Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Wisudaku


__ADS_3

Hubungan aku dengan Enggar sudah semua mengetahui


Mama, papa, saudara-saudaraku dan teman-temanku yang lain termasuk Uli sahabat ku.


Semakin hari semakin aku dan Enggar memantapkan hati untuk serius dengan hubungan kami.


Tahun ini aku akan wisuda. Tak berat bagiku untuk menyelesaikan skripsiku karena aku bergabung dengan salah satu proyek dosen di kampusku.


Tidak mudah juga untuk melewati nya tetapi semuanya berjalan dengan baik.


Tibalah hari dimana aku akan menghadiri upacara wisuda di kampusku.


"Aku udah cantik belum ma" tanya ku ke Mama sambil memperhatikan wajah ku didepab cermin.


"Cantik dong. Anak mama selalu cantik" ucap mama memujiku.


"Mama, I love you. Sita sayang banget sama mama. Terimakasih telah mendukung Sita setiap saat" ucapku sambil memeluk mama.


"Iya sayang. Mama juga sayang dengan anak perempuan mama yang cerewet ini" ucap mama mengelus rambutku yang sudah terdandan rapi.


"Halo sayang. Udah selesai? Biar aku langsung nih ke kosan" ucap Enggar dalam telpon ku.


"Iya sayang, udah selesai. Datang aja" jawabku kepada Enggar.


"Ok. Otw ya" ucap nya.


"Ayooo yokk. Semuanya udah bereskan?" tanya papa memasukkan barang-barang kedalam mobil.


"Udah pa" jawab mama.


"Bentar pa, Enggar sebentar lagi datang. Kita tunggu dia dulu" ucapku.


"Oh iya" ucap papa.


Engggar yang saat itu datang menggunakan sepeda motor bertanya.


"Aku tinggalin motor aku dikosan atau aku bawa aja gak sih" tanya Enggar.


"Kayaknya kamu tinggalin aja deh" jawabku sambil berjalan ke arah mobil.


"Pa, kalau Enggar yang bawa mobil nya bisa? Maksudnya biar Enggar yang nyetir terus motor dia ditinggalin disini aja" ucap ku ke papa.

__ADS_1


"Oh bagus nak, suruh aja ia kesini" ujar papa.


Sembari Enggar menyimpan motornya, ia berkata.


"Gak apa-apa kan aku masuk ke dalam mobil" tanya nya.


"Ya gak apa-apalah. Emang papa aku makan orang apa?" jawabku.


"Pelan-pelan sayang ihhh, nanti kedengaran nantulang sama tulang" ucapnya memandangku.


Papa yang tadi duduk di kursi depan sebelah kanan berpindah karena Enggar yang akan menyetir.


"Horas tulang. Nadeak tulang" ucap Enggar memberi salam hormat kepada papa.


"Horas, saya ayah Sita. Manik" jawab papa tegas.


"Izin ya tulang, aku yang nyetir" ujar Enggar dengan sedikit berhati-hati berbicara dengan papaku.


"Iya silahkan. Santai aja nak" jawab papa tersenyum.


Sepanjang perjalanan menuju Hotel tempat aku akan wisuda, papa dan Enggar asik sekali berbicara. Mulai dari kisah percintaan papa dulu dengan mama, tentang politik bahkan sampai hal keagamaan. Sepertinya mereka cocok untuk bersatu dengan secangkir kopi di waktu senja. Eakkkkk.


Sampai upacara wisuda selesai, Enggar selalu menemani aku dan keluargaku.


"Congratssssss ya sayang" ucapnya mencium keningku dengan mencuri-curi kesempatan ketika papa dan mama tak melihat kami.


"Aku bangga sama kamu. Semoga kita bisa segera menikah. Aminnnnnn" ucap Enggar dengan kuat.


Orang yang ada disamping kami tertawa karena Enggar benar-benar mengatakan itu dengan kuat.


"Sayang.... pindah yok. kita di tertawain loh" ajakku dengan sedikit malu-malu.


"Kenapa harus malu? Kan memang benar. Rasanya lega banget loh sayang melihat kamu wisuda" ucap Enggar menggenggam tanganku.


"Lega kenapa? Emang aku beban pikiranmu" ucapku.


"Ya beban pikiran lah. Makan ku tak kenyang, tidurku tak pulas, langkah ku melambat" ucap nya memandangiku.


"Kenapa begitu? Aku gak pernah ganggu kamu loh, apalagi kalau kerja" ucap Sita sedih.


"Bukan begitu loh sayang maksudnya. Aku udah pengen banget nikah sama kamu. Aku udah bosan tidur sendiri, bosan makan sendiri, bosan berjalan sendiri. Aku pengen ditemani kamu terus" jawab Enggar memeluk ku.

__ADS_1


" Terimakasih ya sayang" ucapku menangis.


"Ihhh kenapa nangis sih. Cengeng banget Sitaku" ucap Enggar menghapus air mataku.


Kami berjalan menuju mobil karena papa dan mama sudah terlebih dahulu pergi ke parkiran.


Mama dan papa turun duluan karena berjumpa dengan keluarga kami yang kebetulan jadwal wisuda kami bersamaan padahal beda jurusan.


Jadi papa dan mama memutuskan untuk turun terlebih dahulu agar bisa berbincang lebih lama .


"Nanti kami nyusul ya ma" ucapku melambaikan tangan ke mama.


Setelah hampir setengah jam kami berfoto-foto dengan teman-temanku termasuk Uli, Enggar mengajakku untuk berfoto.


Kali ini kami tak lagi canggung untuk berfoto.


Enggar merangkul ku dan memegang erat tanganku.


"Sit, aku mau menjumpai Rino dulu ya" ucap Uli melambaikan tangannya.


"Iya Uli, makasih ya udah datang" jawabku.


Maklum saja, Uli sedang jatuh hati pada Rino yang tak lain adalah ketua kelas kami ketika duduk di bangku SMA. Saat itu Rino juga sedang melangsungkan upacara wisuda bersama ku.


"Yaudah deh yang. Ayo turun kebawah. Manatau mama sama papa nungguin kita" ajakku kepada Enggar.


Waktu itu Enggar memintaku agar kita naik lift aja karena ribet kalau turun dari tangga menggunakan rok begini.


"Naik lift aja yok yang, lama nyampe nya sampai lantai satu, ucap Enggar mengajakku.


"Yaudah yang" balasku.


Saat itu kami berada di lantai 3.


Yah sedikit mengurusa tenaga juga kalau turun melewati tangga.


*******************


Jangan lupa like dan dikoment ya teman-teman


Biar saya makin semangat melanjutkan

__ADS_1


__ADS_2