Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Papa Enggar Bos penting


__ADS_3

"Bagaimana mungkin aku bisa jauh darimu? Aku bisa mati" ucapku sambil mengelus rambut Enggar.


Malam itu Enggar berkunjung ke apartemen ku.


"Emang kenapa?" tanya Enggar santai karena ia sedang bermain game.


"Pak Christian ingin menempatkan ku di Papua di salah satu anak perusahaan ku" ucapku kesal.


"Ha?" ucap Enggar dengan ekspresi marah.


Enggar langsung mematikan game nya dan mencoba untuk menghubungi pak Chong tetapi tak ada jawaban.


"Kamu nelpon siapa?" tanyaku heran.


"Kamu gak boleh keluar dari Sumatera. Enak saja mereka sesuka hati memindahkan kamu" ucap Enggar kesal sambil sesekali berjalan kian kemari.


"Kamu kenapa semarah itu? Lagian kamu gak kenal mereka. Udah deh sayang. santai aja. Siapa juga yang mau ditempatkan disana" jawabku memeluk Enggar dari belakang.


Enggar menggemgam tanganku dan...


Rappppppp.......


Enggar mengecup bibirku dengan hangat.


"Aku tak mau kamu jauh dariku" ucap Enggar sambil mengecupi bibirku.


"Aku bisa gila" ucanya memeluk erat tubuhku.


"Iya" jawabku membalas ciuman bibir dari Engggar.

__ADS_1


"Sayanggg....tadi pemilik saham terbesar yang katanya orang penting di perusahaan kami tak jadi berkunjung. Entah apa yang membuat nya tak jadi berkunjung" ucapku heran sambil memandangi tingkah Enggar yang bermain dengan kucingku.


Enggar sempat bingung mengapa orang tersebut tak jadi berkunjung, dimana orang tersebut tak lain adalah Papanya.


Sampai saat ini Sita belum mengetahui bahwa pemilik saham itu adalah papa Enggar. Tapi karena Enggar kurang memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya, jadi Enggar tak pernah menerim kabar dari keluarganya selain pembantu rumahnya yang memberitahu.


Enggar permisi untuk keluar apartemen Sita dengan alasan membeli makanan.


"Halo Mba" ucap Enggar menelepon pembantu nya yang da di Pekan baru.


"Halo Gar" jawab nya.


Enggar dan pembantunya terbilang sangat kompak. Sehingga Enggar memarahi mba Laras kalau ia memanggil nya tuan. Panggil saja Enggar.


"Papa gak jadi terbang ke Medan ya?" tanya Enggar penasaran.


"Mama sakit apa mba? Kok bisa sampe drop banget gitu" tanya Enggar.


"Sebenarnya Gar, ibu udah lama banget pengen ketemu kamu. Ibu kangen deh sepertinya sama kamu. Beberapa hari ini Ibu gak mau makan, selalu aja mengurung diri di kamar. Biasanya rumah kita rame dengan teman-teman arisan ibu. Ibu juga jadi jarang ke mall" jawab Mba Laras.


"Yasudah mba. Tolong jaga mama ya. Aku tak lama lagi akan selesai berdinas dari sini" ucap Enggar.


Enggar langsung menelpon mamanya.


"Halo ma, mama sakit?" tanya Enggar sedih.


"Iya sayang. Cepat lah kembali. Mama rindu" jawab Mama menangis.


"Iya ma. Enggar akan kembali beberap bulan lagi. Mama janji gak boleh sakit lagi ya. Tunggu Enggar pulang" ucap Enggar yang juga ikut bersedih.

__ADS_1


Enggar kembali ke apartemen Sita membawa martabak kesukaan Sita.


"Kenapa raut wajah kamu gitu sih sayang? Kesambet apa disana?" tanyaku sambil mengambil segelas air putih.


Enggar tetap saja tak mau membalas pertanyaan ku.


Mungkin saja dia sedang lelah.


Hampir setengah jam Enggar tak berbicara.


"Kenapa sih sayang?" tanyaku sambil memeluk nya.


"Gak apa-apa sayang" jawab Enggar dengan wajah datar.


"Aku melakukan kesalahankah? tanyaku heran.


"Siap salah komandan" ucapku memberi hormat kepadanya.


"Aku akan push up komandan untuk membayar kesalahanku" ucapku sambil mengambil posisi push up.


"Sayanngggggg....." ucap Enggar mulai tertawa dan bersiap naik ke tubuhku yang saat itu dalam posisi push up.


Drapppppppp....


Enggar memelukku dari belakang.


"Ihhh hhh sayang, encokkk nihh pinggang aku" ucapku tertawa karena ia menggelitikiku.


"Biarin" ucap Enggar membalikan tubuhku dan langsung menciumi bibirku.

__ADS_1


__ADS_2