
*Hari Jumat
Ringgg ringggg ringggg....
ringg....ringgg....ringgg..
"Halo ma, jawabku dengan suara kecil yang baru bangun tidur".
"Nak, mama udah berangkat ya, jemput mama nanti di loket, jawab mamaku".
"iya ma, ucapku sambil aku menutup telpon nya".
"Sial... aku kesiangan nihhhh". aku bangun dari tempat tidurku, beres" dan bergegas untuk bersiap-siap memasak untuk makan siang aku nanti bersama mama.
Melihat stok perbelanjaan ku yang tidak lengkap untuk memasak, aku langsung bergegas pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Aku sedikit berjalan ke persimpangan jalan karena aku ingin membeli sarapan di seberang jalan.
Aku sarapan di salah satu warung nasi langganan ku sedari awal aku kuliah dan ngekos di gang pendidikan ini. Masakan di warung ini enak dan paling laris. Karena rasanya benar" membuat kita rindu dengan mama kita, karena rasanya buatan rumahan gitu, jadi gak salah sih kalau warung Mba Dien ini paling diminati anak kos"an.
Dan hari itu ramai banget di warung Mba Dien, jadi aku tak memperhatikan orang-orang yang ad disana. Disamping aku tak ingin memperhatikan orang-orang disana, kacamata ku juga sudah tak mampu melihat benda/orang dalam jarak terlalu jauh. Maklum saja, aku sudah lama tak mengganti kacamataku. Kemungkinan besar juga Minus mata ku juga pasti sudah bertambah.
__ADS_1
Di masa pandemi gini masih tetap banyak pembeli, syukur. Tetap jaga prokes kok.
Meja warung disini diberi jarak dan menyediakan sabun pencuci tangan juga.
Aku hanya memesan nasi gurih dengan lauk telur dadar dan segelas air putih. Aku sedikit kurang selera kalau makan nasi gurih dengan lauk ikan atau daging.
"Neng Sita, ini teh manis nya, ucap Uwak sambil meletakkan gelas itu di hadapanku. Uwak itu tidak lain adalah Ibu Mba Dien".
"Sita gak mesan teh manis Wak, ujarku sambil mengembalikan gelas itu".
"Tapi Abang tentara yang disana tadi nyuruh ngasih ke neng Sita, ucap Uwak".
"Tentara mana wak, tanyaku".
"Abang tadi sudah pergi Bu, jawab kak Dien. Dia Enggar pelanggan kita Bu. Dia baru 2 bulan di Medan dan selama pandemi ini, dia segan makan di rumah saudaranya. Katanya dia takut membebani keluarganya, ya walaupun dia tetap memberikan gaji nya untuk uang makan tapi tetap saja dia segan. Makanya setiap pagi dia sarapan di warung ini Bu, jawab Mba Dien".
Aku menarik gelas itu dari hadapan Uwak dan langsung meminumnya dengan perasaan lega.
"Dia bilang apa Wak, tanyaku".
__ADS_1
Bu, boleh minta tolong berikan segelas teh manis kepada wanita berhoodie pink itu? Bilang aja dari pria ganjen. Bilangin juga Bu kalau makan pelan-pelan aja, gausah ngegas (Enggar sambil ketawa kata Uwak). Gitu neng kata bapak tentaranya tadi, ujar Uwak menjelaskan.
"Oh gitu ya Wak, ucapku sambil sedikit kesal dengan Enggar yang tadi meledek ku melalui Uwak. Awas aja kamu ya Enggar ganjennnnn, pikirku dalam hati".
Selesai aku sarapan, aku naik angkutan umum ke pasar dan berbelanja disana kurang lebih 1 jam.
Setelah itu aku kembali dan mulai untuk memasak.
Dripppp dripppp
Lelaki Seksi:
"Gimana, manis gak teh nya, isi chat Enggar".
"Kamu apa"an sih bilang aku makan ngegas? Lagian kenapa kamu tak menegurku langsung, kenapa harus melalui Uwak itu? Buat malu aja kamu. Dasar..., balasku".
"Dasar apa? Dasar lelaki ganjen. Dasar lelaki genit. Dasar lelaki ini.. lelaki itu. Aku gak mau menegur mu tadi supaya kamu santai makannya. aku takut kalau aku tegur kamu, yang ada kamu malah gak fokus makannya. Aku gak negur kamu aja terus ditanyain, apalagi kalau aku negur kamu tadi, yang ada kamu malah suapin aku jadinya, balasnya dengan mengirim stiker tertawa lucu".
"Hmmm,.. Selalu saja membuat alasan yang tak logis, balasku".
__ADS_1
aku tak melanjutkan chattingan itu lagi
dan aku kembali melanjutkan memasak.