
Sita berusaha untuk tetap kuat ketika sampai di kantor nya.
Ia tak ingin seorangpun mengetahui apa yang telah terjadi malam itu.
Tetapi wajah Sita tak bisa membohongi kalau ia sedang tak baik-baik saja.
Raut wajahnya menggambarkan keadaan hati nya saat itu.
Tatapan Sita kosong ketika mulai turun dari mobil sampai masuk ke dalam ruangannya.
Suara lembut ramahnya tak sedikitpun berkumandang di pagi itu untuk menyapa setiap karyawan yang ada. Bahkan pak Chong yang telah tiba lebih awal di kantor itu, tak sedikitpun Sita menyapanya.
Ia terus berjalan seolah tanpa tujuan. Ia menenteng tas kerja nya seolah berisi barang yang sangat berat.
Pakaiannya tak begitu rapi dan indah ia kenakan. Wajahnya lesu dan rambutnya tak begitu sempurna ia cepol.
Pagi itu penampilan Sita tak begitu sempurna tak seperti biasanya.
Semua orang bingung dengan keadaan Sita saat itu.
Tapi pak Chong sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Sita.
Mama Enggar telah menceritakan semua yang terjadi.
Pak Chong merasa bersalah karena telah menyembunyikan semua itu dari Sita.
Pak Chong berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Sita.
Tok....tok...tok....
Pak Chong mengetuk pintu Sita tapi tak sedikitpun Sita menggubrisnya.
Tatapan Sita tetap kosong dan duduk seperti boneka tanpa bertulang.
Tubuh Sita ada di kantor itu tetapi tidak dengan raganya.
Sita sontak kaget ketika melihat Pak Chong sedari tadi duduk termenung memperhatikan Sita.
"Selamat pagi Pak. Maaf sekali saya tidak konsentrasi mendengar perkataan bapak" ucap Sita yang sebenarnya sedari tadi pak Chong tak berucap apapun.
"Sita, maafkan saya" ucap Pak Chong yang tiba-tiba ingin menangis.
Sita bangkit dari kursi kerjanya dan duduk dihadapan kursi pak Chong.
"Bapak tidak salah pak. Kenapa harus minta maaf?" tanya Sita heran.
"Sebenarnya, saya mengenal Enggar pacar kamu. Ia anak Pak Nadeak pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Ia memiliki kekuasaan dan hak suara dominan disini. Jadi tak seorangpun bisa membantahnya.
Dan Enggar yang memohon-mohon kepada saya agar memasukkan kamu ke dalam perusahaan ini" ucap Pak Chong menyesal karena baru memberitahunya.
__ADS_1
"Ha? Kenapa Bapak baru memberitahunya?" ucap Sita yang mulai menangis.
Air mata nya yang sedari ia bendung, tiba-tiba pecah mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa Enggar membawaku sampai sejauh ini kalau pada akhirnya ia akan meninggalkanku" ucap Sita menangis seolah meminta penjelasan kepada pak Chong.
Pak Chong hanya diam meratapi keadaan yang saat itu terjadi.
"Sudah Sita kamu harus sabar. Kamu pasti akan menemukan lelaki yang lebih baik dari Enggar" ucap pak Chong menenangkan.
"Tidak semudah itu pak" ucap Sita tersedu-sedu.
Aku sudah menaruh hatiku sepenuhnya untuk dia. Ia sudah berjanji akan menjemput ku. Ia akan segera melamarku. Ia tak mungkin berbohong kepadaku" ucap Sita.
"Sebentar lagi ia akan menikah dengan wanita pilihan mama nya yang tak lain pariban Enggar sendiri. Kamu harus bisa meluaskan hatimu untuk ikhlas melepasnya" ucap Pak Chong.
Sontak Sita marah dan memandang pak Chong dengan tajam.
"Bapak jangan jadi sok tahu ya. Saya hargai bapak sebagai atasan saya, tapi tak seharusnya bapak berbicara seenaknya saja" ucap Sita.
Pak Chong yang memahami keadaan hati Sita berusaha untuk tenang dan tak membawa perkataan Sita ke dalam hatinya.
Pak Chong sadar benar kalau saat ini sikap Sita bukan karena marah tetapi karena depresi.
"Yasudahlah. Kamu harus kuat Sita. Kamu gak boleh seperti ini. Kamu bisa sakit" ucap Pak Chong.
Perkataan pak Chong tak sedikitpun ia dengarkan karena Sita terus menangis.
" Kenapa Bu Sita menangis?" tanya Mila mengamat-amati pak Chong dengan tajam dan memeluk Sita.
"Saya tidak berbuat apa-apa" ucap pak Chong melempar kan gulungan kertas kepada Mila.
"Trus kenapa Bu Sita menangis? Kan hanya bapak yang ada di ruangan ini" ucap Mila yang kembali mempelototi pak Chong.
"Kamu ini ya. Pikirannya selalu kotor. Ngambang sana sini" ucap pak Chong meninggalkan ruangan itu.
"Ibu kenapa" tanya Mila.
Sita tak menjawab.
"Pak Chong tidak berbuat yang aneh-aneh kan Bu?" tanya Mila penasaran.
Sita hanya mengganggukkan kepalanya.
"Syukurlah" ucap Mila.
Mila tak berucap banyak karena ia tak ingin menanyakan kepada Sita apa yang telah terjadi. Ia seolah paham kalau Sita menangis karena masalah internalnya.
*****Flashback******
__ADS_1
"Pak Chong, aku butuh sekali bantuan bapak. Ini penting banget" ucap Enggar.
"Ha? Kenapa" tanya Pak Chong santai
Enggar sudah menganggap pak Chong seperti paman nya sendiri karena sedari Enggar kecil, pak Chong sudah selalu berkunjung ke rumah Enggar.
"Pak bantuin Enggar plissss" ucapnya kembali sambil bersujud di hadapan pak Chong.
"Baru kali ini Tentara meminta tolong kepadaku sampai bersujud" ucap pak Chong tertawa lepas.
"Kenapa? Mau minta tolong apa?" tanya pak Chong heran.
"Tolong bantu Sita supaya ia bisa bekerja disini. Aku jamin deh skill dia. Dia pintar, kreatif, pekerja keras. Pokoknya bapak pasti bangga kepadanya" ucap Enggar memohon meyakinkan pak Chong.
"Sita itu siapa?" tanya pak Chong yang kembali tertawa sinis.
"Ia kekasihku, pujaaan hatiku, belahan jiwaku" ucap Enggar yang tiba-tiba tersenyum seperti sedang jatuh cinta.
"Astaga...pantesin kamu mau sampai bersujud begini. Secantik apa sih dia sampai kamu jadi lemah begini. Seorang tentara bersujud memohon demi wanita pujaan hatinya" ucap pak Chong mengejek.
"Plissssssss pakkkkk.. Aku jamin deh. Tapi jangan kasih tau papa dan mama nya. Plissssss" ucap Enggar memohon.
"Saya belum mengenalnya. Gak mungkin saya langsung begitu saj memasukkan nya untuk bergabung di perusahaan ini" ucap pak Enggar.
"Yaudah besok bapak ada waktu gak?" Kita keluar yok. Kita jumpa di Coffee Tubruk. Aku bawa Sita deh kesana" ucap Enggar meyakinkan pak Chong.
"Ok" ucap pak Chong singkat.
"Yes" ucap Enggar berlari kesenangan.
Akhirnya pak Chong berjumpa dengan Sita tanpa ditemani Enggar di cafe itu. Enggar hanya memantau dari kejauhan.
Sebenarnya Sita bingung dengan pertemuan ini karena diluar dari jam kerja perusahaan yang ia lamar bahkan tak ada pesan formal yang menyatakan dirinya datang untuk di interview.
Sita yang benar-benar takut, ia menggunakan pakaian layaknya seperti ingin di interview.
Rambutnya rapi dan terlihat sangat cantik.
Pak Chong yang melihatnya hampir saja jatuh hati.
Pak Chong mulai yakin ketika Sita menyampaikan niat nya kelak akan mendirikan yayasan panti asuhan, panti jompo dan rumah kreatif.
"Anak ini mulia sekali. Attitude nya juga bagus. Cantik, ramah lagi" pikir Pak Chong dalam hati.
"Aku menyetujui permohonan mu" chat pak Chong kepada Enggar.
Enggar langsung menelpon nya.
"Benar kan yang aku bilang. Enggar bukan kaleng-kaleng kalau milih pacar" ucapnya bangga.
__ADS_1
"Hmmmm" jawab pak Chong.