
Sesampai di apartemen Sita langsung istirahat.
Tubuhnya sudah sedikit segar ketika minum teh Okra hangat buatan mba Dien.
Tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.35 Wib.
Sita bergegas mandi karena Enggar akan datang ke apartemen.
"Tinningggg....tinnningggggg" suara bel apartemen Sita.
"Hai sayang" ucapku sambil membawakan tasnya.
"Hai. Kamu kenapa pucat sayang? Kamu sakit ya?" tanya Enggar mengajak Sita duduk.
"Gak, hanya pusing aja. Tadi aku sempat pingsan di kantor. Pak Jufri yang ngantar aku ke sini" ucap ku.
"Ha pingsan? Kenapa gak bilang-bilang sama aku? Sayang gimana sih? tanya Enggar memandangiku dengan mata berkaca-kaca.
Belum sempat aku menjawabnya, ia sudah kembali berbicara.
"Sayang, jangan sakit dong" ucap Enggar memelukku.
Aku gak mau Sitaku sakit" ucap Enggar menangis yang kembali memelukku erat.
"Aku gak apa-apa sayang, sungguh" jawab Sita.
Aku hanya kelelahan. Aku kurang istirahat. Banyak proyek kantor yang harus aku periksa. Jadi wajar sih aku kelelahan.
"Ok, besok aku telpon pak Chong agar memberimu waktu untuk cuti satu bulan" ucap Enggar mengambil handphone nya dengan niat menelepon pak Chong.
"Ha pak Chong? Darimana kamu tahu nama bos aku yang? Aku gak pernah cerita loh sama kamu" ucap Sita keheranan.
__ADS_1
Enggar yang tidak sadar mengucapkan itu sontak kaget karena selama ini ia ingin menutupi rahasia keluarganya dari Sita.
Ia lupa kalau ia harus bersikap pura-pura agar Sita tak mengetahuinya.
"Bukan sayang. Aku tak mengenalnya. Kamu kan pernah cerita tentang pak Chong" jawab Enggar.
"Kapan ya yang? Sepertinya aku gak pernah cerita deh tentang pak Chong" ucap Sita.
"Kamu lupa deh kayaknya yang. Yaudahlah lupakan sayang" ucap Enggar.
"Jadi gimana sekarang? Masih pusing gak? biar kita ke dokter aja langsung" ujar Enggar.
"Gausah sayang. Aku hanya kelelahan. Aku hanya butuh istirahat" jawabku menangkup wajahnya.
"Yaudah deh. Aku masak ya untuk kamu" ucap Enggar sambil berjalan menuju dapur kecilku.
"Aku akan masak untuk kekasihku yang sedang sakit ini. Aku tak mau dia lelah. Aku tak sanggup melihatnya tak berdaya seperti ini" ucapnya mengomel sambil memotong ikan salmon diatas telenan.
"Terimakasih lelaki seksi ku" Ucap Sita.
"Masak ihhhh" ucapku memandang nya dengan senyuman tipis.
"Siap calon ibu Persit" ucapnya mendekat dan mencium keningku.
Aku bersyukur disaat aku sakit seperti ini, Enggar mau meluangkan waktunya untuk bersamaku.
"Sayang.....makasih ya" ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Hmmmm. Mulai lagi" jawab Enggar menatapku. Kenapa harus sedih sih? Cengeng banget. Apa yang harus disedihkan?
"Tak ada. Aku sedih kalau melihatmu meninggalkan ku" ucapku menangis semakin menjadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Enggar mendekap tubuhku.
"Aku lagi masak loh. Kenapa jadi gampang mewek gitu sih. Sita yang aku kenal kuat loh, ceria, periang. Kenapa jadi melankolis berlebihan gini sih?" tanya Enggar memeluk ku.
"Jangan gitu dong sayang. Aku bakalan terus sama kamu. Aku janji. Kalau aku udah selesai dinas disini, aku bakalan bawa kamu ke rumah orangtuaku, kita akan menikah. Jadi plisss kuatlah" ucap Enggar menggenggam tanganku.
"Iya sayang" ucapku menghapus air mataku.
Entah mengapa malam itu begitu dingin bagiku. Aku merasa kesunyian dalam ruangan itu.
Rasanya aku tak berdaya. Aku takut kehilangan Enggar. Aku takut kehilangan orang-orang yang ada disekitar ku, orang-orang yang menyayangiku.
Rasa cemas dan takut tiba-tiba menghantuiku. Aku tak tahu kenapa itu terjadi.
Enggar sudah selesai memasak dan kami makan malam.
"Enak gak sayang" tanya Enggar.
"Enak lah, buatan sayang aku pasti enak dong" jawab Sita merayu nya.
"Siapa dulu dong!!!" ucap Enggar sedikit sombong.
"Besok aku kesini lagi kamu harus udh sehat, fresh, bugar ya sayang" ucap Enggar.
"Siap sayang. Aku akan istirahat yang cukup" jawab Sita.
Jam menunjukkan pukul 20.00 Wib.
Enggar pamit untuk pulang lebih awal dari apartemen Sita supaya Sita bisa istirahat lebih cepat.
Enggar mengelus-elus rambut Sita.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya sayang" ucapnya sembari meninggalkan apartemen Sita.
Sita istirahat lebih awal dari biasanya.