
Handphone ku kembali berdering. Ternyata itu Lamhot, paribanku.
"Halo Ta, Bou udah di kosan?, tanya nya".
"Udah bg, datang aja, jawabku".
"Bou bawa apa pariban, tanya nya kembali".
"Bawa rambutan, sini. sebelum aku habiskan ini semua, jawabku dengan suara tertawa).
"Jangan dihabisin dong Sitaaaa. Nanti malam deh kayaknya aku bisa ke sana. Soalnya aku belum balik kerja nih, jawab nya ".
"Ok yaudah deh bg, ujarku sambil memutus panggilan tersebut".
"Apa kata Lamhot nak, tanya mama".
"Dia datang malam ma, soalnya dia masih kerja, jawabku sembari membersihkan kulit rambutan".
"oh, yaudah deh. Mama mau mandi dulu, jawab mama".
-------Malam tiba---------
"Horas namboru awak, ucap bg Lamhot sambil memeluk mama".
"Horas bereku yang ganteng, ujar mama sambil menepuk nepuk pundak bg Lamhot. Darimana aja kau? Kenapa gak langsung kau tadi datang? Udah dihabiskan paribanmu rambutan nya, ucap mama sambil tersenyum lebar mengarah kepadaku".
"Gak apa-apalah Bou, yang penting paribanku ini kenyang, ucap bg Lamhot sambil melirikku. Ini bou aku bawa martabak tadi. Enak ini martabaknya, ucap Lamhot sambil menyerahkan plastik putih ke hadapan mama".
"Halah kenapa harus repot-repot begini Bere? Pala lah dibeli martabak. Tetapnya si Sita mau sama mu, ucap mama sambil tertawa".
"Mama ini, ucap ku sambil tertawa dan memberikan bungkusan plastik kepada Lamhot yang berisi buah rambutan. Ini bang Hot rambutannya. Aku sisakan kok untuk paribanku yang ganteng ini, ucapku merayunya".
"Hahahaha. Tengok lah si Sita ini bou, pintar kali dia menggombal, ucap Lamhot tertawa".
"Namanya juga pariban, suka-suka kalian lah, jawab mama tertawa".
"Bou mau bandrek gak? Disini bandrek enak loh bou, ucap Lamhot".
"Oh boleh, pergi lah dengan Sita membelinya, jawab mama".
__ADS_1
"Ayo Sit beli bandrek yok, tempat Mba Dien, ajak Lamhot".
"ayok bang, balasku".
"Wak, beli bandrek 3 bungkus ya, ucapku".
"Tumben neng Sita beli bandrek, tanya Uwak".
"Iya nih Wak, mama Sita datang, jadi bang Lamhot nawarkan mama minum bandrek buatan Uwak, jawab ku sambil duduk bersama bg Lamhot".
"Oh gitu, jawab Uwak sambil membungkus bandrek nya".
(kami membeli bandrek ini sekitar pukul 22.50 Wib)
Dragggg....draggggg.....dragggg
suara langkah kaki itu menuju ke arah kursi yang kami duduki.
"Sita, kenapa kamu disini, tanya Enggar yang saat itu memasang wajah marah kepadaku".
"Lah, apa urusanmu, jawabku dengan ketus".
"Emang perlu banget kamu tahu aku ngapain?, jawabku sambil bangkit dari kursiku.
"Kalian kenapa sih, tanya bg Lamhot. Kamu siapa?, tanya Bg Lamhot kepada Enggar".
"Kenalkan bang, saya Enggar Putra Nadeak PACAR Sita Patrecia Manik, ucap Enggar dengan lantang sambil mengulurkan tangan nya untuk bersalaman dengan Lamhot".
Lamhot meraih uluran tangannya dengan hangat.
"Halo Bro, senang berkenalan denganmu. Sita tak pernah cerita kalau dia sudah punya pacar, ucap Lamhot".
"Iya, kami baru pacaran tadi. Barusan aja, jawab Enggar".
"Ha, apaan sih Gar? Jangan ngaco deh, jawabku".
"Yaaampun Sita, kenapa harus malu? Gak apa-apa loh. Santai aja, ujar Lamhot".
"Ihhh apaan sih, dia gak pacar aku loh bg, jawabku dengan nada kesal sambil melotot ke arah Enggar".
__ADS_1
"Kamu gak usah malu kali Ta, jawab Enggar sambil meraih tangan ku dan menggenggamnya".
"Yaudah deh, aku balik sendiri aja nanti ke kosan. Kamu sama Sita aja ya, ucap Lamhot".
"Gaaaakkk gakkkkk, ucapku terbatah-batah".
"iya bg, gak apa-apa. Nanti aku antarin Sita ke kosan, jawab Enggar dengan hati bahagia".
"Ok deh bang. Kami tunggu di rumah ya bang. Biar sekalian cerita-cerita sama camer (calon mertua), ledek Lamhot sambil menyalakan motornya".
"Ok bang, jawab Enggar dengan gembira".
Bang Lamhot berlalu dan kami berdua duduk kembali di kursi itu.
"Kamu apaan sih Gar? Kamu udh melewati batas ya ini. Aku gak suka cara kamu begini, gerutuku kepadanya".
"Iya maafkan aku Sita. Tapi benar gak dengan perkataan ku tadi?, tanya nya".
"Perkataan yang mana?, tanya ku dengan nada kes".
"Ya itu.... Kita pacaran mulai malam ini, jawabnya sambil menarik tanganku".
"ihhhh makin gak jelas banget sih, jawabku".
"Ini neng Sita bandreknya, ucap Uwak sambil memberikan kantong plastik hitam".
Buru-buru aku melepas tangan Enggar.
"Oh iya. Ini Wak uang nya, aku menyodorkan uangku".
Tiba-tiba Enggar menarik tanganku yang berisi uang.
"Ini aja Bu. Hitungkan sama punya saya tadi di meja 07, ucap Enggar".
aku hanya melihat nya dengan mata sinis.
"Makasih, ucapku sambil naik ke atas motornya".
"Kenapa harus makasih, kan untuk calon mertua, jawab nya dengan sedikit nada merayu".
__ADS_1
" ihhh apa sih, jawabku sambil mencubit pinggang nya di atas motor".