
Tibalah waktunya
Enggar harus kembali berdinas ke domisili tempat ia tinggal yaitu Pekan Baru.
Sita begitu bahagia ketika mendengar bahwa Enggar akan segera kembali ke Pekanbaru.
Sita sudah bolak-balik menelepon mama dan papa nya bahwasanya sebentar lagi putri nya akan segera dilamar Enggar. Ia benar, pernikahan yang Sita impi-impikan sudah didepan mata.
Tidak dengan Enggar, ia sedikit tidak bahagia dan sedikit khawatir karena akan berjumpa dengan keluarganya.
Bagiamana tidak? Hubungan mereka renggang ketika Enggar memutuskan untuk masuk sebagai prajurit TNI.
"Besok kita akan terbang ke Pekan Baru. Persiapkan semuanya ya" ucap Enggar mencium ku.
"Iya sayang" jawabku.
Hari itu, perasaan Enggar campur aduk. Ia bahagia karena akan memperkenalkan Sita kepada orangtuanya, disatu sisi ia takut dengan mama dan papa nya yang tak menerima kehadiran mereka.
Enggar tak pernah menceritakan hal itu kepada Sita. Ia tak mau Sita sedih dan takut sama hal nya dengan Enggar.
Enggar selalu memberi pengertian kepada Sita.
"Mama dan papa ku baik. Tenang saja" ucap Enggar selalu meyakinkan Sita dan juga hatinya sendiri yang gundah gulana.
Enggar tak menelepon mama dan papa nya bahwasanya ia akan kembali ke Pekan Baru.
"Sayang, kenapa kita harus nginap di hotel?" tanya Sita penasaran.
"Gak apa-apa sayang, biar suprise aja ketemu mama papa besok pagi" ucap Enggar meyakinkan Sita.
Kami tiba di bandara sekitar pukul 17.00 Wib. Kami mengambil tiket penerbangan di sore hari karena aku harus mengurus surat cuti dan juga membereskan pekerjaan ku yang belum selesai di kantor.
__ADS_1
Jadi Enggar memintaku untuk bermalam di hotel terlebih dahulu sampai besok pagi.
Selama di Hotel, tak sedikitpun wajah Enggar memperlihatkan perasaan bahagia.
Sita sesekali menanyakan Enggar terkait wajah nya yang kian dekat ingin berjumpa keluarganya semakin tak bahagia.
"Aku bahagia kok. Aku hanya saja deg-degan karena membawa seseorang bidadari cantik yang akan bertambah dalam anggota keluargaku" ucap Enggar selalu menyemangati ku.
Tak dipungkiri, Sita juga deg-degan bercampur bahagia.
"Halo pak. Kami sudah berada di lobi hotel" ucap Enggar kepada driver.
Kami langsung menuju rumah Enggar.
Mobil itu mulai memasuki kawasan perumahan yang sangat elit karena sepanjang perumahan yang kami lewati semua rumah dan pemandangan yang ada sangat bagus-bagus.
"Sayang, bagus-bagus banget ya rumahnya" ucap Sita terheran-heran sambil sesekali menunjuk beberapa rumah yang ia inginkan.
"Iya sayang" jawab Enggar dengan wajahnya yang selalu sederhana.
Seketika Sita tercengang heran melihat betapa besarnya rumah Enggar.
"Ini rumah kamu sayang?" tanya Sita yang mulai takut, gemetar dan ragu.
"Iya sayang, Ayo masuk" ajak Enggar sambil memanggil satpam rumahnya.
"Halo pak. Selamat pagi. Kapan sampainya pak" ucap satpam itu.
"Selamat pagi pak. Semalam saya sampainya. Papa sama Mama ada?" tanya Enggar takut.
"Ada pak. Masuk aja" jawab nya.
__ADS_1
Satpam itu membawa semua barang-barang kami untuk dibawa ke dalam rumah.
Aku memandangi sekeliling halaman rumah itu yang begitu indah.
Kami berjalan menuju pintu masuk rumah Enggar. Enggar selalu menggenggam erat tanganku. Hatiku sudah semakin tak karuan ketika mendengar teriakan dari dalam rumah itu.
Enggar semakin menggenggam erat tanganku dengan maksud mengalirkan energi untuk tidak takut.
Saat itu papa masih ada di kamarnya di lantai dua dan mama berada di dapur dengan mba Laras.
Ia memanggil-manggil anjingku yang saat itu berlari ke taman belakang halaman rumah ku. Itu sebabnya, suara ribut itu terjadi.
"Halo ma" Ucap Enggar menangis memeluk mamanya.
"Sayanggggg....." ucap mama nya menangis memeluknya erat.
Mereka menghabiskan waktunya sejenak untuk saling memeluk, mengobati rasa rindu yang sudah semakin membara.
"Ma, perkenalkan ini Sita. Ia kekasihku" ucap Enggar bangga memperkenalkan Sita kepada mamanya.
" Halo namboru. Boru Manik aku namboru" ucap Sita mengulurkan tangannya sambil menunduk.
Sejauh ini mama Enggar menyambut kami dengan hangat.
Aku semakin pede dan berani untuk melangkah lebih jauh dengan Enggar.
Aku semakin penasaran dengan papa Enggar yang sedari tadi tak kunjung turun dari lantai dua.
"Papamu mungkin sedang ada kerjaan" ucap mama dengan raut wajah sedikit ragu.
"Aku ke atas dulu deh ma jumpai papa" ucap Enggar berlari ke lantai dua.
__ADS_1
Sita dan mama Enggar menunggu di ruang tamu sambil berbincang-bincang tentang perjalanan mereka sampai tiba di Pekan Baru.
Mama Enggar sedikit ketus dalam berbicara tetapi karena perasaan bahagiaku lebih besar dari itu semua, aku menganggapnya biasa saja.