
"Aku tidak mau Botakkkkk, ucapku sambil tertawa".
(aku tertawa karena hari itu, dia sudah pangkas sampai satu sisir gitu).
"Ulangi dong panggil aku botak, ucapnya".
"Astaga kamu pikir ini drama kayak di sinetron?, ujarku".
"Kalau kamu tak mau memberitahu nomor hp dan Borumu, aku akan teriak dan bilang kalau kamu telah mencuri hatiku, ucapnya".
"Astaga, kejiwaanmu memang sungguh terganggu. aku tak mau, paham gak sih?, gumamku".
---------Angkutan Umum tiba---------
Tiba-tiba lelaki seksi itu memasukkan secarik kertas ke dalam kantong plastik ku.
"Sita, hubungi aku ya dari WhatsApp".
aku tak sedikitpun menoleh kepadanya sampai angkutan yang aku tumpangi berlalu dari hadapan nya.
Sesampai dikos aku membuka kertas itu yang berisikan nomor handphone. Aku tak tahu itu nomor hp siapa, yang jelas aku mencoba untuk ngesave nomor tersebut.
Aku coba untuk memastikan kalau saja nomor ini tersambung dengan WhatsApp.
Yappppp.... benar saja. Nomor tersebut terhubung dengan WhatsApp.
Ternyata oh ternyata
Nomor WhatsApp tersebut adalah milik lelaki seksi itu dan yang membuat aku semakin bingung yaitu foto profilnya dengan memakai pakaian ala" dinas Akademi Militer gitu.
"Oh My God"
"Apa benar dia Anak Akmil?"
Rasa penasaran ku semakin tak karu"an.
Aku memberanikan diri mencoba untuk ngechat dia.
__ADS_1
"P"
"ya, jawab chat nya".
sontak aku langsung tarik kembali pesan ku dan tiba-tiba nomor tersebut menelepon ku.
"Aduh, bagaimana ini? aku harus jawab apa?"
Aku tak berani mengangkat nya sampai panggilan itu berakhir.
"Angkatlah Sita, aku tahu ini kamu, chat dari lelaki itu".
Setelah pesan itu ku baca, tiba" panggilan dari nomor laki" seksi itu kembali meneleponku.
...Putus lagi cintaku...
...Putus lagi jalinan kasih...
...Sayangku dengannya...
...Cuma karena rupiah...
...Tak mau menatap lagi...
...Kecewa, kecewa hatiku...
...Terluka karena cinta...
(itu nada dering WhatsApp ku.hehhehe)
Tanpa aku sadari, aku mengangkat panggilan darinya.
"Halo Sita, apa kamu mendengarku?"
"Hmmm, jawabku".
"Setelah aku tahu nomor handphone mu, boleh tidak aku tahu Boru kamu?, tanyanya".
__ADS_1
"Manik, jawabku".
"Hah, Manik?, paribanku lah kau Sita. Mamakku Boru Pasaribu, jawabnya".
"Terus?, tanyaku".
"jangan lah cuek cuek pariban. Boru Manik gadak yang jutek-jutek, jawabnya".
"Sudah, tanyaku?"
"Belum, aku belum puas untuk berkenalan dengan mu setelah kamu ingin meneriaki ku di taman dan kamu meninggalkan ku begitu saja di depan supermarket. Tega banget sih kamu Sita, jawabnya".
"Apa sih, gak jelas banget, jawabku".
"Ok, baiklah. Kalau Sita tidak keberatan, boleh tidak Sita ganti jadwal olahrga jadi hari Sabtu. Soalnya aku gak bisa lagi untuk olahrga di hari Rabu. Mulai mingu ini jadwal kami padat banget dan hanya Sabtu bisa olahraga keluar dari wilayah, jawabnya".
"Aku tak berolahraga lagi, ujarku".
"Masa iya sih, gara" aku gak mau olahraga lagi?"
"Bukaaaannn lohh, ihhhh nyebelin banget sih jadi manusia".
"yasudah, aku tunggu kamu Sabtu depan ya di Taman. Kita olahrga bareng, jawabnya".
Dan entah mengapa aku hanya diam aja waktu itu.
"Aku matikan ya Sita telponnya, jangan pikirin aku malam ini. aku baik-baik saja dan tidak macem" disini", ucapnya".
"Ihhh apaan, aku gak akan ngasih ruang sedikitpun untuk memikirkan mu. Dasar laki-laki genit, sedikit nada marah".
"Ok baiklah, semoga itu benar. Jangan lupa mandi, makan dan beristirahat lah yang cukup, ujarnya".
dan aku hanya diam
"Bye Sita"
......…...……Telpon Terputus......
__ADS_1
"Emang dia siapa harus aku pikirkan?"