
Sita membaringkan dirinya di atas ranjang Enggar juga ikut berbaring diatas ranjang itu membuat suasana terkesan hangat bagi Sita.
Enggar memeluk Sita dengan erat.
"Sayang... izinkan aku malam ini tidur di sampingmu. Aku ingin menjaga tidur mu" ucap Enggar yang terus menahan air matanya.
Sita yang sudah terbawa suasana hangat di dalam pelukan Enggar hanya mengangguk seolah mengiyakan perkataan Enggar.
Enggar terus mengelus rambut Sita sampai akhirnya Sita tertidur pulas dalam pelukannya.
Sesekali ia memandang wajah Sita yang manis dan menangis pelan menutup mulutnya sendiri agar tidak ketahuan oleh Sita.
"Kenapa kamu harus menjadi korban kejahatan mama ku" Enggar menatap nya dengan dalam.
Enggar melepas pelukan Sita dan memberi kecupan hangat di pipi dan bibir Sita.
"Selamat malam wanita baik. Istirahat lah" Enggar mengecup bibir Sita.
Sita tiba-tiba membalas kecupan itu dan menarik bahu Enggar sampai dada Enggar sudah berada di atas tubuh Sita.
"Sayang tidurlah bersama ku" ucap Sita tetapi memejamkan matanya.
Enggar kembali memeluk Sita dan menunggu sampai Sita benar-benar tidur di pelukannya.
Enggar duduk di kursi kebesaran Sita ketika ia bekerja dari apartemen.
Enggar melihat bahwa di setiap sudut meja nya ada nama Enggar dan foto-foto selama mereka bersama.
Enggar kembali menangis ketika membaca setiap buku harian Sita yang menuliskan rasa rindu Sita kepada nya selama ia tak memberi kabar kepadanya.
"Bagaimana mungkin aku harus meninggalkan mu" isak tangis Enggar yang kian pecah.
Ia mengambil secarik kertas dan menuliskan kalimat perpisahan yang seharusnya ia ucapkan ketika di cafe tadi.
Dear Sita
Aku tahu kamu pasti tidak akan baik-baik saja ketika membaca surat ini.
Ku mohon tetap lah berpikir dan melangkah logis setelah kamu membaca surat ini.
Berjanjilah kepadaku.
Sabtu depan aku akan melangsungkan pernikahan ku dengan Kezia, paribanku.
Berat sekali aku menerima ini.
__ADS_1
Tapi tidak ketika aku sudah menemui mu sekarang.
Kamu sudah berubah. Kamu tidak seperti Sita yang aku temui pertama kali. Kamu lebih genit dari yang sekarang. Kamu tidak Sita polos yang aku kenal. Biasa kamu juga tak berani mengajakku untuk tidur, semalam kamu ingin aku melakukan itu.
Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan wanita seperti itu?
Aku seorang abdi negara. Citra ku pasti akan rusak ketika membangun rumah tangga denganmu. Lagian selama ini kamu bukan tipeku. Aku suka dengan anak kesehatan bukan wanita seperti mu yang bermimpi tak jelas.
Aku akan menikahi seorang wanita pekerja keras, baik, pintar dan seorang dokter lagi. Masih kalah jauh dengan mu.
Makanya stop mengejar ku. Kamu bukan tipeku.
Aku tak sungguh-sungguh mencintaimu. Aku hanya berpura-pura untuk mengisi kekosongan ku selama di Medan.
Percayalah...
Aku sungguh tak mencintaimu selama ini
Segeralah untuk move on. Jangan bersikap seperti orang gila seperti kemarin. Tetaplah melangkah, jaga kesehatan kamu. Makan lah teratur. Istirahat yang cukup. Kamu juga berhak bahagia.
***Lelaki seksi yang tak mencintaimu***
Enggar yang sudah tak kuat menahan tangis nya pasca menulis surat itu, masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan shower dengan keras agar tak terdengar oleh Sita suara Isak tangisnya.
"Aku harus bagaimana? Haruskah aku yang meninggalkan luka ini kepada nya?"
Ia menulis surat itu agar Sita membenci Enggar melalui pesan itu dan pada akhirnya tidak akan menghubungi Enggar kembali karena Enggar telah menyakiti hati nya.
Enggar kembali tidur di samping Sita. Ia memandangi Sita dengan dalam. Hati nya yang bergejolak seolah memohon agar Ia tak meninggalkan Sita. Tapi apa daya, mama Enggar kembali mengirim pesan singkat untuk segera meninggalkan Sita.
"Maafkan aku sayang. Aku minta maaf. Aku tak seharusnya membawa kamu sampai sedalam ini. Tak seharusnya aku membawa kamu sampai sejauh ini. Maaafff kaaannn aaaaku" isak tangis Enggar yang terus mencium Sita.
Enggar kembali memeluknya dengan erat dan memberi kecupan hangat untuk mengakhiri pertemuan malam itu.
Enggar berangkat menuju hotelnya karena keesokan pagi harus berangkat kembali ke Pekan Baru sesuai kesepakatan mereka dengan mama nya.
Sepanjang jalan ia menangis mengingat Sita yang ia tinggal ketika tidur pulas seperti itu.
Ia tak tega melihatnya ketika bangun di pagi hari nanti dan mendapati surat konyol yang ia tulis diatas meja nya.
Dingin nya udara di malam itu seolah menusuk jantung dan perasaan Enggar saat itu.
Ia membuka mobilnya dan berteriak-teriak seperti orang mabuk yang tidak tahu arah pulang.
Enggar sudah hampir 3 kali mengelilingi Jalan Sudirman dan kembali ke jalan Palang Merah dengan keadaan hati yang juga hancur.
__ADS_1
"Maafkan aku Sittaaaaaaa" Enggar berteriak-teriak seolah Sita mendengar nya.
Ia berhenti di sebuah fly over dan berteriak sekencang-kencangnya sampai orang yang melewati jalan itu kaget dan heran.
"Sita jangan menangis😭😭" teriaknya sambil menangis.
"Sita aku akan merindukanmu"
"Sita maafkan aku" Enggar tiba-tiba duduk bersila seolah sudah tak tahan lagi untuk berteriak.
"Kemana aku harus melabuhkan cintaku sayang? Aku tak mungkin bisa mencintainya. Aku hanya mencintaimu" tangis Enggar yang membuat orang semakin simpati.
"Mas, kenapa?" tanya seseorang menyentuh pundak Enggar.
Enggar hanya diam dan kembali menangis.
"Aku baik-baik saja pak. Aku hanya kecewa dengan kebodohan ku. Aku tidak bisa menjaga nya. Aku tak bisa memperjuangkan nya" ucap Enggar yang terus memukul-mukul kepalanya.
"Sudahlah mas. Gusti Allah pasti memberikan jalan yang terbaik untuk mas dan si mba nya" ucap bapak itu seolah paham masalah yang Enggar hadapi.
Enggar masuk ke dalam mobil dan berlalu menuju hotel.
Ia berusaha untuk terus tegar sebelum keberangkatannya besok meninggalkan Medan.
Pagi itu Sita bersemangat untuk bangun karena mengingat Enggar tidur di samping nya.
Tapi entah mengapa, pagi itu Enggar gak terlihat. Sita percaya sekali kalau Enggar sedang pergi mencari makan untuk sarapan mereka.
"Ia selalu begitu. Tak pernah mau membebaniku" pikir Sita.
Tapi pikiran itu langsung hilang ketika ia menemukan secarcik kertas yang Enggar tulis diatas meja kerjanya.
Ia membaca isi surat itu sampai terisak-isak.
"Kamu berbohong. Kamu mencintaiku. Bagaimana mungkin kamu bisa menuliskan kebohongan ini di surat ini" ucap Sita menangis.
Ia terus menghubungi Enggar berharap Enggar memberi pernyataan bahwa surat itu tidak ditulis olehnya.
Tapi apa daya, Enggar sudah menonaktifkan nomor tersebut dan telah berangkat ke Pekan Baru.
Jangan lupa like, koment dan bantu vote ya teman-teman
supaya Author makin rajin untuk up
hehhehhehe
__ADS_1
terimakasih 🌷