Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
keinginan


__ADS_3

pov malika


aku menatap diriku di cermin,ya tuhan...apa itu diriku?benar itu diriku,nampak seperti hantu bergaun putih dengan rambut acak2an karna tak menemukan sisir di tempat seluas ini.


apa aku dikurung?tidak,nana terpaksa membawaku kekediaman ini karna sekertaris ben sudah memergoki pelarian kami yg akhirnya gagal dengan ancaman jika kami pergi maka dia akan lapor pada ketua,dan aku di bawa bersembunyi oleh nana di rumah kakek yg katanya pemiliknya sendiri tidak pernah menginjakan kaki disini lagi.


benar,ruangan ini berada di sayap kanan rumah besar bak istana milik kakek,ini ruangan tua dengan kamar yg cukup besar untuk hanya sekedar tidur atau melakukan aktifitas lainnya,ranjang kayu yg besar dengan kelambu putih transparant yg menggantung disetiap sisinya nampak hangat dan indah,aku yakin pemiliknya adalah wanita yg cukup menyukai keindahan dan kebersihan,apa ini kamar nana?


ternyata bukan, nana bilang ini milik mendiang istri kakek yg bernama grace,beliau adalah wanita blasteran berdarah belanda yg tinggal di sini sejak ia masih kecil,pantas saja, seleranya percampuran tradisional dan sedikit kuno ala2 barat.


tapi ini indah,aku nyaman disini,setidaknya aku merasa ada yg hidup di antara kesepian ini,aku memegang perutku, mengusapnya dengan lembut dan terus merasakan kehangatan pada usapanku sendiri.


"bertahanlah,papahmu akan menjemput kita."


bisikku pada perutku yg masih rata namun ekspetasiku melebihi dari dia nyata atau tidak, aku melamun dan terduduk di sisi ranjang,mengingat kembali wajah darwin,oh.. betapa aku sangat merindukannya.


beberapa hari ini aku menangis,karna rindu,karna sedih telah mengkhianati kepercayaan darwin,karna takut akan kehilangan,dan karna aku merasa menjadi wanita paling bodoh sedunia.


"dia datang nona,bersiaplah."


Degh,aku berdebar,nana memberi kabar,aku tau yg dia maksud adalah darwin suamiku,setelah nana berdebat panjang dengan kakek,akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu darwin datang sebagai cucuk,tapi benarkah akhirnya darwin menyerah,akhirnya ia datang membuang segala ego dan keras kepalanya kepada kakek?


aku bersyukur jika memang mereka berdamai, tapi di lain sisi aku masih takut dengan kakek, dia tidak akan begitu saja memaafkan darwin bukan?pasti ada persyaratan yg harus mereka sepakati.


benar, nana bilang mereka berdebat,maaf sudah keluar dari mulut darwin,bahkan nana melihat darwin bersimpuh di kaki kakek dan menangis,ya tuhan...suamiku,aku belum pernah melihat dia selemah itu,membayangkannya saja aku ingin menangis.


hari ketiga,aku gelisah,sejak kemarin aku tidak bernafsu untuk makan,fikiranku hanya pada darwin,kalau saja kakek tidak menemukan kesepakatannya,apa kami benar2 akan di pisahkan?


aku menangis lagi,terhisak lagi,membayangkan meninggalkan darwin, membayangkan anakku akan di ambil,membayangkan kakek yg akan membuangku karna sudah tidak di butuhkan lagi,darwin yg membenciku,aku akan sendirian di dunia yg tak pernah aku ketahui,bang arya akan menertawakanku bukan? ibu,apa aku masih bisa bertemu dengan ibu?

__ADS_1


aku memeluk kakiku di tengah2 ratapanku di atas ranjang yg besar,menunggu kemungkinan yg tak pasti,berharap pria yg berstatus suamiku masih memperjuangkanku di hadapan kakek,oh ya tuhan...sekali lagi,aku merindukannya.


suara pintu berderik,apa nana datang memberi kabar yg alot lagi? aku ingin menangis,aku ingin meraung2 meneriaki nama darwin,tapi pasti tak ada yg mendengar,nana bilang ini salah satu ruang kedap suara dan agak jauh dari rumah utama,tidak akan ada yg mendengarku.


wajah itu menyambul di balik pintu,seketika tubuhku ingin bergerak tapi entah kenapa tiba2 tubuhku lemas,air mataku menganak sungai lagi,aku hanya dapat meraih bantal besar yg ada didekatku untukku peluk atau untuk menyembunyikan wajahku nanti,dan darwin melangkah dengan cepat meraihku, aku di dekapnya erat,saat dada bidang itu menyentuh wajahku aku sudah tehisak dan tersedu2.


"maafkan aku...maaf...maafkan aku....aku mohon jangan membencikuuuu,hhuuu...huuu hiks." hisakku dalam pelukan darwin yg hangat,darwin bernafas dengan lembut,itu bisa kurasakan melalui dadanya yg turun naik, nampak tenang untuk membuatku tenang.


*****


darwin setengah berbaring di tempat tidur,ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang,aku masih didekapnya,tangannya masih mengelus kepalaku dengan lembut, aku merasa hangat dan tenang,sangat nyaman berada di pelukannya saat ini.


"beri tahu aku,kenapa tidak memberitahuku? kenapa malah pergi,kenapa pergi dengan nana."


aku menghela nafas,benar darwin harus tau, apa yg aku rasakan saat ini adalah ketakutan yg tak pernah ku ungkapkan.


"kakek...aku membuat kesepakatan dengan kakek." aku rasakan tangan darwin berhenti mengusap kepalaku,ku gerakan wajahku semakin menelusup ke dadanya dan bersembunyi disana,apa darwin akan marah? yah..dia berhak marah.


"sudah kuduga,orang tua itu mengancammu di makan malam sialan itu,dan kenapa kau sangat patuh padanya?."


"sayang...kita berhutang pada kakek,terutama aku,dia menyelamatkan hidupku,dia yg menyatukan kita,mempertemukan aku denganmu,dan..aku dengar dia juga diam2 banyak membantu bisnismu."


"sial,benar,dia terlalu banyak berkorban."


"apa kalian sudah baikan?."


"baikan dalam arti apa? kakek masih keras kepala."


"sepertimu." aku tersenyum,mendongakkan kepalaku agar dapat melihat raut wajah yg kurindukan beberapa hari ini.

__ADS_1


darwin menghela lagi,ia menempelkan keningnya di keningku,kurasakan nafasnya berhembus sangat hangat di wajahku.


"jangan lakukan itu lagi,pergi begitu saja tanpa memberitahuku,apapun yg terjadi jangan pergi tanpa seizinku."


"hm,maafkan aku."


"apa aku menakutimu?seharusnya kau beri kejutan padaku dengan adanya dia di rahimmu,kenapa malah menelfon nana, memangnya aku akan marah? aku ini ayahnya,kau pergi tanpa pemberitahuan itu yg membuat aku marah padamu,seolah2 kau tidak mempercayaiku."


"itu karna aku mendengarmu,aku mendengar pembicaraanmu dengan nana,alasanmu tidak ingin punya anak,dan kebencian serta kekecewaanmu pada kakek,aku...aku tidak ingin kau kembali merasa kecewa padaku jika tau aku hamil,aku tau anak ini hanya keinginan kakek,bukan keinginanmu."


darwin menatapku,ia seperti menahan marahnya padaku,entah apa yg di fikirkannya tapi aku tahu dia sedang marah sekarang.


"heh,malik,selama ini apa sebenarnya yg kau fikirkan tentangku?tanpa bertanya padaku seolah2 kau tahu semua isi hatiku."


dia memarahiku,tapi aku tau kalau aku boleh menjawab marah itu.


"kau yg tidak mau memberi tahuku,kau selalu menyimpan harga dirimu ke bagian terdalam tubuhmu,kau simpan semua sakitmu sendiri tak ingin berbagi denganku ataupun sekedar melepaskannya padaku,harusnya aku yg bertanya,apa yg kau fikirkan tentang aku di sisimu,hanya istrikah?teman tidur saja?."


aku mendebatnya,darwin menarik senyum getir untukku.


"apa kau menginginkannya?."


"apa?."


"anak itu?."


"anakmu darwin,anak kita,dan tentu saja aku menginginkannya."


bersambung....

__ADS_1


happy reading🥰


__ADS_2