Cinta Yang Tersisa

Cinta Yang Tersisa
bertemu kembali


__ADS_3

pov DARWIN


sudah dua hari aku merajuk pada kakek,aku bersih kukuh tak ingin tinggal dengannya sbagai syarat aku bertemu kembali dengan malika.


apa2an kakek ini, padahal tidak ada yg berhak atas malika selain aku,aku suaminya,aku calon ayah dari anak yg di kandungnya, kakek hanyalah pelengkap bagi keluarga kami ketika nanti kami hidup dengan bahagia selamanya.


entah angin surga atau bukan saat aku melihat pintu tempat diskusi kami berderik dan bergeser,pertanda ada yg mendorongnya dari arah luar,aku melihat nana menyambul disana,ya,aku senang,tapi juga kesal,masih ada marah di dadaku,wanita yg sangat aku percayai kini terang2an membela kakekku, cih, dasar pasangan tua yg gak jelas.


"apa sudah ada kesepakatan?."


suara nana tegas,ia duduk berhadapan denganku, sedangkan di sisi kami kakek masih menjadi raja di kursinya,lihatlah wajah tua nan angkuh itu,ah...kenapa kakek sekeras kepala ini?


"suruh bocah ini pulang saja,aku tidak mau menerima maafnya jika dia kepala batu seperti ini."


hey lihat siapa yg bicara,orang kepala batu teriak kepala batu pada cucuknya,lelucon apa ini kakek?,aku ingin terkekeh tapi aku jadinya hanya menatap sinis ke kakek,ia menyesap teh hangat di hadapannya yg sejak pagi tadi sudah tersedia di meja ini,sempat2nya dia minum senikmat itu,sedangkan aku.masih memikirkan strategi agar aku bisa segera menemui istriku yg malang itu pasti dia sangat merindukanku.


"tuan muda...tinggalah besama kami,kita harus membangun keluarga yg sehat untuk si kecil kelak."nana bersuara lagi menatapku tapi aku mendelik kesal.


"jangan bicara padaku nana,aku sedang kesal padamu,kembalikan saja istriku dasar nana pengkhianat." sanggahku,aku melihat nana menarik nafas kesal sambil menatap kakekku dan aku bergantian,sepertinya dia juga jengkel dengan kelakuan aku dan kakek.


"kalian benar2 kakek dan cucuk yg serasi ya,aku akan membawa nona malika pergi jauh dari kalian,dia tidak akan bahagia jika hidup dengan kalian yg suka menekan keinginan sendiri tanpa memikirkan perasaannya,apa kalian tidak menimbang bagaimana kejiwaanya setelah di tekan sana sini? dia sedang mengandung,dia harus bahagia."

__ADS_1


"benar nana,dia harus bahagia,jadi kembalikan dia,sumber kebahagiaannya adalah aku,aku suaminya."


aku menekan kata suami pada kalimatku,tentu saja aku harus percaya diri,malika memang milikku,bukan milik siapa2.


"kau hanya suami tuan tapi tidak seperti suami yg sesungguhnya, apa yg kau lakukan sampai2 dia gemetaran begitu saat mengetahui kalau dia hamil anakmu,kenapa dia sampai meminta tolong padaku dengan berurai air mata,harusnya itu menjadi kabar gembira untuk kalian,kenyataannya dia ketakutan setengah mati."


itu tamparan paling keras dan kasar dari nana sepanjang aku hidup dan mengenalnya, aku ingin menyangkalnya,tapi tak ada kata2 yg bisa aku ungkapkan yg pantas untuk aku lontarkan pada nana,benar,sampai ke relung hatiku,aku mengakui kesalahnku,nana benar, aku hanya suami yg berstatus suami tapi tidak menjalankan bagaiman mestinya menjadi suami yg baik untuk istriku dan juga mungkin calon anakku nanti.


"pertemukan mereka ketua." akhirnya nana membelaku,aku antusias menanggapinya lewat tatapan mataku menatap kakek dan nana bergantian.


"tidak."


cih,kenapa juga harus secepat itu kakek menjawabnya.


"TIDAK" sial,aku berteriak berbarengan dengan kakek,nana memandang kami dengan helaan nafas kesal,ia berdiri sambil mengepalkan tangannya.


"ayo tuan muda,ikut dengan saya." perintah nana langsung kusambut antusias,aku tersenyum smirk saat melewati kakek yg nampak memlototiku,seperti ingin melempar tongkatnya ke wajahku.


"dia akan menghasut istrinya nana,dia akan menyuruh istrinya untuk tidak menerima syarat dariku,dia licik."


hahaha,apaan sih kakek,aku ingin tertawa jadinya,tapi nana menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kakek disana yg masih misuh2 menggerakkan mulutnya yg tua itu.

__ADS_1


"sama seperti anda,kalian kakek dan cucuk yg sangat licik bukan."


tunjuk nana,aku ingin tertawa melihat kakek di marahi nana seperti ibu pada anaknya,nana memutar kepalanya kini menatapku yg ketahuan menahan tawa.


"kau juga tuan muda,kenapa kau menertawakan dirimu sendiri."


hah,aku mendengar itu,barusan kakek membuka mulutnya dan bilang hah kan?,iya aku mendengarnya,buktinya ia sedang mengejekku dengan tatapannya sekarang.


Nana membawaku ke ruangan yg ternyata berada di sayap rumah paling kanan,di sana memang ada tempat yg luas seperti rumah utama,yg memiliki ruang depan untuk menyambut tamu,aku terus mengikuti langkah nana yg akhirnya berhenti di sebuah pintu yg besar berwarna coklat tua dengan ukiran batik berbunga sangat tradisional sekali,aku tau,dulu ini adalah kamar nenek,nana pernah membawaku masuk ke dalamnya saat aku remaja dulu.


"masuklah,nona didalam,bicarakan semuanya, jangan mengintimidasinya,jangan menekannya untuk berpihak padamu,aku percaya anda profesionalkan tuan."


cih,nana benar2 seperti orang tua yg cerewet, tapi aku mengangguk untuk mengiyakannya agar ia cepat pergi dan tidak mengganggu pertemuan kami yg mungkin akan sangat dramatis,malika...aku sudah mersakan baunya dari balik pintu ini,aku tau dia didalam menungguku,ah..betapa aku sangat merindukannya,aku ingin mencium tengkuknya dari balik punggungnya,seperti yg selalu ku lakukan saat bangun tidur di pagi hari, malikaku,likaku,dia milikku,tak boleh ada yg merebutnya dariku,dia punyaku,tidak kakek atau pun nana,aku akan membawa malikaku pulang,dimana hanya ada kami dan anak kami nantinya.


aku mendorong hendel pintu yg berderik terbuka,memperlihatkan isi dari dalam ruangan kamar yg lumayan besar itu,nana sudah pergi beberapa menit yg lalu,dan kini dadaku berdebar,aku berdebar seperti sedang jatuh cinta yg menggebu2 pada istriku sendiri, setelah hampir 3 hari tak melihatnya,aku ingin segera menghambur kepelukannya,malikaku bergaun tidur berwarna putih tengah duduk ditengah2 tempat tidurnya sambil memeluk kakinya yg ia naikan terlipat sejajar dengan dadanya,mata kami bertemu,ia tersadar, ia menatapku penuh sendu,setelah itu..aku tahu ia pasti menangis tersedu2, ia menutup wajahnya dengan bantal besar yg tadi di raihnya,benar saja,suara isakan tangisnya menyayat2 hatiku,aku sakit melihatnya begitu, kupercepat langkahku untuk segera menghampirinya dan merengkuhnya dalam pelukanku.


"maafkan aku...maaf...maafkan aku...aku mohon jangan membencikuuuu,hhuuu...huu hiks."


sial,sudah berapa lama ia menangis,kenapa matanya sampai membengkak dan wajahnya nampak kacau,malikaku nampak berantakan dengan rambut yg sepertinya tak tersentuh sisir sejak kemarin,aku mengeratkan pelukanku,membenamkan wajahnya kedadaku,membiarkannya menyelesaikan tangisnya,sambil terus mengusap kepalanya dan sesekali mengecup puncak kepalanya,aku merasa teriris saat tubuh malikaku terguncang karna tangis.


bersambung.....

__ADS_1


happy reading😉


__ADS_2