Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Enggar tetap tak bisa bicara


__ADS_3

Sita memutuskan untuk datang sendiri tanpa dijemput Enggar ke sebuah cafe yang telah dijanjikan oleh Enggar.


Sita terus melirik ke kiri dan kanan mencari keberadaan Enggar.


"Kemana sih dia?. Lama banget".


"Sit" Enggar menyapa nya dengan raut wajah datar.


"Tumben manggil Sita. Biasanya juga sayang. Lama banget ihh. Duduk dulu deh" Sita menarik tangan Enggar dan duduk dihadapannya.


"Kita gak usah pesan apa-apa. Aku kesini cuman mau bilang...


"Udah ihhhh. Makan dulu biar santai. Tenang aja, aku besok boleh bermalas-malasan kok kantor karena pekerjaan ku sudah aku selesaikan semuanya".


Enggar hanya diam dan menuruti permintaan Sita.


"Makan sayang" ucap Sita bersemangat, menatap Enggar.


Enggar tetap berdiam diri seolah memberi tanda bahwa malam itu adalah malam yang akan memeriahkan hati Sita.


Enggar yang tak kuat dengan suasana itu, berlari ke kamar mandi.


Disana ia menangis. Ia meluapkan air mata nya disana supaya tidak diketahui oleh Sita meskipun ia harus menyampaikan yang sebenarnya.


"Lama banget dari toilet nya sayang"


"ya" Enggar membalas dengan ketus.


Enggar tak sedikitpun menyentuh makanannya. Ia terus menatap Sita yang sedari tadi lahap memakan hidangan yang ada dihadapan mereka.


Hatinya tak kuasa menahan betapa sakitnya yang akan dirasakan Sita kalau ia akan mengkhianati nya.


Enggar terus memutar isi kepala nya, berpikir bagaimana cara agar Sita tak menjadi korban pengkhianatan nya.


"Aku suapin nih sayang sini"


"Aaaaa..."


Sita menyuapi Enggar yang sedari tadi tak mau berbicara dan membuka mulutnya untuk makan.

__ADS_1


"Sambil makan, sayang boleh ngomong kok. Aku dengerin kok" ujar Sita penasaran.


"Aku gak mau ngomong apa-apa sayang. Aku hanya pengen berkencan aja denganmu. Emang gak boleh"? ucap Enggar yang terus memandang Sita.


Sita yang tiba-tiba malu karena terus dipandangi Enggar, berdiri dan berjalan ke toilet.


"Kenapa tatapan Enggar tadi membuatku seperti salah tingkah ya. Aku kan sudah terbiasa dengan tatapan genit nya"


"Aku harus lebih genit darinya" Sita mempersiapkan siasatnya.


Tak terasa sudah hampir 2 jam kami makan dan bercanda gurau dengan Enggar.


"Boleh gak malam ini aku menemani tidur kamu" tanya Enggar seolah memohon.


"Sayang gak berniat ituuuu kan" balas Sita tertawa menunjuk Enggar.


Enggar yang masih tetap tak tahan dengan Sita selalu mencoba untuk bersikap seperti biasa seolah esok tak akan terjadi apa-apa.


Mereka kembali ke apartemen Sita.


Sita yang sedari tadi bingung dengan sikap Enggar mencoba untuk merayu.


"Sayang, aku cantik gak gini" tanya Sita memainkan rambutnya seolah memberi maksud agar Enggar kembali membalas godaan nya.


"Malas ihhhh. Dari tadi diam aja" Sita mulai merajuk.


*********Flashback*********


Enggar melakukan itu karena ingin menolong Sita.


Ia tak ingin Sita dikeluarkan oleh Mama papanya dari perusahaan yang saat ini Sita sudah geluti dan ia sukai.


Perusahaan itu salah satu cita-cita Sita ketika masih kuliah. Ia ingin sekali bekerja disana. Alasan yang selalu membuatnya bangga dan senang bisa bekerja disana yaitu gaji yang tinggi dan sesuai dengan fashion Sita yakni berurusan dengan keuangan.


Sita sudah menabung selama ia bekerja di perusahaan itu untuk mewujudkan impiannya agar bisa membangun yayasan panti asuhan, panti jompo dan rumah kreatif.


Ia mengganggap hanya perusahaan itu yang bisa membantu dia mewujudkan impian nya itu dengan tawaran gaji yang tinggi dan bonus yang banyak pula.


Meskipun begitu, ia tak pernah sekalipun untuk korupsi atau bermain dengan pihak manapun untuk merugikan perusahaan itu maupun perusahaan lawan mereka.

__ADS_1


Ia selalu bersikap adil, jujur dan taat. Itu juga yang membuat Pak Chong, Direktur dan atasan lainnya menyukai kinerja Sita.


Setelah pertemuan Sita dengan orangtua Enggar di Pekan Baru, Sita menjadi perhatian khusus oleh mamanya.


Malam itu, sangat berat bagi mama Enggar ketika mengetahui bahwa keluarga Enggar hanyalah petani biasa yang hidup pas-pasan di sebuah desa terpencil.


Ia mengerahkan anak buahnya yang ada di Medan untuk menyelidiki keluarga Sita.


"Lapor Bu. Ayah dan Ibu nya seorang petani. Mereka tinggal disebuah desa terpencil yang dimana akses untuk menuju desa itu sulit sekali. Mereka termasuk salah satu warga yang tergolong kurang mampu di desa itu dan paling mengerikan Bu, Abang Sita termasuk salah satu mantan narapidana" ucap seseorang membakar api kemarahan mama Enggar.


Mama Enggar yang mendengar informasi itu segera menghubungi pak Chong agar Sita dipecat dari perusahaan nya.


"Ia tak pantas bekerja di perusahaan itu" ucap Mama Enggar marah.


"Saya tak bisa memecat nya hanya karena urusan internal keluarga ibu" jawab pak Chong.


Mama Enggar sontak marah dan melampiaskan itu semua kepada Enggar.


Mama Enggar mengancam apabila Enggar tak mau menikah dengan paribannya (Kezia), maka mama nya akan memecat Sita dari perusahaan itu. Mamanya juga mengancam ketika Sita keluar dari perusahaan itu maka tak satupun perusahaan yang akan menerima ia bekerja.


Papa Enggar termasuk orang besar yang memegang peranan penting dalam dunia kelas bisnis di setiap perusahaan yang ada di Medan, maklum saja suara nya selalu menjadi pertimbangan bagi setiap perusahaan.


'Kalau kamu tidak meninggalkan wanita itu, mama akan memecat dia dari perusahaan dan membuat hidupnya menderita bersama dengan keluarganya" Mama Enggar mulai mengancam Enggar.


"Kenapa mama selalu menindas orang lemah ma. Kenapa?" Enggar menarik nafas menahan isak tangisnya.


"Kamu harus menikah dengan Kezia. Ia anak baik, cantik, pintar, dokter lagi. Dan sepantasnya seorang tentara itu istrinya itu anak kesehatan bukan wanita yang gak jelas kehidupan nya seperti Sita itu" ucap mamanya dengan sinis.


"Stop ya ma. Mama jangan kekang aku terus".


"Mama tidak mau tahu. Kamu harus putuskan wanita itu dan kamu akan menikah dengan Kezia. Titik. Malam ini mama terima jawaban kamu" mama Enggar terus mengancam.


Akhirnya Enggar melepas Sita agar Sita tak dipecat dari pekerjaannya sebagai Manajer dan tak ingin mematahkan impian Sita yang selama ini selalu ia doakan.


Gaji Sita selalu ia sisihkan untuk menabung. Ia berharap tabungannya nanti dapat ia gunakan untuk membangun yayasan yang selama ini ia impikan.


Enggar tak mau harus melihat Sita menderita ketika dipecat dari perusahaan itu karena pasti orangtuanya bekerjasama dengan perusahaan lain agar tak menerima Sita.


Keluarga Sita juga pasti ikut menderita. Apalagi Sita termasuk anak satu-satunya yang bisa terbilang lebih mandiri, lebih mapan dari antara saudara-saudari nya yang lain.

__ADS_1


Semua itu membuat pikiran Enggar bergulat habis-habisan.


Dan ia memutuskan untuk meninggalkan Sita.


__ADS_2