Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Kembali ke Medan


__ADS_3

Keesokan pagi nya, Sita memutuskan untuk kembali ke Medan.


"Aku harus balik ke Medan. Hatiku sudah terluka dengan kota ini" ucap Sita yang tiba-tiba menangis.


"Yaudah sayang. Aku antarkan kamu nanti sore ke bandara. Maafkan mama dan papa ku yang sudah kasar terhadapmu. Aku tahu ini pukulan terberat bagimu. Aku yang salah telah membawamu dalam situasi seperti ini" ucap Enggar menggenggam tanganku.


"Satu bulan lagi aku akan kembali menemuimu di Medan. Disini aku berjuang dulu untuk mengambil hati papa dan mamaku. Aku meminta restu mereka supaya aku bisa membawaku kembali dan menikahimu" ucap Enggar kembali memelukku.


Sita percaya kalau Enggar akan berjuang kepadanya. Ia tak mungkin menyia-nyiakan perjuangan mereka sampai datang ke kota ini. Betapa seriusnya mereka untuk memperjuangkan hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan.


"Iya sayang" ucap Sita.


"Halo ma" ucap Sita mengangkat telpon dari mama nya.


"Gimana sayang? udah berjumpa dengan orangtua Enggar? pasti baik juga kan seperti anaknya?" ucap mama tertawa tipis.


"I..iiiiyaaa ma" ucap Sita yang menahan air mata nya supaya tak jatuh dan sambil memandangi Enggar.


"Mama dan Papa Enggar baik ma. Mereka menyambutku dengan hangat. Mereka menginginkan pernikahan kami secepatnya" Ucap Sita meneteskan bulir-bulir air mata yang sudah terkumpul sedari tadi di pelupuk matanya.


Di samping aku dan mama berbicara melalui telepon, Enggar terus menyenderkan kepalanya sambil mengantuk-antukkannya ke dinding. Ia mengepal tangannya dan berbicara sendiri.


"Mengapa ini harus terjadi? Mengapa harus sesulit ini?" ucapnya yang tiba-tiba menangis terseduh-sedu agar tak didengar mama ku.


"Syukur lah. Mama senang mendengarnya. Jadi dimana mama Enggar? Pengen deh bisa berbincang sebentar dengan mama nya" ucap Mama penasaran.

__ADS_1


Enggar yang mendengar permintaan mama, merampas handphone ku.


"Mama belum turun nantulang dari lantai dua. Nanti Enggar telpon deh kalau mama udah turun" ucap Enggar menahan air mata nya.


"Oh iya nak. Yaudah deh. Selamat bersenang-senang ya disana. Kabar bahagia nya ditunggu loh" ucap mama tertawa.


"Siap nantulang" ucap Enggar meyakinkan mama.


"Kenapa harus berbohong?" ucapku menangis memukul-mukul tangannya yang menggenggam ku.


"Plissss sayangggg..bersabarlah. Aku akan berjuang meminta restu dari mama" ucap Enggar memelukku.


"Yaudahlah. Kalau kita memang gak berjodoh tak apa. Aku juga gak mau merusak hubungan kamu dengan orangtua kamu" ucap Sita menangis.


"Jangan gitu sayang. pliissss. Aku mau mati rasanya ketika kamu mengucapkan itu. Aku akan memperjuangkan kamu sayang. kumohon bersabarlah" ucap Enggar yang mulai menangis meraung-raung.


"Kalau mereka tetap tak setuju dengan rencana kita. Aku akan tetap melamar kamu tanpa restu dari mereka" ucap Enggar meyakinkan ku.


"Tidak sayang... Aku gak mau rumah tangga kita kelak tak di berkahi" ucap Sita.


"Aku gatau lagi sayang mau berbuat apa selain akan berbuat demikian. Kumohon mengerti lah".


"Sudahlah. Kita memang harus berjuang. Aku nanti sore akan kembali ke Medan. Sayang tetaplah untuk tinggal disini. Kalau Tuhan berkehendak menjodohkan kita, kamu pasti akan kembali datang menjemputku" ucap Sita menenangkan Enggar yang sedari tadi menangis memeluknya.


Sore itu begitu gelap.. Awan kabut memenuhi langit. Keadaan itu sepertinya menggambarkan hati Sita yang saat ini terluka.

__ADS_1


Tak kuasa Enggar melepas Sita ketika mengantar nya ke bandara. Air mata nya terus mengalir begitu deras.


"Sayang, aku akan segera menjemputmu. Aku mohon kamu bersabar. Aku akan minta restu dari orangtua ku" ucap Enggar yang terus menangis.


"Iya sayang" ucap Sita.


Aku datang membawa hatiku yang penuh suka ke Kota ini


***Aku membawa sepenuhnya kembali hatiku yang lara dari Kota ini


Aku melayangkan pandanganku ke atas langit yang aku menjunjung


Mengapa cintaku begitu rapuh?


Mengapa semesta tak sedikitpun menjengukku


Bolehkah aku meminta?


Jangan berikan sakit seperti ini kepada wanita yang lain?


Biarlah sakit ini hanya diriku yang pernah merasakannya


Kaki ku sulit untuk melangkah


Mulutku tak begitu mampu untuk berbicara

__ADS_1


Akankah langkahku terhenti di Kota ini atau kembali merebut jiwa ku yang pernah singgah di Kota ini***


__ADS_2