Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Aurora


__ADS_3

Suasana kantor di pagi itu sangat sunyi karena Sita terlebih dahulu masuk ke kantor dan bekerja di dalam ruangannya sebelum rapat di mulai.


Pukul 08.00 tepat, seluruh manager dan asisten berkumpul dalam ruang rapat seperti yang telah di sampaikan oleh Radit sebelumnya.


"Selamat pagi semuanya. Pagi ini kita akan mengadakan rapat terkait program-program yang akan kita kerjakan untuk memajukan perusahaan ini. Saya minta keseriusan dan konsentrasi dari semua bapak ibu sekalian" ucap Radit dengan tegas.


"Saya persilahkan kepada saudari Sita untuk memulai mempresentasikan program kerja kamu".


"No..no... Saya yang harus terlebih dahulu mempresentasikan program kerja saya" ucap Aurora dengan wajah sinisnya sambil berdiri.


"Saya tidak menyuruh kamu Aurora" Radit berdiri seolah memerintahkan Aurora untuk duduk kembali.


"Isssss. Kamu kok gitu sayang" Aurora merayu.


"Ini rapat ya Aurora. Kamu harus profesional. Jangan membuat ulah" ucap Radit dengan suara tinggi.


Aurora duduk kembali dan memasang raut wajahnya yang sinis.


Sita memaparkan program kerja yang telah ia persiapkan sebelum ia akan dipindahkan ke kantor itu.


Ia membuat sistem buka tutup dalam mengoperasikan seluruh sumber daya yang ada di Perusahaan itu. Sita juga akan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain untuk mempermudah akses bisa melakukan ekspor dan masih banyak lagi sistem yang harus dibenahi oleh Sita guna kemajuan perusahaan itu.


Semua orang disana terkagum heran melihat ketegasan dan kharisma Sita ketika memaparkan program kerja itu. Mereka kagum bangga dengan program kerja Sita yang akan diterapkan apabila disetujui oleh semua para petinggi-petinggi yang ada di kantor itu.


Mata Radit tak sedikitpun berkelip untuk memandang Sita yang manis.


Matanya terus memandang ke arahnya dengan tenggukan kedua tangan nya diatas meja.


"Kalau di lihat-lihat wanita itu berkharisma sekali. Cantik dan manis pula. Tubuh seksi nya membuat ku sedikit canggung untuk menatapnya" Pikir Radit dalam benaknya.


"Saya kembalikan kepada pak Radit. Terimakasih" ucap Sita mengakhiri presentasi nya.


Radit yang sedari tadi melamun memandangi Sita tetap pada posisi lamunannya.

__ADS_1


"Pak"


"Pak"


Gandi memanggil Radit seolah ingin menyadarkannya.


"Oh iya. Bagus-bagus. Cukup Bagus. Bagaimana tanggapan bapak ibu sekalian" tanya Radit yang gugup karena selalu memperhatikan Sita.


"Saya kurang setuju dengan program kerja kamu. Semua nya itu pasti tidak bisa dilakukan di kantor ini. Itu tidak akan berhasil. Lihat saja, bagaimana kerjasama kita dengan perusahaan yang ada di wilayah timur ini. Kita tidak pernah bekerjasama dengan siapapun" ucap Aurora yang terus menolak program kerja Sita.


"Itulah salah satu penyebab mengapa perusahaan ini tidak pernah maju. Tidak pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Tidak pernah membuka kesempatan dengan perusahaan lain untuk bekerjasama. Apa salah nya? Tidak rugi malahan untung. Ingat, pemasaran kita tidak hanya di Indonesia saja, dua bulan ke depan saya akan mendobrak agar kita juga bisa melakukan pengeksporan" ucap Sita kembali menegaskan.


"Sombong banget kamu. Kita lihat saja wanita tolol" ucap Aurora menghina Sita.


"Saya juga sudah tahu kok mengapa perusahaan ini tidak maju. Karena ada beberapa oknum yang bermain mengambil keuntungan dari sumber daya kita. Orang yang menolak program kerja saya ini, yang saya simpulkan sebagai pelaku penipuan dalam perusahaan ini" ucap Sita dengan nada tinggi seolah marah akan struktur perusahaan yang terjadi disana tidak teratur dan seperti bersifat kekeluargaan.


"Heeeeh??? Kamu memfitnah saya ya? Kamu pikir saya korupsi? Ha? ucap Aurora yang berusaha ingin menjambak rambut Sita.


"Duduk... Duduk semua. Kalau memang kamu memiliki program kerja yang lebih bagus dari Sita, kamu presentasi sekarang di hadapan kami" Ucap Radit berbicara ke arah Aurora.


"Kenapa perusahaan ini tidak maju? Karena telah mempekerjakan seorang pemimpin bobrok seperti ini. Etika seorang pemimpin tidak seperti ini" ucap Sita dengan tegas.


Aurora yang mendengar cibiran pedas dari Sita mulai gila dan menarik baju Sita dan langsung menamparnya.


Plakkkk...


suara tamparan itu sontak menenangkan keributan yang terjadi.


"Kamu wanita tidak tahu diri. Kamu hanyalah wanita buangan dari Medan yang datang kesini untuk bisa menghirup udara segar. Bagaimana tidak? Kamu ditinggal menikah oleh pacar kamu. Dan ketika kamu tahu Enggar dan istrinya akan bekerja di Medan, kamu langsung terbang kesini. Kenapa? Kamu malu? Gak sanggup?


Sadar!!!


Kamu itu wanita lemah. Kamu itu wanita yang tidak bisa menerima cinta siapapun. Cinta kamu itu rapuhhhhh seperti ini" Aurora membakar secarcik tisu dan menginjak-injak abu nya yang jatuh ke lantai.

__ADS_1


Sontak saja Sita menangis dan lari pergi meninggalkan ruangan itu.


Radit yang melihat kejadian itu hanya terdiam bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Keluar kamu Rora. Kamu tidak pantas ada di ruangan ini" ucap Radit membentak nya.


Hiksssss...... hiksssss.... hikkkssssssss


"Aku pikir aku akan menemukan kebahagiaan di kota ini".


"Benar... Aku ini wanita lemah. Cintaku memang rapuh. Cintaku memang selalu dipatahkan"


Hiksssss... hiksssss


Sita terus menangis meratapi hidupnya yang selalu diterpa masalah.


Tokk.....Tokkkk....


Sita menghapus air matanya dan bersikap ramah seperti biasanya.


"Masuk" ucap nya yang pura-pura memperhatikan komputer yang ada di hadapannya.


"Kalau memang mau nangis, nangis aja. Gak ada yang larang. Nangis aja sepuasnya" ucap Gandi mengumpulkan laporan produksi di atas meja Sita.


"Tidak. Saya baik-baik saja" ucap Sita.


"Aurora memang seperti itu. Dia selalu berbicara sesuka hatinya. Dia tak pernah memikirkan perasaan orang lain. Jadi harap maklum lah dengan wanita gila sepertinya".


"Tidak. Dia tidak salah. Dia benar. Aku hanyalah wanita yang sebenarnya tak pantas untuk dicinta" mata Sita mulai berkaca-kaca membendung air matanya.


"Tenang saja, pada akhirnya akan ada lelaki baik dan setia yang akan mencintaimu dengan tulus" ucap Gandi meninggalkan ruangan Sita.


Tanpa sadar ternyata Radit sebenarnya ingin masuk kedalam ruangan Sita dan bermaksud ingin menenangkannya tapi apa daya, Gandi sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan Sita.

__ADS_1


Radit kembali pergi ketika mendengar suara ketukan kaki Gandi menuju pintu keluar ruangan Sita.


"Shtttttt.... Kenapa aku harus ke ruangan dia? Biar saja dia bersedih. Toh dia juga bukan siapa-siapa ku" ucap Radit ngedumel dengan dirinya sendiri.


__ADS_2