
Yayasan Panti Asuhan itu kaget karena baru kali ini ada seorang anak muda wanita ingin menjadi donatur tetap di yayasan itu.
"Kami bersyukur sekali mendengar hal ini" ucap seorang ibu yang menjadi ibu asuh anak-anak panti disini".
"Doakan saya Bu, supaya sehat-sehat dan bisa mengembangkan Yayasan lebih maju" ucap Sita.
Sita dan pak Jufri menyerahkan sembako yang telah mereka bawa untuk diberikan kepada anak-anak yang ada disana.
Sita berjalan-jalan menyusuri lorong demi lorong yang ada di panti asuhan itu.
Pandangan Sita terpecah ketika ia melihat seorang lelaki tinggi tegap yang sedang berdiri mengajar di suatu ruangan.
"Siapa pria itu Bu?" tanyaku penasaran.
"Oh pak Bram, beliau juga anak muda pendonatur tetap di yayasan ini Bu" jawab Bu Leli.
"Oh begitu ya" ucap Sita.
Sita memandangi pria itu dari kejauhan dengan rasa kagum terhadapnya.
"Bagaimana mungkin ada lelaki sepertinya yang memiliki visi misi hidup seperti saya?" ucapku dalam hati.
Sita melamun dan membayangkan Enggar kekasihnya memiliki visi misi seperti yang Sita miliki.
Ia membayangkan, Enggar yang berdiri di ruangan itu untuk mengajar anak-anak yatim tersebut.
Apa daya, itu hanyalah mimpi. Tak bisa dipungkiri, aku akan menjadi ibu Persit nantinya.
"Bu...." ucap Bu Leli menyadarkan ku yang sedari tadi melamun.
"Oh iya maaf Bu. Saya tidak konsentrasi" ucapku.
"Kalau ibu mau menanyakan sesuatu tentang yayasan ini juga boleh Bu" ucap Bu Leli.
"Iya Bu. Jika ada yang terlintas di benak saya, akan saya tanyakan" jawabku terbata-bata karena lelaki itu melihat kearahku.
Dragggg....dragggg...dragggg......
Lelaki itu mendekat ke arah kami.
__ADS_1
Jantungku berdegup kencang.
Aku menghela nafasku.
"It's okay. Tenang.....rilekssss" ucapku dalam hati sambil mengelus dadaku.
"Halo ibu" ucap lelaki itu.
"Halo" jawabku singkat.
"iya nak Bram, ibu ini ingin menjadi donatur tetap di yayasan kita" ucap Bu Leli.
"Wahhhhh" ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya untuk menyalamku.
"Senang sekali kamu menjadi bagian yayasan ini" ucap nya tersenyum lepas kepadaku.
"iya pak" jawabku.
"Jangan panggil bapak, saya masih muda kok. panggil Bram aja" ujar lelaki itu.
"iya pak..Ehh Bram maksudnya" ucapku terbata-bata.
"Kalau ada waktu luang, berkunjunglah kesini. Anak-anak disini pasti senang melihatmu dan menyambut kamu dengan bahagia" ucap lelaki itu.
Entah mengapa perasaanku campur aduk.
Aku terpesona akan karisma lelaki itu. Ia berwibawa sekali. Ia juga cakap dalam berbicara dan ramah.
Aku tidak jatuh cinta. Tenang saja... Enggar tetap ada dalam hatiku. Aku hanya kagum akan keputusan Bram untuk bergelut dalam kegiatan sosial seperti ini, menjadi volunteer sekaligus penggerak dalam yayasan ini.
Proud of you.
Bram membawa aku dan pak Jufri berkeliling melihat-lihat hampir seluruh gedung di yayasan itu.
Sesekali ia bercerita tentang bagaimana anak-anak disini pertama kali menyambutnya dengan hangat.
"Anak itu sedang dalam pengawasan intensif dari saya" ucap Bram sambil menunjuk ke arah gadis kecil yang diam seorang diri disisi pojok ruangan.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa tidak bermain dengan teman yang lain" tanya Bram memeluknya.
__ADS_1
"Kakak, aku takut... aku takut kalau-kalau ibu nanti akan menjemput ku" ucap anak itu menangis.
"Tidak. Ibu tak akan menjemput mu. Aku sudah katakan pada ibu mu, kalau ia berani menjemput mu, aku akan memanggil nenek sihir mengutuknya menjadi mermaid. Supaya Angel tak lagi diganggu oleh nya" ucap Bram menenangkan anak kecil itu.
"Benarkah?" tanya anak itu.
"Benar dong, kapan kakak berbohong? Sekarang kamu harus bermain dengan teman-teman mu. Kamu tidak boleh sendirian. Oke?" ucap Enggar sambil menengadahkan tangannya untuk melakukan tepukan yang biasa mereka lakukan.
Anak itu berlari dan bergabung kembali dengan teman-teman nya.
"Bagaimana bisa kamu menenangkan anak-anak seperti itu?" ucapku heran.
"Kalau sudah terbiasa dengan anak-anak, pasti bakalan tahu sendiri kok"ucap Bram.
"Angel adalah anak korban kekerasan dari ayah dan ibu nya. Ia sering sekali dipukul oleh ibu nya tanpa alasan yang tepat. Ibu nya seorang pemakai narkoba dan ayahnya seorang pengedar. Ayahnya saat ini sedang berada dalam penjara dan ibunya selalu mengancam Angel untuk menjual Angel ke orang lain kalau Angel suka menangis ketika dipukul ibu nya.
Untung saja, ada tetangga yang melaporkan kejadian-kejadian itu kepada pihak kepolisian dan akhirnya dengan persetujuan keluarga yang bersangkutan, kami membawa nya ke panti ini. Ia memang masih memiliki perasaan trauma yang dalam kepada orangtuanya" ujar Bram menjelaskan.
"Oh begitu ya" ucapku sedih.
Tak lama dari situ, Enggar tiba-tiba menelepon ku.
"Sebentar ya" ucapku kepada Bram.
"Halo sayang, udah gimana? udah enakan?" tanya Enggar.
"Sudah kok sayang" ucapku.
"Yasudah aku tutup ya telponnnya. Nanti aku hubungi kamu lagi. Bye sayang" ucap Enggar menutup telpon nya.
"Siapa? Pacarnya ya? tanya Bram tersenyum.
Aku hanya tersenyum memberi arti iya.
"Pasti pacar kamu bahagia banget punya kamu yang memiliki visi misi seperti ini" ucap Bram memandang ku.
Aku juga hanya bisa tersenyum ketika mendengar Bram mengucapkan itu.
Sekitar pukul 15.00 Wib, aku dan pak Jufri meminta izin untuk meninggalkan yayasan itu.
__ADS_1
"Kalau ada waktu, singgah lah. Berbincang-bincang lah dengan anak-anak" ucap Bram kembali mengingatkan.
"Iya, pasti aku kan kesini" jawabku.