihat sangat muda dari wulan.


"saya nisa om." suara nisa yg tegas membuat aldo sedikit terpaku karna tak menyangka kalau nisa sama sekali tidak merasa canggung bicara pada ben yg nampak seram dan dingin,segaris senyum sinis tertarik dari bibir ben dan menatap nisa yg membalas tatapannya dengan berani.


"apa elo meminta ijin pada orang tuanya saat mengajaknya pergi?". pertanyaan itu di tunjukan untuk aldo kembali,tapi ben memicingkan matanya pada gadis ingusan itu.


"mas aldo ijin kok om,makanya kita disini sekarang."lagi2 nisa yg menjawab,aldo melongo.


"apa kalian sedang main kakak adean?."


wulan menyenggol bahu ben pelan,menegurnya untuk tidak membuat gadis di depannya merasa takut.


"eu...kalian nonton film apa?". wulan berusaha mengalihkan pembicaraan yg akan membuat kikuk.


"om percaya gak kalo saya dan mas aldo pasangan?."nisa nampak egois,ia tak menghiraukan pertanyaan wulan,matanya masih saja menatap ben yg terlihat intens menatapnya.


"nis ..". aldo ingin menegur nisa yg nampak berani,apa ini karna sabuk hitam yg di ceritakan ditya ya makanya gadis ini tidak menganal takut.


"saya tidak peduli kalian pasangan atau bukan,tapi saya peringatkan kamu berhati2 dengan laki2 ini,karna saya juga baru tau kalau ternyata dia pemakan segalanya."


"ben..".aldo mendelik memlototi ben yg menyindirnya terang2an.


"ah sudah...kak ayo kita kembali ke teater,sebentar lagi pintu kita akan dibuka sepertinya,pak aldo saya mohon maaf karna mengganggu kencan anda,kami undur diri,silahkan lanjutkan,maaf ya nisa...kami pergi dulu." wulan menarik2 lengan ben yg terasa besar di cengkraman jari2nya,meski tarikannya tak membuat ben bergerak akhirnya laki2 itu bangun dari duduknya untuk mengikuti tarikan wulan.


"eh wulan tunggu,kalian di teater berapa?."


aldo menghentikan langkah wulan dan ben


"pintu teater dua pak."jawab wulan


aldo menarik tangan nisa,ia juga berdiri hendak meninggalkan kursinya.


"kita juga di pintu dua,berarti kita nonton film yg sama,ayok bareng." aldo antusias,ia melirik wajah darwin yg tak suka dengan idenya.

__ADS_1


"tidak,pergi masing2 saja,ayok."


ben menarik tangan wulan,ia sangat tidak ingin kencannya pada wulan di ganggu oleh aldo yg bisa menjadikannya bahan ledekan nanti saat ia dan darwin mengobrol,dua temannya itu akan sangat senang jika melihat sisi yg berbeda dari dirinya untuk di jadikan bahan ejekan,padahal sisi lain itu hanya akan ia tunjukan pada wulan saja, wanita yg sangat ia cintai saat ini.


mereka nonton di kursi yg berbeda,wulan dan ben ada di bagian agak kebelakang sedangkan aldo dan nisa dibagian barisan no 3 paling pojok kiri,dari tempat ben dan wulan,mereka bisa melihat punggung aldo dan nisa,ben benar2 tidak habis fikir dengan aldo,kenapa membawa gadis yg lebih cocok jadi adiknya untuk bermain2 dengannya,eh tapi kalau difikir2 ben baru kali ini melihat aldo mengubah pola kencannya yg berbeda,biasanya dia akan menggandeng gadisnya masuk ke pab malam di sore hari dan akan berakhir di pagi hari berada di apartementnya, aldo selalu tertarik dengan wanita dewasa dengan dandanan yg modis dan tubuh yg menggoda,tapi kali ini meski anak itu masih bau kencur tapi ben bisa melihat kalau itu bibit unggul untuk dapat di semai di mana saja,aldo tidak mungkin merusak anak kecil seperti itu,ia sangat tau batasan memperlakukan mana wanita yg menurutnya murahan dan yg bukan.


"kakak kenapa melihat pak aldo terus? filmnya sudah mulai." wulan yg sedari tadi memperhatikan ben di sampingnya merasa kalau lelakinya sedang merisaukan sesuatu.


"tidak apa2,ayo nonton saja." ben meraih jemari wulan dan menyatukan jemarinya di sela2 tangan itu,ia menggenggamnya erat.


"kenapa? iri ya,pak aldo bisa dapat wanita lebih muda dariku?." wulan memancing,ingin melihat reaksi ben,yapi ben malah menatap wulan dengan sinis dan tersenyum licik.


"kau mau aku gigit di bibirmu ya?sini..". ben meraih sebelah pipi wulan dengan sebelah tangannya hendak membuat wulan menoleh mendekatkan wajahnya ke bibirnya,seketika wulan menarik wajahnya, mematahkan tindakan ben yg akan mempermalukannya nanti.


"baiklah ayo kita menonton saja." tukas wulan sambil tersenyum,ben malah mengalihkan menciumi tangan wulan yg di genggamnya,mereka akhirnya focus menonton.


sedangkan di tempat duduk nisa dan aldo, mereka asik memakan popcorn dan minuman bersoda yg mereka bawa tadi.


"mas aldo malu ya ketemu temen mas aldo tadi?". nisa memulai obrolan di sela2 tontonannya.


"ya malu mungkin kencan sama anak kecil."


"ih,kamu ngaku sekarang kalo kamu anak kecil."aldo menjawil ujung hidung nisa.


"nisa udah gede mas,orang2 aja yg ngeliat nisa kayak anak kecil."nisa cemberut layar lebar di hadapannya jadi tidak menarik di matanya.


"nisa.."panggil aldo sambil menatap gadis itu agar nisa menoleh padanya aldo meraih jemari nisa yg tadi sibuk nyomotin popcorn di lengan kursi,berhasil,nisa menatap aldo yg tersenyum padanya.


"kan udah mas al bilang, mas gak bisa melihat kamu seperti gadis kecil saat ini,tubuh kamu sudah memancing mas buat berfikiran kotor,tapi mas cukup sadar kalau mas gak akan melakukan itu sama kamu,mas serius loh waktu bilang bakal jagain kamu seperti adik sendiri."


"ikh..mas aldo kok mesum sih." nisa mencubit pinggang aldo yg langsung kesakitan hingga membuat wajah aldo meringis.


"ya abisnya kamu ada2 ajah,eh tapi serius loh..kamu rajin olah raga ya bisa jadi begini badan kamu." aura genit aldo mulai terpancar dari tatapannya yg sudah terlihat licik menatap nisa,ia iseng meraba pinggang nisa yg langsung di tepis dengan cubitan keras di tangan aldo yg memerah,aldo kesakitan ia memekik pelan menahan jerit sakit karna takut mengganggu penonton yg lain.


"jangan genit mas,aku bisa melintir tangan kamu sambil tutup mata loh."nisa galak

__ADS_1


"ih jangan donk,nanti aku sakit kamu juga yg repot,emang mau ngurusin aku kalo aku sakit."


"mau,aku jadi bisa ngawasin kamu 24 jam."


"eh..eh,nakal ya,jangan mancing2,mas gak janji bisa nahannya loh."aldo mendekatkan wajahnya kepipi nisa dan mengendus2 kebalik telinga gadis itu yg langsung bergidik kegelian karna nafas halus aldo masuk ketelinganya.


pluk, tiba2 seperti ada yg jatuh kekepla aldo, refleks tangannya meraba2 atas kepalanya, ia mendapatkan segumpal popcorn caramel yg menempel lengket di rambutnya,seketika aldo menoleh,langsung bersitatap dengan mata ben yg memicing tengah memperhatikan tingkahnya sejak tadi,ben memelototinya,dua jari tangannya terangkat mengarahkan ke matanya dan mata aldo seolah mengatakan elo dalam pengawasan gue aldo langsung bersungut2 pelan dan mengacungkan jari tengahnya ke arah ben disana.


nisa dan wulan menghela nafas melihat kelakuan dua pria yg rada kekanakan di samping mereka.


kencan bersama yg tak di rencanakan itu akhrnya berjalan dengan banyak drama,setelah nonton mereka makan siang di kafe yg berada di luar mall,tadinya ben tidak ingin aldo dan nisa ikut mengekori dirinya dan wulan,tapi entah kenapa aldo berinisitif agar ia bisa ada alasan mengajak nisa keluar lebih lama,dia menggunakan wulan untuk menyetujui ide kencan bersamanya.


kencan itu berakhir di sore hari,ben sangat kesal dengan aldo yg terus kelihatan didepan matanya meski mereka tidak mengganggu tapi ben tidak leluasa sepertinya saat ingin memeluk atau sekedar merangkul wulan,ide kencan bersama bukan lah ide bagus untuk pasangan manapun fikir ben,akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan mengantarkan wulan sampai ke kossannya.


"kenapa cemberut? habis jalan sama aku kok kayaknya gak senang?." tukas wulan saat mereka sudah samapi di depan gerbang kossan milik wulan,mereka masih di dalam mobil


"jangan bertanya,aku kesal kalau mengingat hari ini di ganggu aldo."


"merekakan gak ganggu,aku malah lucu melihat mereka,kencan ala anak abegeh bikin aku berdebar2 menonton mereka dari dekat tadi,kakak juga lihat kan,nisa gadis yg manis,dia tidak canggung bicara denganku tapi tetap sopan memperlakukanku sebagai wanita yg lebih tua darinya,pak aldo juga jadi seperti anak2 saat bercanda sama nisa,tapi ia jadi lelaki dewasa lagi saat nisa diliatin sama laki2 lain,bukankah itu terlihat manis?."


wulan bicara panjang lebar,ben malah menatapnya kesal.


"iya kau memperhatikan kencan orang lain sampai tidak fokus dengan kencanmu sendiri,kau tau kalau kau menyebalkan hari ini." ben sedang merajuk,ya...wulan tau,ben sedang menunjukan sisi lainnya pada wulan, sisi lain yg hanya akan di tunjukannya di depannya.


"kakak sedang protes?apa aku bisa menebusnya dengan satu ciuman." wulan menggoda,ia meraih pipi ben dengan kedua tangannya,menarik wajah ben lalu mengecup bibir laki2 itu dengan keras.


"hmmmuach,sudah,tidak marah lagi?."


perlakuan itu membuat ben gemas dengan tingkah wulan,dengan cepat ben meraih dagu wulan,kembali mengulum bibir manis itu dengan lembut dan hangat,wulan menyambut ciuman ben,mereka saling berpagutan,menyesap satu sama lain,membuat tubuh ben menegang,tanpa sadar ciumannya semakin dalam, nafasnya memburu dan wulan tersengal karna kehabisan oksigen.


"hah..hah..hah....".suara nafas ben yg perlahan melepaskannya dari bibir ranum milik wulan,tubuhnya seperti memanas.


"sayang...ayo ke apartementku."tukas ben,membelalakan mata wulan,sejurus kemudian cubitan keras mendarat di perut ben."awwww..sshhh sakit." jerit ben.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2