
"Sampai di depan kos, kamu nanti langsung pulang aja, ucapku dengan sedikit memaksa kepada Enggar".
"Lah, kenapa langsung pulang. Aku kan mau jumpa sama calon mertua ku. Gimana sih, tanyanya sambil tertawa".
"Kamu jangan macem-macem ya Gar. Kamu jangan sampai buat aku jadi orang jahat, ucapku sambil kembali mencubitnya".
"Aduhhh duhhhh. Sakit tau Ya ucap Enggar sambil mengelus pinggangnya yang kucubit".
" Ya maaf.. kan cuman sikit aku nyubitnya, ucapku sambil mengelus pinggang nya".
Tiba-tiba ia meraih tanganku dan menyekatkan tanganku untuk ke pinggang nya.
"Plissss, jangan dilepas sampai aku antar kamu di depan kosan, ucapnya dengan nada minta tolong".
entah kenapa aku nurut aja gitu....
--Sampai di kosan--
"Horas... ucap Enggar menyapa mama dan Lamhot yang duduk di depan kosan".
"Horas, ucap mama dengan sedikit bingung".
"Saya Enggar Putra Nadeak nantulang, ucap Enggar sambil mengulurkan tangannya ke mama dengan badan sedikit menunduk".
"Oh iya. Saya mama nya Sita. Duduk lah nak, ucap mama".
"udah ma, dia gausah duduk. Dia mau langsung pulang katanya, ucapku sambil melotot ke arahnya".
"kenapa cepat pulang? baru aja sampai, ucap mama".
"Iya nantulang, pengennya sih ngobrol" dulu, jawab Enggar".
"Yaudah duduk aja dulu nak, gak usah hiraukan ucapan Sita. Dia memang begitu. Sedikit cerewet, ucap mama sambil menarik tanganku dan memberikan kursi kepada Enggar".
Aku sedikit memasang wajah kesal karena ibu membelanya.
"Ini nantulang bandreknya, ucap Enggar sambil menyerahkan sebuah plastik hitam berisi bandrek tersebut".
__ADS_1
"Oh iya, makasih nak, ucap mama.
Aku menuangkan bandrek itu ke dalam gelas sambil sesekali melotot kepada Enggar.
"Kamu teman Sita atau pacar Sita?, tanya mama sambil menebar senyum kepada Enggar".
" Saya.....
"Dia cuman teman aku kok ma. Teman olahrga kalau di taman, ucapku dengan buru-buru".
"Sitaaaa... jangan di potong ihh pembicaraan mama dengan nak Enggar, ucap mama".
" Maaf ma, tapi kan Sita juga bisa menjawab pertanyaan mama, ucapku sambil melotot kembali kepada Enggar".
"Sitaaa...udah ahh. Mama mau bicara dengan teman kamu ini, jawab mama".
"Jadi nak Enggar tinggal dimana?, tanya mama penasaran karena Enggar masih menggunakan pakaian dinasnya malam itu".
"Saya tinggal di Perumahan Mas Deli ini Bu, tidak jauh dari sini".
"Gak kok nantulang. Lagian mama sama papa tinggal di Pekanbaru. Saya di Medan tinggal dengan Namboru nantulang. Sebelum nya saya tinggal di barak nantulang, jawab Enggar dengan sopan".
"Oh begitu. Yaudah. Harus baik-baik ya bekerja disini. Harus bisa membanggakan orangtua dan keluarga disana, ceramah mama malam itu".
"iya nantulang, jawab Enggar".
Malam sudah semakin larut...
Mama, Enggar dan bang Lamhot terus bercerita dan bercanda gurau sambil sesekali membicarakan masa kecilku. Setiap mama membicarakan masa kecilku, tawa Enggar paling kencang dan langsung memandangku dengan senyuman tipisnya.
Aku menyela pembicaraan mama, Lamhot dan Enggar.
"Kamu pulang gihhh Gar, ucapku kepada nya".
"iya, ini aku mau pulang, jawab Enggar".
Tiba-tiba Enggar menarik tangan mama ku dan bilang
__ADS_1
" Nantulang, aku pengen menikahi anak nantulang, kelak setelah dia menyelesaikan kuliahnya. Dan malam ini aku meminta izin kepada nantulang, boleh gak aku mempersunting Sita menjadi kekasihku, ucap Enggar sambil menundukkan kepalanya".
"Nantulang gak bisa menjawab itu nak. Yang berhak menerima cintamu hanya Sita. Nantulang setuju-setuju aja kalau Sita memang bahagia, jawab mama sambil mengangkat tubuh Enggar dan menepuk pundaknya".
"Terimakasih nantulang, jawab Enggar".
aku terdiam dan speechless mau nangis gitu. aku terbawa suasana ketika dulu Kael berbuat seperti itu kepadaku.
aku takut untuk memulai kembali
aku takut peristiwa sebelumnya terjadi kembali
Mama memelukku dan bilang
"Tidak apa-apa kalau belum bisa dijawab sekarang, ucap mama sambil menenangkan aku".
Mama berpikir kalau aku tak menyukai Enggar.
"Aku pulang ya nantulang, ucap Enggar sambil menyalam tangan mamaku".
Enggar melihatku dengan mata berkaca-kaca dan penuh harap seakan memberi kode agar aku menjawab pernyataan dia tadi.
Enggar merasa bersalah karena melihatku sedih setelah ia meminta restu dari mamaku. Dalam pikirannya bergejolak hebat kalau Mama berpikiran aneh kepadanya sampai membuatku menangis seperti itu. Ia takut mama tak merestui karena tingkah nya selama ini terhadapku. Padahal aku sedih bukan karena itu, tapi karena suasana tadi seperti membawaku ke kisah cintaku dulu yang menyakitkan.
"Ya biarlah. lagian enggar udah balik, pikirku".
Kami masuk ke rumah dan bg Lamhot pamit pulang.
"Aku balik ya nantulang, Ta ucapnya".
"Iya Hot, hati-hati ya bere, jawab mama".
"Ok nantulang awak, jawab Lamhot sambil berlalu menggunakan sepeda motornya
(Jadi semenjak Enggar sering menelpon, menanyakan Sita, mengkhawatirkan Sita, Ia sudah jatuh cinta kepada Enggar. Tetapi rasa trauma yang masih menghantuinya ketika bersama El, membuatnya tidak bisa memutuskan isi hatinya untuk bertindak seperti apa kepada Enggar yang ternyata TELAH MENCINTAI ENGGAR).
jangan lupa like dan vote terus ya
__ADS_1