
"Selamat pagi" Ucap Sita menyapa seluruh karyawan-karyawan yang ada di kantor itu.
Mereka kaget dan kagum melihat keramahan Sita dan keanggunan dirinya yang selalu membuat setiap orang yang melihatnya akan berbicara manis kepadanya.
Tapi tidak dengan Radit, Manager Umum itu. Ia selalu bersikap ketus dan arogan kepada Sita.
"Halo. Selamat pagi pak" Sita masuk ke dalam ruangan Radit.
"Pagi" Radit hanya menjawab singkat dengan ucapan ketusnya.
"Sekali lagi kamu harus ketuk dulu baru masuk. Tidak sopan" ucap Radit kembali memasang wajah arogannya.
"iya mohon maaf pak. Tapi saya tadi masuk karena sudah melihat pintu bapak terbuka" Sita membeberkan kekonyolan lelaki itu.
Radit terdiam dan bingung karena memang benar pintu tersebut tidak terkunci dan terbuka lebar.
Seketika itu ia sedikit malu dan kembali berucap ketus kepada Sita.
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Radit gugup.
"Saya mau kesini ingin berkenalan dengan bapak" Sita terus menatap tajam lelaki itu.
"Kurang kerjaan kamu. Kerja sana. Banyak kerjaan yang harus kamu selesaikan. Katanya mau memajukan perusahaan ini" ucap nya sinis memainkan bibir atasnya.
"Gimana perusahaan nya mau maju, sedangkan hubungan internalnya aja begini" ucap Sita membalas sinis sambil berdiri dari tempat duduknya seolah ingin meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu. Saya belum menyuruh kamu pergi" Lelaki itu juga ikut berdiri.
"Maaf pak. Kerjaan saya banyak. Saya ingin memajukan perusahaan ini" Sita pergi meninggalkan ruangan itu.
"Dasar wanita nenek sihir. Luarnya aja cantik, hatinya busuk banget" Radit ngedumel dalam pikirannya.
Sita kembali masuk.
"Jangan pikirkan hal yang aneh tentang ku. Dirimu lah yang aneh. Nama kamu Radit. Kamu Manager Umum disini. Saya Sita, saya Manager Produksi dan sekaligus Pemasaran disini. Senang bertemu dengan anda. Mari bekerjasama untuk memajukan perusahaan ini" ucap Sita menutup pintu itu dan meninggalkan ruangan Radit yang sunyi bak kuburan tanpa berpenghuni.
"Shhhttt. Dasar wanita sihir. Kalau sudah tahu nama saya, kenapa dia tetap bertanya kesini?" Radit kesal dengan sikap Sita.
"Aku sudah menampar nya halus. Tenang saja" ucap Sita kepada Murni, salah satu karyawan yang membantu Sita di kantor.
"Hahahahaha. Ibu yang bersikap begitu kepada pak Radit, saya yang takut Bu" ucap Murni dengan logat Jawa nya yang medok.
"Biarin. Biar dia gak songong. Gak buat kesal" Sita tertawa.
Sita mengajak karyawan-karyawan yang lain untuk makan siang di kantin kantor yanga memiliki pilihan makanan yang bermacam varian lauk.
__ADS_1
"Pak, Saya nasi pakai lauk ayam bakar ya pak" ucap Sita kepada bapak penjaga kantin itu.
"Siap Bu. Ibu Manager baru yang menggantikan ibu Susi ya di kantor ini?" tanya bapak itu.
"Ibu Susi? Bu Susi siapa ya pak"
"Bu Susi itu Manager Pemasaran disini Bu. Sudah hampir 1 tahun sih beliau meninggal dan hampir satu tahun juga kantor ini tidak memiliki manager pemasaran" ucap nya menjelaskan.
"Oh begitu ya pak" Sita heran dan sedikit gugup karena baru mengetahui hal itu.
Aku baru tahu sih ini. Sepertinya aku harus cari tahu ini.
"Mur, apa benar ya Bu Susi dulu yang jadi manager pemasaran di kantor ini?" Sita bertanya kepada Murni yang sedari tadi ia sudah simpan dalam benaknya.
"Oh iya Bu. Almarhum Bu Susi dulu menjabat sebagai Manager Pemasaran di kantor ini Bu" ucap Murni menjawab pertanyaan Sita.
"Kalau boleh tahu nih Mur, kenapa ya almarhum meninggal?" Sita bertanya dengan hati-hati.
"Bu, sepertinya kita harus membicarakan ini di luar kantor saja deh. Karena masalahnya rumit banget. Merinding juga sih kalau nyeritainnya disini Bu" Murni mengelus tangannya yang tiba-tiba bulu kuduknya naik.
Sita yang juga ikut takut, langsung memberhentikan pembicaraan itu dan kembali untuk makan.
Pikiran Sita semakin dibuyarkan oleh pernyataan Murni yang seolah-olah menutupi rahasia kematian Bu Susi.
"Oh tidak Bu. Kenapa ya Bu?" Murni bertanya.
"Maksudnya saya mau berjumpa dengan kamu terkait pembicaraan kita tadi siang".
"Sebenarnya Murni pengen keluar Bu. Tapi Mbah gak ngizinin aku deh. Karna Bu, wilayah rumah aku ini angker banget Bu. Sering ada mistis-mistis yang kadang buat kita itu takut setengah mati" ucap Murni yang sedikit berlebihan kalau berbicara.
"Ahhh kamu ini Mur" Sita menertawakan nya.
"Benar loh Bu. Ibu karna baru aja sih, jadi belum pernah ngerasain" Murni kembali meyakinkan Sita.
"Sudah ihhh. Jadi gimana? Mau gak keluar?" Sita kembali bertanya.
"Bu, kayaknya besok aja deh kita bicarain ini. Besok jam makan siang, Murni ke ruangan ibu".
"Yasudahlah. Payah kamu mah Mur" ucap Sita.
"Namanya juga anak kesayangan Mbah ku Bu..Bu...".
"Iya lah iya Yaudah deh. Makasih ya Mur".
Sita begitu bersemangat di pagi itu. Entah mengapa ia ingin sekali mengetahui wanita yang bernama Susi itu.
__ADS_1
"Halo Mur, Bu Sita menyuruh kamu untuk datang ke ruangannya" ucap seorang resepsionis menelpon Murni.
Tokkk....tokkkkkkk.tokkkkk
"Masuk"
"Siang Bu"
"Siang. Duduk Mur" ucap Sita.
Mereka mulai makan siang dalam ruangan itu sembari Murni mulai membuka topik pembicaraan itu.
"Jadi Bu sebenarnya, Bu Susi itu mantan kekasih Pak Radit. Mereka itu pacaran sudah hampir 3 tahun. Tapi almarhum Bu Susi selingkuh dengan Pak Fahri. Pak Fahri adalah Manager Produksi di kantor ini.
Bu Susi selingkuh di belakang pak Radit tanpa seorang pun mengetahui hubungan gelap mereka.
Sampai akhirnya, ada berita yang mencengangkan seluruh kantor kalau Bu Susi sudah menikah dengan pak Fahri.
Itu membuat hati pak Radit sakit banget. Sampai-sampai hampir satu bulan pak Radit tidak masuk ke kantor karena sakit akibat pengkhianatan Bu Susi kepadanya.
Tapi Takdir berkata lain, Bu Susi meninggal pasca kecelakaan dengan suaminya ketika akan honeymoon ke Raja Ampat.
Begitulah Bu kira-kira cerita singkat nya.
"Oh begitu ya. Tapi kamu bilang rumit ceritanya. Padahal hanya segini loh Mur" Sita sedikit bingung dengan kepribadian Murni.
"Memang hanya segitu sih Bu. Tapi ya kalau Murni perpanjang bakalan selesai besok pagi sih Bu" Jawab Murni memasang raut wajah datar.
Prankkkkk.... prankkkkk
Terdengar suara besi yang jatuh dari ruangan di sebelah meja Sita.
" Ha kan Bu. Arwah Bu Susi datang tuhhh... Tanggung jawab Bu. Ihhhh" Murni menggenggam tangan Sita dengan erat.
"Maaf ya Bu. Kami tidak bermaksud untuk mengingat ibu. Kaaa...mmmiii hanyaaaaa.. hanyaaa berbicara dan bercanda singkat saja. Tidak lebih. Serius" ucap Murni ketakutan.
"Ihhh apaan sih Mur. Gak ada hantu.. ihhhh. Penakut banget sihhh. Udah-udah. Lepasin tangan saya. Ada-ada aja kamu ini" Sita melepaskan genggaman tangan Murni.
Murni pun kembali ke meja kerja nya dengan perasaan takut karena ia berpikir kalau alamarhum Bu Susi akan datang mengunjungi rumahnya nanti malam.
"Bu, jangan datang plisssss. Aku cuman bercanda aja kok tadi dengan Bu Sita" ucap Murni berbicara entah dengan siapa yang terus ketakutan.
...Jangan lupa like, koment dan vote novel ini ya🌷...
...Dukungan like, koment dan vote kalian sangat berharga bagiku...
__ADS_1