
"Kita ke kanan ya pak" ucap Sita menunjuk ke arah warung Mba Dien.
Pak Jufri memarkirkan mobilnya.
"Halo Mba", sapaku kepada mba Dien.
"Astaggagaa, neng Sitaaaa" ucap Mba Dien memegang pundak ku sambil tersenyum lepas.
Udah lama banget loh neng Sita gak mampir ke warung.
"Iya mba. Sita udah gak tinggal di tempat kemarin lagi. Sita udah kerja. Jadi jarang lewat darisini " ucapku sambil memanggil pak Jufri untuk duduk di meja nomor 7.
"Udah neng, duduk aja dulu" ujar mba Dien sambil menyiapkan bubur ayam dan teh okra hangat kesukaan Sita.
"Tinggal dimana sekarang neng? tanya Mba Dien sambil menyerahkan bubur ayam, sup buntut dan makanan lainnya di hadapan Sita dan pak Jufri.
"Ini mba, di apartemen dekat dengan Plaza" jawabku sambil mengambil sendok.
"Oh iya. Tapi neng Sita makin cantik loh, ujar Mba Dien tersenyum.
"Aduhhh, memang bos saya ini selalu cantik Bu. Udah cantik, baik lagi" ucap pak Jufri ikut nimbrung dalam pembicaraan kami.
"Bapak ada-ada aja" jawabku tertawa kepada pak Jufri.
"Iya kan pak. Memang neng Sita putri titipan Gusti Allah kali ya pak" ucap Mba Dien menuangkan teh okra ke dalam gelas kami.
"Saya tinggal dulu ya neng, Pak. Permisi" ujar mba Dien meninggalkan kami.
Aku mulai bercerita dengan Pak Jufri bagaimana warung ini menemani hari-hari Sita ketika masih kuliah bahkan ketika keluar makan bersama dengan Enggar.
__ADS_1
"Warung ini banyak kisah nya loh pak. Mulai dari Sita dekat sama lelaki kurang ajar. Hahahahaha" tawa ku cegukan sampai pak Jufri mengambilkan minum untukku.
" Kurang ajar bagaimana Bu?" tanya pak Jufri.
"Ya gitu pak. Dia selingkuh dengan orang lain padahal Sita yang waktu itu masih polos dan baru pertama kali dekat dengan lelaki ya tertipu. Tapiii yaaaa, itu masa lalu. Sekarang udah ada Enggar menemani hari-hariku" jawab Sita.
Pak Jufri terkejut karena mendengar nama Enggar. Entah mengapa pak Jufri tak mau menanyakan nama tersebut kepada Sita.
Sita juga menceritakan bagaimana Enggar memberikan segelas teh manis kepadanya. Di warung ini juga yang akhirnya mempertemukan Enggar dengan mama nya.
Tak terasa udah hampir dua jam Sita dan Pak Jufri berbincang-bincang di warung Mba Dien.
"Gimana pak? Enak gak masakan di warung ini" tanya Sita.
"Enak banget loh neng. Warung kaki lima tapi rasa bintang lima" ucap Pak Jufri tertawa.
"Bapak mah selalu begitu" jawabku yang juga tersenyum.
"Iya pak, saya mau istirahat saja" jawabku.
"Terimakasih ya mba Dien. Kalau ada waktu Sita mampir lagi nanti" ucapku sambil menyalamnya.
"Neng memang harus punya waktu kalau ke warung ini" ucap Mba Dien tertawa lepas.
"Doakan aja mba. Saya jalan ya mba" ucapku berjalan menuju mobil.
"Iya mba. Hati-hati. Terimakasih ya.
Akhirnya kami gerak menuju apartemen karena tubuhku sedikit agak menggigil.
__ADS_1
Aku tak mau dibawa ke rumah sakit karena ya aku yakin, ini karena diriku yang kelelahan.
Aku hanya butuh istirahat dan sedikit berolahraga.
"Terimakasih ya Pak" ucapku sambil keluar dari mobil.
"Sama-sama neng. Terimakasih banyak ya neng traktirannya tadi" balas Pak Jufri tersenyum.
Aku mulai masuk ke dalam lift menuju kamar ku.
********Flashback********
Pak Jufri tidak mau menanyakan terkait nama Enggar yang ia dengar dari mulut Sita karena ia takut kalau Sita akan bertanya lebih jauh tentang Enggar. Pak Jufri sudah tahu kalau Enggar merupakan salah satu anak dari pemilik saham terbesar dari perusahaan mereka.
Dan sebenarnya yang mengajukan agar Sita membuat lamaran ke perusahaan ini adalah Enggar.
Pak Jufri sudah hampir 10 tahun bekerja di perusahaan itu sebagai supir dan juga sempat menjadi karyawan produksi.
Hingga akhirnya Pak Chong mengangkatnya sebagai supir pribadi Pak Chong dan Sita.
Enggar yakin kalau Sita memiliki kapasitas besar untuk bergabung dalam perusahaan ini. Enggar tak sedikitpun memanfaatkan nya. Enggar menyayangi Sita sehingga tak ingin melihat Sita pontang panting mencari pekerjaan.
Sebenarnya papa Enggar tak menginginkan Enggar untuk berprofesi sebagai TNI (Tentara Nasional Indonesia). Keluarganya menginginkan supaya Enggar melanjutkan kepemimpinan papa nya di perusahaan besar itu.
Keluarga Enggar sedikit renggang dengan Enggar karena Enggar memutuskan untuk bersikeras menjadi TNI.
Hampir setengah tahun, Enggar tak berkomunikasi dengan keluarganya. Sampai akhirnya Orangtua Enggar berkunjung ke kantor Enggar untuk menemuinya.
Enggar meminta tolong kepada pak Chong agar Sita diterima di perusahaan itu tanpa sepengetahuan orangtua Enggar.
__ADS_1
Awalnya Pak Chong sedikit ragu karena ini akan menjadi masalah besar apabila Pak Tohap tahu akan permintaan anaknya tersebut.
Tapi Enggar dengan tegas meyakinkan Pak Chong kalau kemampuan Sita akan menaikkan pendapatan perusahaan. Dan juga dibantu oleh rekomendasi dari kampus Sita dan dosen pembimbing Sita yang saat itu menjabat sebagai dekan.