Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Sita pingsan


__ADS_3

Waktu semakin berlalu. Sudah satu bulan setelah Sita wisuda , ia mempersiapkan semua berkas-berkas lamaran pekerjaannya.


Ia tak butuh waktu lama untuk mencari pekerjaan karena dukungan dan rekomendasi dari pihak kampus dan juga dosen pembimbingnya yang saat itu menjabat sebagai dekan di kampusnya.


Sita bekerja di salah satu perusahaan importir minyak kelapa sawit.


Wahhhh, benar saja. Sita memang anak yang pintar, kreatif dan bekerja keras.


Ia selalu dibangga-banggakan perusahaan karena kerja keras Sita.


Sita selalu diberikan pelayanan yang terbaik dari perusahaan. Mulai dari mobil, apartemen dan juga gaji yang sangat besar.


Setelah hampir setengah tahun Sita bekerja di perusahaan ini, Sita diangkat menjadi Manager. Posisi Sita yang tak lagi bisa dianggap main-main membuatnya semakin terus giat dan bekerja lebih keras.


drakkk.....drakkkk...draaakkk


suara sepatu heels Sita menuju ruangannya.


"Selamat pagi semua" ucap Sita menyapa.


"Pagi Bu" ucap seseorang yang diikuti dengan sapaan dari karyawan lainnya.


"Semangat ya buat hari ini" ucap Sita menyemangati karyawan-karyawan nya.


"Siap Bu" ucap yang lainnnya.


Sita mulai melihat laporan yang ia terima dari asisten nya.


Semakin hari perusahaan yang ia pimpin semakin maju. Ia bangga dengan apa yang ia capai saat ini.


"Halo ma" ucap nya menelpon mama nya.


"Halo sayang. Gimana pekerjaannya? Jaga kesehatan ya nak. Gak usah terlalu diporsir banget" jawab mama nya dengan penuh harapan.

__ADS_1


"Iya ma. Kerjaan Sita aman kok. Terimakasih ya ma udah mengantarkan Sita sampai di posisi ini" ucap Sita haru bahagia.


"Sama-sama sayang. Ini kan berkat kerja keras kamu" jawab mama.


"Yaudah deh ma. Sita melanjutkan kerjaan Sita dulu ya. Mama Papa sehat-sehat ya. I love you ma".


"I love you too sayang" ucap mama nya sambil melontarkan ciuman manja.


"Halo sayang" ucap Sita menelpon Enggar.


"Hai ibu manager yang cantik" jawab Enggar merayu. Tumben nih nelpon sepagi ini. Kenapa? "tanya Enggar.


"Ya gak kenapa-kenapa. Aku cuman bersyukur aja bisa ada di posisi ku saat ini sayang. Gak nyangka aja seorang mahasiswa sekaligus pelayan kantin di kampus bisa jadi manager" ucap Sita haru.


"Ya bisalah. Semua rezeki udah diatur sama Tuhan. Kita aja yang harus berusaha. Kamu kan karena berusaha. Udah baik, pintar, cantik, pekerja keras lagi. Lelaki mana yang tak mau menikah dengan wanita seperti mu" ucap Enggar merayuku.


"Masa sih" ucapku malu-malu.


(Enggar berdinas di Medan tinggal satu tahun lagi. Ia akan kembali ditempatkan di Pekan Baru di tempat ia tinggal).


"Yaudah lah, jalani aja sayang" ucap Enggar.


"Nanti malam aku ke apartemen ya sayang" ucap Enggar memohon kepadaku.


(Selama aku diangkat menjadi Manager, waktu ku bersama Enggar sudah sedikit berkurang. Aku selalu bekerja pagi-malam. Sampai kadang-kadang aku dan Enggar berantam. Tapi ya kembali berbaikan).


"Iya-iya deh" jawabku.


Setelah perbincangan itu selesai.


Sita sulit sekali untuk berdiri.


"Kenapa ya?" ucap Sita dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa kaki ku sulit sekali digerakkan? gumam Sita. Sepertinya kaki ku keram deh. Harus olahraga nih" ucap Sita mencoba untuk mentata kaki nya untuk berjalan.


Draagggggggggg..............


Sita terjatuh dan tak sadarkan diri.


Untung saja asisten Sita masuk setelah kurang lebih 5 menit Sita terjatuh.


"Bu, ibu... bangun Bu" ucap Mila asisten Sita.


Mila memanggil karyawan lainnya untuk membantu Sita mengangkat nya ke ruang kesehatan.


Perusahaan itu menyediakan ruang kesehatan yang dimana apabila ada karyawan perusahaan yang sakit dapat segera dilakukan penanganan.


Hampir setengah jam Sita pingsan.


"Milaaa, Tolong ambilkan saya minum dong" ucap Sita meminta tolong kepada Mila.


"Ini Bu" ujar Mila sambil menyerahkan segelas air mineral.


"Ibu mau kita bawa saja ke rumah sakit?" tanya Mila takut.


"Gak usah. Saya hanya kelelahan saja sepertinya. Saya kembali ke apartemen lebih awal sepertinya. Tolong telpon pak Jufri supaya mengantar saya ke apartemen" ucap Sita.


"Baik Bu" jawab Mila.


Akhirnya Sita diantar oleh pak Jufri, supir perusahaan yang selalu siap sedia mengantar Sita apabila ada meeting dengan perusahaan lain.


"Silahkan masuk Bu" ucap pak Jufri membantu Sita masuk kedalam mobil".


"Terimakasih pak" ucap Sita. Kita ke apartemen ya pak" pinta Sita.


"Siap Bu".

__ADS_1


__ADS_2