
setelah penjemputan yg mengejutkan itu, malika turun dari mobil mewah yg di bawa ben,ia telah sampai di rumah besar,rumah mewah dengan gaya klasik bernuansa modern,ada sedikit ketersimaan pada mata malika saat ia melihat dengan jelas betapa besar dan mewahnya rumah itu,benarkah rumah sebesar itu hanya di huni oleh kakek sendirian?dulu malika tak memperhatikan ditail rumah ini saat pertama kali ia masuk ke istana ini untuk di jodohkan,tapi sekarang ia seperti masuk kedalam negri dongeng, apa benar ini rumah? selera kakek benar2 bukan selera manusia normal,disaint dan iteriornya sangat tidak manusiawi,mungkin ini bisa di bilang dengan selera dewa.
"silahkan masuk nona,ketua mungkin sudah menunggu anda." ben membukakan pintu, malika sedikit ragu saat melangkah,ia menoleh pada ben yg masih memegang hendel pintu.
"sekertaris ben,apa yg harus aku katakan pada kakek nanti?apa dia akan memarahiku lagi?".malika ingat pembicaraanya di telfon dengan kakek,ia seperti di plototi dan di marahi oleh kakeknya sendiri.
"nona tidak perlu mengatakan apa2,cukup dengarkan yg beliau katakan dan menjawab sesuai pertanyaan yg di ajukan,ketua akan lebih senang jika nona cukup menurut padanya."
"tapi sekertaris ben,apa darwin benar2 tidak akan datang?
"dia akan datang menjemput anda nona." kata2 ben menguatkan malika untuk melangkah masuk,dengan kaki yg bergetar,malika di bawa oleh seorang pelayan yg menyambutnya saat masuk di ruang depan,ia di bawa ke ruang makan, dimana disana telah tersedia meja makan yg panjang dengan kursi2nya yg besar, malika sedikit terkejut saat nana yg berada disana entah sejak kapan,ia menunduk menyambut malika sedikit membuat malika canggung dengan perlakuan nana yg sangat sopan,lalu seorang pelayan lagi menarik kursi tepat di ujung dekat ia berdiri, malika duduk dengan sopan,banyak pelayan yg tiba2 masuk keruangan itu membawa hidangan malam ini,nana hanya berdiri di dekat kursi kosong di ujung sana, yg malika yakini itu adalah tempat dimana nanti kakek yg berkuasa duduk disana,jadi begini ya rasanya duduk menunggu orang yg tidak ingin kita temui,malika sangat gelisah.
5 menit kemudian,sosok yg di tunggu datang menuruni setiap anak tangga yg bergaya ulir dengan pegangannya yg kokoh,sang kakek yg sebenarnya tidak terlalu di harapkan untuk bertemu dan bertatap muka oleh malika kini menatapnya dengan senyum segaris dibibirnya,entahlah senyuman itu bisa di artikan apa,bisa jadi penyambutan malika yg sudah berkenan datang atau memang senyum itu senyum yg mengejek lihat dirimu sekarang malika,kau bahkan bisa makan malam dengan orang yg sangat sibuk sepertiku,begitu fikir malika.
kakek tak banyak bicara,ia memang di kenal dengan laki2 yg dingin dan sangat berwibawa,aura gelap langsung menyerap keseluruh ruangan di meja makan ini,malika sampai tak berani bergerak saking takutnya jika terlihat oleh mata tajam itu.
"tinggalkan kami berdua,jangan ada yg datang sebelum aku selesai di meja makan ini." suara berat tapi menggelegar itu seakan menceloskan dada malika,belum apa2 tubuhnya bergetar dengan sangat kentara,nana meninggalkan ruangan setelah memastikan semua siap di meja makan,ia sedikit melirik nonanya yg sudah bisa terbaca matanya kalau gadis itu sedang ketakutan,tapi nana tak bisa berbuat apa2,ia tahu tuan besarnya tidak suka di ganggu jika sedang serius bicara.
"kapan kau akan hamil?." suara itu mencekam menyayat telinga malika yg belum bergerak sejak tadi,ia hanya berani tertunduk dan melirik kakek dengan sudut matanya,nampak kakek hanya bicara sambil memotong daging di piring makannya dengan pisau dan garpu di tangannya,glek,malika menelan liurnya menenggelamkan gugup dan takut di tubuhnya tapi sia2,dari tangannya yg menggenggam pisau dan garpu masih tersisa gemetar yg sulit ia sembunyikan.
"ak..aku belum tau."malika menjawab dengan terbata2.
"malika,apa kau minum pil kontrasepsi?."
plak,malika seakan tertampar tepat di wajahnya,benar,kakek memang orang yg tidak suka basa basi jika soal hubungan darahnya,itu semakin membuat malika lemas karna tertangkap basah,ia mendiamkan dirinya tak berani menjawab atau menatap wajah kakek di ujung sana,ada tarikan nafas kesal yg terdengar sangat merobek hati,karna diamnya berarti jawaban iya untuk kakek.
"jadi benar kau yg menundanya?ternyata kau cukup berani ya malika,aku terkejut menyadari kau tidak semudah yg aku bayangkan,mengendalikanmu sebagai umpan untuk darwin ternyata tidak menguntungkan untukku,kau lebih memilih berkhianat padaku dan memilih untuk sepemikiran dengan darwin?kau fikir di mana ujung pernikahanmu tanpa mempunyai keturunan?aku bisa menghancurkan semuanya malika,termasuk ibu dan kakak tirimu,jika aku tidak mendapatkan apa yg aku inginkan,maka kau juga tidak akan mendapatkan apa2."
malika mengepalkan tangannya yg berkeringat,ia menarik nafas menahan takut,seketika pias di wajahnya saat ibu dan kakak tirinya di sebut,meski mereka bukan kelurga sebenarnya tapi malika sangat menyayangi ibu nya saat ini,dan jika mereka tau ia orang yg menentang keinginan kakek,ibu pasti membencinya,biar bagaimanapun ibu akan sangat membela bang arya ketimbang dirinya,membayangkan ibunya yg sendirian tanpa bisa bicara malika sangat sedih dan hampir menangis jika benar itu terjadi.
"kakek...aku mohon beri kami waktu,aku akan coba bicara pada darwin untuk rencana kami mempunyai anak,biar bagaimanapun dia calon ayah yang akan bertanggung jawab pada anaknya kelak."
__ADS_1
dengan suara bergetar malika menahan takut dan air matanya yg hampir jatuh, kakek hanya menarik segaris senyum sinis di bibirnya.
"heuh,anak itu bukan kompromi malika,itu sudah menjadi tujuan atas pernikahanmu, jika kalian tidak ingin mempunyai anak maka aku akan memaksa darwin lagi untuk melakukannya dan mendapatkannya pada wanita lain,kau fikir aku tidak sanggup melakukannya?".
"apa kakek tau isi hati darwin yg sebenarnya?apa kakek tau kalau selama ini dia menderita dan kecewa?kenapa kakek tidak mencoba mendekatkan diri kakek padanya?dia juga sangat menderita kek,aku hanya ingin mengharagai setiap jerih payahnya dan menghormati apa yg menjadi keputusannya." malika memberanikan diri lagi untuk menjawab kakeknya yg kini menatapnya tajam.
"apa kau sedang mengguruiku malika?beraninya kau bertanya padaku tentang perasaan cucuku?kau fikir aku akan melakukan ini padanya jika hubungan kami baik2 saja? aku hanya menyuruhmu menikah dengan keturunanku dan memberikan keturunan darah dari keluargaku agar aku bisa menebus segalanya,jika aku mati aku akan bertemu dengan istriku dan anakku dengan perasaan tanpa bersalah,tapi darwin ingin memutus hubungan darah padaku hanya karna kebenciannya padaku di masa lalu, apapun caranya,aku tidak akan membiarkannya lepas dariku,jika dia tidak menginginkan nama keluarga ku,akan aku buat anaknya yg menjadi penerusku."
"tapi kek...aku...".
"aku bisa menghancurkannya,apa kau ingin melihatnya?." mata itu munusuk tajam ke manik mata malika,nampak kalau kakek tidak main2 dengan kata2nya.
darius,nama kakek tua itu saja sudah sangat mengintimidasi keberadaan malika di meja makan yg sunyi senyap itu,kakek tau betapa malika kini sangat mencintai darwin,tanpa di sadari gadis bodoh itu akan menjadi kelemahan mereka jika ia bisa memegang perasaan malika untuk mengendalikan darwin,jadi...sebuah ancaman akan sangat mudah mengikat kembali rantai kepatuhan agar malika kembali merasa takut dan menjadi penurut lagi pada tuan darius.
"malika...apa kau tidak ingin memohon padaku?."dingin dan tajam,kakek menatap malika lekat2. "akan aku hancurkan perusahaan darwin,bagiku sangat mudah karna perusahaannya masih sangat kecil dan rapuh,kau tau aku bisa lebih kejam lagi dengan memenjarakan abangmu yg hidup seperti binatang itu lalu menutup toko ikan ibumu,dengan keterbatasannya aku yakin dia tidak akan bisa melakukan pekerjaan apapun,maka dia bisa jadi gelandangan di jalanan seperti yg kau bayangkan saat ini."
malika memegang dadanya,air matanya sudah sedikit jatuh di pipinya,mendengar rencana kakek saja sudah membuat hatinya hancur berkeping2,di kepalanya terbayang darwin yg hancur depresi karna pencapaiannya yg ia raih dari nol tiba2 akan hancur begitu saja oleh kakeknya sendiri, darwin pasti akan sangat sedih dan hidup penuh dengan dendam lagi,lalu ibu dan bang arya,tidak,malika tidak bisa melihat ibu yg sudah sangat menderita di berikan penderitaan lagi olehnya,kini malika terdiam, menatap kakek penuh kebencian tapi juga ketakutan karna mengingat betapa berkuasanya kakek saat ini,apa yg di bicarakannya bukanlah omong kosong,meski darwin adalah cucuk sahnya, jika kakek sudah bicara,maka darah yg mengalir dari tubuh darwin akan menjadi air baginya.
"aku tidak mengambil paksa,kaulah yang akan menjaganya untukku." segaris senyum smirk jahat menyambul di bibir tua dengan garis keriput itu,malika berkernyit penuh tanya.
"apa maksud kakek?".
"setelah kau hamil,tidak perlu memberi tahu darwin,karna ia juga tidak mengharapkan anak dalam hidupnya."
"tapi ia akan tahu,perut orang hamil akan terlihat seiring bulan berganti."
"maka dari itu tinggalkan dia sebelum perutmu membesar,tidak,kau harus segera menghilang dari hadapannya seketika kau tau kalau kau hamil,aku akan mengaturnya nanti,jadi,hanya aku yg kau beri tahu tentang kehamilanmu,rahasiakan dari suamimu yg bodoh itu."
malika melepaskan pisau dan garpu yg tadi masih di genggamnya,seketika tubuhnya lemas seperti tanpa tulang,apa benar ia sedang bicara dengan manusia bukannya iblis,bagaimana dengan mudahnya seorang kakek menyiksa cucuknya sedemikian kejamnya,malika gugup,takut dan pias sudah tak bisa berkata2 lagi.
"apa kau akan memisahkan aku dan darwin?bahkan kau juga memisah kita dari anak kami,bukankah itu terlalu kejam,kenapa tidak kau bunuh saja kami supaya kau tidak perlu repot2 menyiksa kami lagi."
__ADS_1
"apa kau tidak pernah tau,bahwa aku lebih suka menyiksa dari pada membunuh,aku akan merasa sangat puas jika targetku menderita."
"aku mohon jangan menyakiti darwin lagi, dan tolong lepaskan ibuku dan kakak tiriku, biarkan mereka hidup dengan tenang."
malika menunduk dalam,senyum sinis kakek mengembang,kembali kakek tua itu melanjutkan aktifitas makannya yg sempat ia hentikan sementara tadi,ternyata dugaannya benar,kini malika lemah jika di ancam dengan nama suaminya,ternyata cinta yg tumbuh di antara mereka sesuai perkiraan sang kakek.
"aku anggap kau sepakat dengan rencanaku."kakek semakin tersenyum sinis dan jahat,tangannya sibuk memotong daging dan mulutnya sibuk mengunyah.
"makanlah...setelah itu kau boleh pergi dengannya."
**bersambung.....
epilog**
"katakan,kau mengancamnyakan?". nana menerobos masuk kedalam kamar tuannya yg kini sedang setengah berbaring ditempat tidurnya,lelaki tua itu sedang membaca buku di tangannya,nampak kemarahan nana membuatnya tersenyum lembut,di matanya,nana masih terlihat lucu jika sedang memarahinya.
"apa aku terlihat keren tadi?."ucapnya sambil meletakkan bukunya di samping tempt tidurnya di atas nakas.
"kau benar2 orang tua yg jahat,kau membuat istrinya menangis dan suaminya kalap seperti orang gila."
"nana...apa kau mau membantuku jika aku memohon bantuanmu?
nana mendekat,ia duduk di sisi tempat tidur lelaki tua itu,menatapnya dengan perasaan kasihan dan perasaan hangat yg sejak dulu selalu ada untuk lelaki itu.
"karna itu aku disini,jangan berfikir apa2,jika kesulitan panggil aku kapanpun kau mau."
"kau selalu saja baik nana,pantas kau selalu bodoh soal memilih laki2 sejak dulu."
tuan darius terkekeh kecil,nana memasang wajah judesnya yg di buat2,ia tau kakek tua itu sedang menyindirnya perihal masa lalunya yg selalu kelam soal laki2 yg datang di kehidupannya.
malam itu,dua sahabat lama mengobrol hingga larut,kadang nana memukul kecil dan kadang tuan darius tertawa melepas kepenatannya hari ini,entah hubungan apa yg tergambar pada mereka,hanya tuhan yg tahu makna yg terdalam setiap celotehan mereka yg mengandung kehangatan seorang teman di masa senja.
__ADS_1