
Sore itu membuatku sedikit kesal karena kejadian ketika aku mengikuti kuliah daring tadi.
Aku bergegas mandi dan mencuci beberapa pakaian kotorku.
Tiba-tiba handphone ku berdering. Mama menelponku dari kampung.
“Sita, satu bulan lagi acara pernikahan Abangmu, Brian. Jadi mama berencana akan datang ke Medan untuk membeli perlengkapan pesta nanti, ucap mama melalui telpon”.
“Emang Mama mau beli apa. Di kampung tidak ada ya Ma?, tanyaku”.
“Bukan tidak ada, tapi di Medan sudah pasti banyak pilihan dan cantik-cantik lagi, jawab mama”.
“Cantik-cantik apa sih ma maksudnya?”
“Kita kan harus pakai kebaya Sitaaaa...., jawab mama”.
“Oh iya, jawabku dengan suara sedikit tertawa. Jadi kapan mama ke Medan?”
__ADS_1
“Rencana hari Jumat sih, biar hari Sabtu nya kita punya waktu banyak untuk membeli perlengkapan yang lain”.
“Ma, gak bisa hari Minggu aja ya Mama datang?, jawabku dengan sedikit memaksa”.
“Lah, emang kenapa? Sita sibuk? Kan hari Sabtu, perkuliahan gak ada. Lagian kan malam minggu juga Sita biasanya cuman dikosan, Ucap mama dengan sedikit bingung”.
“Bukan gitu Ma, Sita takut toko kebaya nya rame. Sekarang kan lagi masa pandemi, ya takut aja gitu Ma, jawabku dengan nada sedikit memaksa Mama”.
“Gak dong Sita. Emang siapa di masa pandemi begini mau berpesta dan mau menjahit kebaya, kan gak ada. Lagian tetap kok kita jaga protokol kesehatan. Sudah kalau Sita juga gak bisa, nanti Mama minta tolong sama paribanmu Lamhot buat menemani mama, jawab mama untuk meyakinkan aku”.
“Yaudah deh ma, datang aja. Nanti Sita jemput, ucapku”.
“Iya ma, sambil menutup telpon dari mama”.
-------------------------------
Haduh gimana ya ini. Aku kan ingin bertemu dengan lelaki seksi itu di taman untuk olahraga sama. Kalau aku pergi bareng mama, pasti satu harian. Pasti dari pagi sampai malam, Mama selalu begitu apalagi untuk membeli perlengkapan pesta.
__ADS_1
Aku pasti tidak bisa bertemu lelaki seksi itu di taman padahal aku sudah mengiyakan permintaannya. Hufhhhtt.... gimana ya?
Kalau aku datang ke taman untuk olahraga bersama lelaki itu, bagaimana dengan mama?
Aduhhh aku pusing...... Aku gaenakan sama Lamhot paribanku. Masa iya Lamhot menemani Mama belanja ini itu, secara yang mau di beli itu banyak banget dan tidak hanya di satu tempat aja. Kasian mama, pasti satu harian itu nanti capek. Ihhhh kesal banget deh dengan situasi seperti ini.
Aku membaringkan diriku di kasur sembari memainkan handphone ku.
“Tapi, kenapa aku harus memperdulikan permintaan lelaki seksi itu. Dia siapaku? Aku gak mengenalnya. Dan kenapa aku harus mengiyakan permintaan lelaki seksi itu kemarin, pikirku sambil membangkitkan diriku dari tempat tidur".
“Tidak masalah sih kalau aku tak datang ke taman untuk olahraga bersamanya. Dia bukan siapa-siapaku begitu juga sebaliknya. Tidak masalah kalau aku tak memenuhi permintaannya itu, gumamku dalam hati”.
“Tapi, kenapa hatiku berat ya untuk tidak datang ke taman itu?. Ya mungkin karena jiwa kemanusiaan aku kali ya. Kalau kita udah berjanji, gak boleh diingkari... Ehhhh, aku kan gak berjanji....ihhhhh gimana sih, hati dan pikiranku saling bergejolak”.
“Ihhhhh emang aku pikirin. Emang dia siapa? Mama lebih penting daripada lelaki yang tidak jelas sepertinya, ucapku dalam hati”.
*****************************
__ADS_1
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menemui lelaki itu di taman dan aku akan pergi bersama Mama.