
Sudah hampir setengah jam kami menunggu Enggar.
Tiba-tiba sebuah mobil putih parkir di depan kos ku. Aku tak menghiraukannya karena seperti biasa juga banyak mobil yang parkir di depann kos ku.
Seorang lelaki tampan keluar dari mobil putih itu.
Ternyata Enggar kembali dengan membawa mobil putih itu.
“Ayo nantulang, ucap Enggar mengajak mama dan aku untuk masuk ke dalam mobil itu”.
“Oh iya nak, jawab mama”.
Kamu bawa mobil siapa?, tanyaku kepada Enggar sambil mencubit pinggangnya”.
“Masuk aja dulu sayang, ucap Enggar untuk pertama kali nya ia memanggilku dengan sebutan itu”.
Ketika aku mau masuk dengan maksud satu kursi dengan mama, tiba-tiba mama menyuruhku untuk duduk di depan bersama Enggar.
Enggar juga masuk ke dalam mobil sambil menatapku dengan senyuman manis dari lesung pipinya.
“Kita jalan kemana dulu ini sayang, tanya Enggar sambil tersenyum malu”.
Ia memanggilku dengan sebutan sayang agar aku memarahinya. Seperti nya ia senang kalau melihatku marah.
Benar saja. Aku mencubit pinggangnya dengan mata melotot.
“Jangan panggil sayang kalau ada di depan mama, ucapku sambil berbisik dengannya”.
“Kan nantulang di belakang, bukan di depan, jawab Enggar meledekku”.
“Ihhhh kamu ya. Pokoknya aku gak mau ya kalau kamu memanggil ku dengan sebutan kata itu lagi, jawabku dengan mata sinis”.
Di belakang kursi Mama bertelpon dengan Papa.
Aku mengarahkan Enggar ke toko kebaya terlebih dahulu.
“Kita ke toko X dulu ya Gar, pintaku kepadanya”.
__ADS_1
“Baik Ibu, jawabnya sambil mengepal tangannya memberi hormat kepadaku”.
Aku melirik nya dan sedikit tersenyum.
Aku memberitahu mama dengan memberi tanda syarat kalau kita belanja kebaya terlebih dahulu.
Mama hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya sebaai tanda menyetujui tujuan kita.
--------Sampai di toko X-------
“Kamu nunggu di mobil atau ikut bersama kami, tanyaku kepada Enggar”.
“Aku ikut aja ke dalam jawab Enggar”.
Mama turun terlebih dahulu dan sedikit merapikan rambutnya.
“Nanti kita lihat ya kebaya yang cocok untuk kamu, ucap Enggar menole ke arahku”.
“Ha? Kan kesini memang mau beli kebaya aku, kakak dan mama, ucapku ketus”.
“Ya kebaya yang lain dong. Aku mau memilih kebaya untuk kamu nanti, ucap Enggar menatapku dengan dalam”.
“Berantam lagi?, Tanya mama melirikku”.
“Gak loh ma, jawabku menarik tangannya menuju pintu masuk”.
“Ayo nak, ajak mama kepada Enggar”.
“Iya nantulang. Aku menyusul nanti. Aku mau ke kamar mandi dulu, ujar Enggar”.
“Oh yaudah, kami masuk duluan ya nak, jawab mama”.
Kami naik ke lantai dua sambil memilih jenis-jenis kebaya dan warna yang akan kami gunakan di pesta pernikahan bang Brian nanti. Kami keliling-keliling sesekali duduk karena capek.
Udah hampir setengah jam kami mondar-mandir memilih kebaya tapi aku belum melihat keberadaan Enggar.
Mataku liar untuk mencari tubuh Enggar.
__ADS_1
“Enggar kemana ya ma, tanya ku ke mama”.
“Ga tau mama nak, cari gihh sana, ucap mama sambil memilih kebaya berwarna pink”.
Aku mencari Enggar dari lantai satu sampai kembali lagi ke lantai dua tapi aku tidak menemukan keberadaannya.
Aku menelponnya.
“Kamu dimana Gar, tanyaku sedikit kesal kepadanya”.
“Iya ini sayang lagi bicara sama karyawan toko ini, jawabnya”.
“Mau ngapain? Penting banget ya, tanyaku”.
“Sayang udah selesai gak lihat kebayanya? Datang ke lantai satu dong sayang. Pojok sebelah kiri ada kaca besar, aku disini, jawabnya sambil menutup telpon nya”.
Aku kembali turun ke lantai satu dan berjalan menuju ke pojok kiri kaca besar.
Aku menjumpai Enggar yang saat itu telah memilih satu lipatan kebaya berwarna biru muda.
“Sayang, suka gak sama kebaya ini, tanya Enggar sambil memperlihatkan kebaya itu kepadaku”.
“Suka. Emang kamu mau beli itu? Untuk siapa?, tanyaku sedikit bingung”.
“Ya untuk kamu lah sayang, ucap Enggar sambil mencubit pipiku”.
“Untuk apa? Aku udah milih kebaya loh sama mama diatas, jawabku”.
“Emang gak boleh ya aku beliin kebaya untuk kamu, tanya Enggar menatapku manja”.
“Ya boleh-boleh aja, tapi dalam rangka apa gitu loh Gar, tanyaku”.
“Aku mau sungguh-sungguh mengikatmu. Aku pengen kamu kelak yang akan menjadi istriku. Aku membelikan kebaya ini sebagai tanda kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, ucap Enggar sambil menggenggam tanganku”.
Seketika aku langsung meneteskan air mata.
“Terimakasih telah mencintaiku Gar, jawabku melemah”.
__ADS_1
Aku terharu dengan niat Enggar melakukan ini kepadaku sebagai bukti cintanya.
Aku memeluknya erat. Enggar mengelus rambutku dan menciumnya.