
Sebentar saja Enggar menemui papanya dan turun kembali menemui kami yang sedari tadi mengobrol dengan mama nya.
Kami masih mengobrol tentang bagaimana perjalanan kami sampai ke sini.
Aku belum menceritakan sedikitpun tentang hubungan, rencana dan tujuan kami bersama Enggar kedepannya.
Maklum saja, mama Enggar selalu menceritakan bagaimana Enggar hidup sedari kecil dengan kemewahan dan harta yang mereka miliki.
Jadi aku tak sedikitpun berkesempatan untuk berbicara intens tentang hubungan kami.
"Tak apalah, namanya juga masih perkenalan" pikirku.
Wajah Enggar tampak lesu dan tak bersemangat.
Mama Enggar sudah mengetahui hal itu. Bahwasanya papa nya masih marah kepada anak nya Enggar dan belum bisa menerimanya.
Enggar anak semata wayang mereka, tetapi Enggar tak mau melanjutkan bisnis yang telah dibangun papanya sedari dulu dan memilih menjadi seorang prajurit TNI.
"Kamu kerja dimana?" tanya mamanya.
"Saya bekerja di salah satu perusahaan impor minyak kelapa sawit namboru, PT P***** Indonesia" ucapku pede dan sedikit bangga.
Kala itu Enggar sudah tak lagi bisa mengontrol dirinya. Ia terlihat gugup dan cemas. Tampak dari tingkah tangannya yang sesekali ia mainkan di kakinya dan tertunduk lesu.
Aku tak tau apa yang membuat nya bersikap seperti itu yang membuatku semakin gerogi menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan mamanya.
Ketika aku menjawab pertanyaan mamanya. Mamanya memandang Enggar dengan sinis.
Dan tiba-tiba saja mamanya bersikap sinis kepadaku dan meninggalkanku begitu saja.
Mamanya naik ke lantai dua dengan wajah muram.
__ADS_1
Aku semakin bingung dan merasa aneh dengan keadaan ini.
"Sayang, namboru marah ya?" ucapku heran dan sedikit takut. Apa pekerjaan aku gak bagus ya?" tanyaku yang semakin cemas dan menggigit bibirku dengan kuat sampai berdarah. Aku benar-benar takut. Aku takut salah dalam berucap, bertindak kepada keluarga Enggar.
Enggar diam saja dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Enggar.
Tiba-tiba mama dan papa Enggar turun dari atas, lantai dua rumah itu.
Aku menyapa papa Enggar dengan senyuman tulus tetapi papanya tak sedikitpun membalas senyuman ku.
"Aku berbuat salah apa ya" tanyaku dalam hati yang sekarang sedang bergejolak hebat.
"Kamu yang namanya Sita Patresia Manik?" ucap papanya dengan sinis.
" iya benar amangboru" jawabku lembut dengan mata sudah berkaca-kaca.
Belum sempat aku membalas, Mamanya kembali berbicara.
"Pakai pelet apa sampai-sampai anak saya mau sama kamu? Kampungan kamu ya. Gak sadar ya kamu... Udah miskin gausah sok mau dekatin anak orang kaya" ucap mamanya menghina ku.
"Cukup ma. Jangan hina Sita begitu. Aku yang mencintai Sita. Sita gak pernah sekalipun berbuat tak baik kepadaku. Sita gak salah" ucap Enggar menggenggam erat tanganku.
Aku hanya bisa menangis dan tak sedikitpun berbicara untuk menjawab hinaan mamanya seolah pembicaraan mama nya itu benar.
Aku tak bisa berbicara karena tangisku sudah lebih kuat mengaliri mataku dan segukanku sudah kuat tak karu-karuan.
"Enggar, kamu sadar gak sih nak. Ini perempuan asalnya dari mana. Dia itu ngedekati kamu karena kamu anak Tunggal, anak satu-satunya papa dan mama. Dia menginginkan warisan yang akan kami berikan nanti kepadamu. Ia menginginkan harta kita, jadi tolong lah berpikir waras" ucap mama nya memandangku sinis.
"Aku kirain kamu anak dari sejajaran dengan kita, minimal dokter lah karena anak saya prajurit dan anak dari pemilik perusaan A, B, C, D, E dan masih banyak lagi. Ini keluarga kamu aja gak jelas asal-usulnya. Orangtua kamu hanya petani" ucap mamanya sambil memandangi wajahku.
__ADS_1
Sita menangis sejadi-jadinya ketika mama Enggar menghina pekerjaan orangtuanya.
Ia melepaskan genggaman tangan Enggar.
"Maaf namboru sebelumnya. Memang orangtuaku miskin tapi kami bahagia, kami sejahtera, kami saling menyayangi, kami saling mendukung bukan seperti keluarga ini. Tidak ada kasih sayang, tidak ada kesejahteraan. Memang kalian kaya, tapi tidak dengan hati nurani. Hati nurani kalian tidak ada. Manusia berhati binatang, bisanya hanya mengolok-olok orang miskin. Itu bahagia yang namboru maksud? Itu kekayaan yang namboru maksud?"ucap Sita marah sambil menangis senggugukan.
"Diam kamu" bentak mama Enggar kepada Sita. "Kamu lihat Enggar. Perempuan jalang ini menghina mama. Lihatlah, mau jadi apa keluarga ini kalau perempuan seperti ini ada dalam keluarga ini? Enggar, sekarang kamu pilih. Perempuan yangni atau papa dan mama?" ucap papa Enggar menunjukku.
"Enggar akan tetap memilih Sita" ucap Enggar menarik tangan ku dan meninggalkan rumah itu.
Enggar membawa ku kembali ke hotel.
Sepanjang perjalanan Sita hanya menangis dan tak berbicara sepatah kata pun kepada Enggar.
"Maafkan aku sayang telah membawa mu ke kota yang jahat ini" ucap Enggar berkaca-kaca sambil memelukku.
Sita hanya terdiam dan menangis sampai membasahi baju Enggar yang sedari tadi memeluknya.
"Sore ini aku harus kembali ke Medan. Aku tak mau disini" ucap Sita tersedu-sedu.
Uhhhhhhh.....uhhhhhhh.....uhhhhhhhh.uhhhhhhhh
"Ma, pa anak gadismu sedang menangis. Anak gadismu sedang sakit ma pa. Sakit sekaliiiiiiiii" ucap Sita yang terus menangis.
"Ma........." tangis Sita semakin keras sampai membuat Enggar bingung menenangkannya.
"Sayang ini hotel loh. Kalau kamu gini terus, dikira aku melukai kamu loh" ucap Enggar.
"Aku memang sudah terluka. Aku sudah hancur. Harapanku sudah hancur" ucap Sita.
"Aku mau kembali ke Medan. Aku tak mau disini" ucap Sita.
__ADS_1