Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Tangis di Bandara


__ADS_3

Sita sudah hampir satu jam menunggu Sita di bandara KNO.


Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan diri Sita pasca perdebatan mereka dengan orangtua Enggar.


Selama di hotel, Sita hanya bercerita kepada Uli, sahabatnya. Sita meminta agar berita ini tak sampai kepada orangtua Sita. Sita takut akan membebani pikiran kedua orangtuanya.


Sita sudah tak sabar ingin bertemu dengan Uli. Hatinya sudah sangat panas ingin menuangkan isi hatinya kepada sahabatnya itu.


Dari kejauhan, terlihat Sita berjalan mendorong koper miliknya dengan langkah yang tak berdaya. Tampak dari wajahnya yang lesu, matanya nya yang sembab dan bibirnya tak sanggup lagi berbicara ketika melihat Uli.


"Aaa.....aaa..kuuu" tangis Sita memeluk Uli dengan keras.


"Okay sayang.. Aku tahu hati kamu saat ini. Aku ada disini. Aku akan menemanimu" ucap Uli yang juga ikut menangis.


Semua orang tertuju kepada kami. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Kami tak tahu. Mereka seperti paham akan keadaan yang saat itu aku alami. Tak banyak dari mereka yang ikut juga menangis padahal aku tak mengenalnya dan tak tahu apa yang aku alami.


Hampir 15 menit Sita tak berbicara di dalam mobil. Ia hanya diam dan sesekali menghapus air matanya.


Aku belum memberanikan diri untuk bertanya apapun kepadanya. Aku tahu pasti berat bagi dia untuk berbicara saat ini. Pasti sulit sekali untuk membagikan luka yang ia terima.


Sesampai di basment apartemen, Sita tak sedikit pun menoleh ke arahku yang saat itu sedang mengambil koper dari bagasi mobil.


Ia hanya keluar dan berdiri di samping mobil itu.


"Ayo" ajakku menarik tangannya menuju apartemen nya.


Aku tak melihat jelas Sita menekan tombol lift itu.


Apartemen Sita berada di lantai 5.


Entah mengapa kami keluar dari Lift dan kami telah berada di lantai 8.


Aku mengikuti Sita. Aku gak mau membuatnya terganggu. Aku ingin dia berjalan sesukanya saat itu.


Ia berdiri di pintu apartemen orang lain dan tak berbicara apapun.


"Sita.....plissss. jangan membuatku kacau seperti ini"ucap Uli memeluknya.


"Tolong, kamu harus kuat. Aku ada sama kamu. Paham gak sih?" ucap Uli yang kian lama menangis.


"Kumohon.. Sadarlah Sit. Ayo kita ke kamar mu" ucap Uli mengajaknya.


Selama ia berdiri di setiap pintu kamar apartemen yang berada di lantai 8 itu, Sita menangis. Ia mengingat semua kenangan bersama Enggar yang sebentar lagi akan pupus apabila tak ada restu dari orangtua Enggar.


Tatapan mata Sita kosong, ia tak mau diajak berbicara. Sehingga membuat Uli takut untuk menghadapi nya.

__ADS_1


Setiap Sita membaringkan diri di kasur, ia menangis.


Ia membengkukan kan tubuhnya diatas bantal.


Tubuhnya tak berdaya terbaring di atas kasur.


Sesekali ia meminta ku untuk menggenggam tangannya.


Aku hanya bisa mengelus rambutnya dan perlahan mengajaknya berbicara.


"Ayolahhhh... Aku ada bersama mu Sit. Jangan kayak gak ada harapan gitu dong. Enggar sedang berjuang loh. Kamu harus menguatkan dia juga" ucap Uli yang terus menguatkan Sita.


"Aku sudah rapuhhh sekali" ucap Sita menangis. Aku sudah tak bisa melihat dunia. Aku sudah tak bisa melihat warna hidupku. Aku sudah lelah. Aku sudah tak berdaya Li" ujar Sita tersedu-sedu.


************************


Hatiku dipenuhi kebimbangan


Haruskah kurelakan apa yang selama ini telah ku perjuangkan?


Ketika doa dan restu tak kunjung kudapatkan


Duniaku dipenuhi kegelapan


Begitu banyak halangan yang telah kutempuh


Doa restu belum juga tergapai


Niatan hati tak kunjung sampai


Semua harapan pudar menjadi mimpi


Ketulusan seakan tak lagi berarti


Cerita cinta kita tak pernah direstui


Aku harap kau mau mengerti


Jika cinta tak harus saling memiliki


Biarlah aku mengalah dan pergi


Dan jika kita memang ditakdirkan bersama


Aku percaya, tuhan pasti kan tunjukan jalannya

__ADS_1


Bersabarlah hingga saat itu tiba


Cerita tentang kita kan kujaga


Menunggumu yang selalu kunanti


Hingga cinta kita direstui


Tetapi haruskah?


Setelah sekian lama kita bersama


Aku ingin kita dapat bersama tuk selamanya


Aku ingin membahagiakanmu


Aku ingin menjaga senyum disudut bibirmu


Menghabiskan waktu bersamamu


Kupikir semua kan indah pada akhirnya


Tapi ternyata cinta kita terbentur restu kedua orang tua kita


Adakah ini akhir dari dua hati yang saling mencintai


Menjadi cerita cinta yang tak direstui


Salahkah dua hati saling menyayangi


Salahkah kita saling mencintai


Kemana harus ku labuhkan semua harapan


Seakan semua telah tertelan ketiadaan


Saat kebahagian seolah hanya sebatas kiasan


Haruskah aku merelakanmu..


Meski ku tau hatiku tak kan mampu...


Haruskah aku pergi..


Dan tak kembali ke kehidupanmu lagi.

__ADS_1


Tuhan, kumohon berilah aku sedikit kesabaran..


Jika perpisahan tak lagi dapat terelakan.


__ADS_2