
Wajah Sita tak begitu ceria ketika pulang dari kantor sore itu.
Ia terus memikirkan perkataan Aurora yang terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Bagaimana mungkin Aurora tahu kisah sedih percintaannya?
Di tengah perjalanan, Sita teringat dengan postingan Ig Aurora. Ia pernah berfoto dengan pak Chong.
Sita meminggirkan Mobilnya ke trotoar untuk bisa berpikir tenang sembari akan menelepon pak Chong.
"Halo pak Chong" ucap Sita.
"Halo Sita. Apa kabar? balas Pak Chong.
"Kabar baik pak. Bapak apa kabar?
"Ya seperti biasa Sit. Tetap aman terkendali. Btw tumben nih nelpon. Gak biasanya".
"Iya Pak. Sebenarnya Sita ingin menanyakan sesuatu sih Pak dan harapannya bapak menjawab pertanyaan Sita dengan jujur" ucap Sita memohon.
"Iya Sita, santai aja. Emang mau nanya apa"
"Pak, bapak kenal tidak dengan Aurora?"
"Hmmm. Kenal. Emang kenapa? Dia buat masalah lagi disana?" tanya pak Chong penasaran.
"Bukan pak. Dia tahu tentang masa lalu Sita. Aurora tahu kegagalan percintaan Sita dengan Enggar di masa lalu. Dia tahu semuanya. Yang Sita ingin tanyakan, kenapa bapak memberitahu kepada Aurora semua masa lalu Sita? Bapak jahat ya" ucap Sita menangis
"Bukan seperti itu Sit. Saya juga khilaf sudah memberitahunya. Ia menelpon ku ketika aku mabuk bersama dengan teman-teman ku. Jadi dengan keadaan tidak sadar, aku menceritakan semuanya. Bukan maksud ku ingin membeberkan semuanya Sita. Maafkan saya" ucap Pak Chong memohon.
"Hmmm. Yasudahlah pak. Semuanya juga sudah terjadi. Semuanya juga sudah tahu masa laluku. Lelaki manapun tak akan mau dengan ku. Sepertinya kota yang saat ini aku injak akan bernasib sama dengan kota yang dulu aku lalui dengan nya. Tak mengap pak. Hatiku hanya sedikit lemah, mudah untuk dipatahkan. Terimakasih pak Chong" ucap Sita menutup panggilan itu dan kembali menangis.
Sita berlalu meninggalkan tempat itu dan mulai berjalan menuju rumah nya.
"Halo Ciko" ucap Sita menyapa anjing nya yang baru ia pelihara.
"Pasti hari ini berat banget ya tanpa aku" Sita memeluk anjing itu seolah melepas semua kepenatan dalam hati Sita.
"Kamu jangan sedih-sedih ya kayak aku. Kalau kamu sedih, aku juga akan ikut sedih. Kamu janji ya gak akan ninggalin aku?" ucap Sita berbicara dengan anjingnya sambil meraih jari anjing itu seolah membuat perjanjian seperti manusia pada umumnya.
Sita menangis dengan anjing nya dan ia tak sadar kalau ia tertidur pulas di ruang tamu bersama anjingnya.
"Astaga sudah jam 7 malam loh Ciko. Kenapa kamu tak membanguni ku sih?" tanya Sita mengelus kepala anjingnya.
__ADS_1
Sita bergegas untuk mandi dan mulai menyiapkan makan malam nya.
Sita kembali membuka laptop nya dan mulai menjalin komunikasi dengan petinggi-petinggi di wilayah timur yang dekat dengan perusahaan mereka.
Sita terus membangun hubungan dengan perusahaan lain dengan maksud agar bisa membawa perusahaan yang ia pimpin maju seperti perusahaan lain yang ada di wilayah itu.
Malam itu, Sita begitu bersemangat untuk memulai program kerja nya esok hari karena ia baru saja menerima pesan dari Pak Direktur terkait program yang ia canangkan untuk kemajuan Perusahaan itu agar segera dilaksanakan. Artinya sudah disetujui oleh Direktur.
"Tapi bagaimana mungkin pak Direktur tahu terkait program kerja aku ya" tanya Sita dalam hati.
"Oh pasti ini laporan dari Radit lelaki sombong itu".
"Yaudahlah. Yang penting aku sudah menyampaikan apa yang selayaknya akan dilaksanakan guna kemajuan perusahaan ini" ucap Sita bersemangat.
"Halo selamat pagi semuanya" ucap Sita membagi-bagikan beberapa snack yang ia beli dari sebuah toko roti.
"Pagi Bu. Baiknya Bu Sita. Udah cantik, pintar, ramah, aduhhhhh pokoknya perfect deh" ucap seorang karyawan memuji Sita.
"Perfect apanya? Ditinggal nikah begitu" ucap Aurora yang tiba-tiba nimbrung dalam suasana sejuk di pagi itu.
Sita diam dan hanya tersenyum kepada seluruh karyawan dan berjalan meninggalkan ruangan itu menuju ruang kerja nya.
"Itu wanita gila ada masalah apa ya sama aku?" ucap Sita membereskan semua laporan yang ada di meja nya.
"Aduhhhh.. pasti wanita gila itu lagi" ucap Radit ingin menutup pintu nya.
Heels Aurora terlebih dahulu mendarat di depan pintu itu sehingga menghambat Radit untuk menutupnya.
"Hai sayang, buru-buru amat sih untuk nutup pintunya. Aku belum masuk loh. Belum terasa juga" ucap Aurora meletakkan tanganny di dada Radit.
"Kamu ini ya. Selalu bertingkah aneh" ucap Radit menutup pintu kerjanya.
"Bagaimana kalau karyawan tahu tindakan kamu ini? Bisa-bisa nya kamu memeluk saya seperti itu. Didepan pintu lagi. Bagaimana kalau ada yang melihat?" Radit berjalan menuju meja kerjanya.
"Emang kenapa kalau ada yang melihat? Lantas aku peduli? Biarkan mereka berkata apa tentang kita yang penting aku dan kamu bisa bercumbu di ruangan ini setiap hari" ucap Aurora mengunci pintu itu berkali-kali.
Aurora berjalan ke arah Radit dan mulai memasang wajah seksi nya untuk merayu Radit.
"Rora.... Stopppp. Aku tak akan tertarik denganmu" ucap Radit yang terus membuang tatapan nya ke komputer miliknya.
"Aku tak percaya dengan omong kosong mu. Bagaimana mungkin kamu tak tertarik dengan kedua buah melon ku yang seksi seperti ini" ucap Rora memainkan kedua gundukan miliknya.
"Aku tak tertarik Rora. Pliss deh. Kamu keluar dari ruangan saya".
__ADS_1
Aurora membuka bra nya dan langsung duduk dipangkuan Radit.
"Bagaimana mungkin pedang kamu ini tak tegang ketika melihat dua gundukan miliku ini?" Aurora melekatkan kedua gundukannya tepat di wajah Radit.
Radit yang tidak tahan melihat kedua gundukan milik Rora langsung merem*snya dengan sentuhan halus dan sambil mencium-ciumnya.
"Ha kan, pasti kamu tak akan menolak Radit" ucap Aurora yang kesakitan karena Radit sedikit menggigit put*ng gundukannya.
"Sayangggg, jangan ganas gitu dong. Aku kesakitan tahu. Santai aja. Tubuh ini hanya milik kamu kok" ucap nya kembali ingin membuka seluruh pakaiannya.
"Udahh..udahh stop Aurora. Aku bisa gila kalau begini terus" ucap Radit yang tiba-tiba menghentikan keganasan nya itu.
"Astaga. Aku udah terpancing dengan wanita gila seperti mu Rora" ucap Radit berdiri ke arah jendela ruangan itu.
"Tetap saja bersikap seperti itu. Aku akan semakin terus menggoda mu sampai kamu jatuh ke pelukanku" Aurora memeluk Radit dari belakang tanpa menggunakan sehelai pakaian apapun.
Aurora terus mengelus-elus dada Radit dan memegang seluruh tubuh Radit seolah memberi kode agar mereka bisa memainkan permainan itu diatas sofa.
Radit kembali tak tahan dengan rayuan maut Aurora sehingga membuat Radit kembali jatuh dengan pelukan itu.
Radit menggendong Aurora dan membaringkannya diatas sofa itu.
Radit mengecup kening Aurora, dilanjut dengan kecupan hangat yang kian lama terus mengalir ke bibir Rora sampai kecupan lembut Radit mendarat di gundukan besar milik Aurora.
Hasrat Radit yang kian lama semakin bertambah ketika Aurora memainkan seluruh tubuhnya untuk merayu Radit. Aurora memainkan bibirnya dan terus melekatkan tubuhnya diatas dada Radit.
Radit yang sudah tak tahan dengan aksi Aurora, berusaha ingin membuka resleting celananya. Tapi entah kenapa resleting itu tak bisa terbuka.
"Shhhtttt. Sial" Radit bangkit dan kembali ke meja kerjanya.
"Pakai baju kamu" Radit melemparkan baju Aurora.
Aurora tersenyum manja melihat tingkah Radit yang daritadi ia perhatikan karena Radit tak begitu paham ketika melakukan permainan enak itu.
"Kenapa kamu senyam senyum begitu? Pakai baju kamu tuh" Radit berusaha untuk melihat komputer nya.
"Kamu lucu banget sih. Aku semakin cinta sama kamu" ucap Aurora yang masih saja menutupi kedua gundukannya dengan menggulungkan baju milik nya.
"Udah Rora. Keluarlah dari ruangan ku. Aku gak mau semua curiga dengan kamu di ruangan ini".
Aurora memakai baju nya tepat di hadapan Radit seolah kembali ingin menggoda Radit.
"Baik deh sayang. Aku keluar dulu ya" ucap Aurora berbisik ke telingan Radit dan pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Astagaaaa. Kenapa aku bisa tergoda dengan wanita gila itu? Astagaaa" ucap Radit yang terus menyesal karena perbuatan yang ia lakukan dengan Aurora.