
Orangtua Kezia datang untuk membicarakan acara pernikahan Enggar dan Kezia yang sebentar lagi akan berlangsung.
Enggar duduk sembari menyapa nantulang dan tulang nya yang sudah lama menunggunya.
"Bersikap sopan" ucap mama Enggar berbisik.
"Gak terasa ya, kamu udah dewasa seperti ini. Dulu masih Nantulang gendong kesana kemari. Sekarang bahkan akan menjadi Hela (menantu) nantulang" ucap mama Kezia tersenyum.
Enggar hanya tersenyum balik tanpa berbicara apapun.
Kezia sangat cantik, ia pintar dan selalu menawan. Saat ini ia bekerja di salah satu Rumah Sakit ternama yang ada di Pekan Baru. Ia juga terpaksa menikah dengan Enggar karena mengingat usia orangtuanya yang sudah cukup tua dan Kezia adalah salah satu anak perempuan bontot mengharuskan dirinya untuk berbakti kepada orangtuanya.
Sebelumnya ia pernah pacaran dengan seorang dokter tetapi tak lama hubungan mereka berakhir karena lelaki itu menikah dengan seorang pengacara.
Itu yang membuatnya sulit untuk jatuh hati kepada pria lain.
Pihak keluarga Enggar dan keluarga Kezia membicarakan seluruh rangkaian pernikahan mereka nanti.
Cukup lama mereka berbincang-bincang dan tak sering papa Enggar dan Mama Kezia berdebat tetapi masih bisa diatasi.
"Ribet ya kalau orang Batak berpesta" ujar Kezia memulai pembicaraan dengan Enggar.
"Iya" ucap Enggar ketus.
"Jangan terlalu cuek. Jangan buat batasan karena perjodohan ini. Kamu Enggarku yang dulu bermain bersamaku. Mengapa kamu harus bersikap dingin seperti ini. Sebentar lagi, kita juga akan bersama. Jangan menyakiti hatiku seperti ini" ucap Kezia menerangkan.
Enggar sedikit membuang egonya karena melihat Kezia yang memasang raut wajah sedih seperti itu.
"Maafkan aku Cia" ucap Engggar meminta maaf.
"Ok. Semuanya sudah beres. Kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik. Harus mewah kita buat pesta ini nanti agar semua orang kagum kepada kita" ucap mama Enggar bangga.
"Benar ma" ucap Papa Enggar.
Keluarga Kezia sudah berlalu meninggalkan rumah Enggar.
__ADS_1
"Kamu jangan bersikap seperti itu. Bersikap baiklah kepadanya. Kamu juga nanti bakalan jadi suaminya" ucap Mama Enggar.
Enggar yang belum bisa menerima kenyataan itu hanya bisa terdiam kecewa.
"Halo pak Chong. Bagaimana keadaan Sita?" tanya Enggar menelpon Pak Chong.
"Ya sama seperti hari-hari setelah kamu meninggalkannya. Ia masih terpukul sekali. Semalam juga Sita tak masuk kantor. Sepertinya ia sedang sakit. Karena ia selalu meminta pak Jufri untuk mengantar makanan dan membeli beberapa obat ke apartemen nya" ucap Pak Chong prihatin.
Enggar terdiam lesu. Tubuhnya seketika mati rasa. Rasanya ia tak bisa melangkah, dirinya tak berdaya ketika membayangkan Sita harus melakukan apapun dengan sendiri dalam keadaan sakit seperti itu.
"Di apartemen dia gak ada kawan ya pak?" tanya Enggar dengan maksud menanyakan Uli sahabat Sita.
"Sita tak memperbolehkan Uli untuk datang ke apartemen nya. Uli bilang, Sita ingin sendiri, tak mau diganggu siapapun. Saya juga tahu ini dari asisten nya, Mila".
Pikiran Enggar semakin kacau ketika tahu kalau Sita sendiri di apartemen dalam keadaan seperti itu.
" Baik deh Pak. Makasih ya Pak".
Enggar semakin tak bisa menguasai emosi nya dan turun menuju ruang tamu dan hendak menemui mama nya.
"Bersikap sopan lah" sahut mama nya yang terus memainkan handphone nya.
"Aku akan berangkat menemui Sita. Aku akan bawa dia kesini".
"Jangan gila ya kamu Enggar. Pernikahan kamu sudah dekat. Kamu kira main-main pernikahan kamu Sabtu depan?" ucap mama nya meletakkan handphone nya.
"Kamu jangan membuat mama menjadi manusia paling jahat ya Enggar".
"Mama memang jahat. Mama tak memikirkan perasaan Enggar. Mama selalu memikirkan kepentingan mama dan papa" ucap Enggar ketus.
"Oh begitu. Kamu berangkat pendidikan dan menjadi seorang abdi negara yang tak punya uang seperti sekarang, emang mama dan papa menghalangi kamu? Bukannya kamu tetap pergi? Kamu tak sedikitpun mendengarkan perkataan mama dan papa. Itu yang dikatakan tidak menjaga perasaan?" ucap mamanya menunjuk-nunjuk dengan jari kearah Enggar.
"Kamu anak satu-satu mama dan papa. Tapi sulit sekali untuk diatur. Kamu dan Sita itu tidak cocok. Kita itu berbeda kasta. Mama dan papa itu orang hebat, keluarga kita orang terpandang Tidak ada keturunan kita yang miskin. Dia itu hanya menginginkan harta kita nak. Lihat, kamu anak semata wayang kami. Semua ini milik kamu. Kamu harus paham itu" ucap mamanya seraya menunjukkan kekayaan rumah mereka.
"Ma, kenapa harta yang terus mama pikirkan. Kenapa tidak memikirkan kebahagian Enggar sedikitpun?"
__ADS_1
"Kebahagiaan apa? Ingat Enggar, cinta bukan segalanya. Kamu cinta tapi miskin, mau bagaimana kedepannya? Anak dan istri mu mau dikasih makan apa? Jangan permalukan mama dan papa deh" ucap mama nya meninggalkan ruangan itu.
Enggar terus mengejar nya.
"Ma, plisss. Tolonglah. Enggar pengen sekali bertemu dengan Sita untuk yang terakhir kalinya. Enggar ingin meluruskan semuanya".
"Meluruskan apa sih" tanya mama nya kejam.
"Enggar ingin menyelesaikan hubungan kami dengan baik-baik karena aku juga memulai hubungan itu dengan baik-baik. Aku belum mengucapkan apapun kepadanya. Saat ini ia sedang sakit ma. Ia terus memikirkan aku. Tolong ma" Enggar memohon sampai berlutut.
"Kamu tahu tidak, pamali loh kalau calon pengantin bepergian jauh kalau sudah mendekati hari pernikahan nya apalagi akan bertemu dengan wanita gembel itu. Takut terjadi apa-apa sama kamu Enggar. Jangan buat masalah terus deh. Manatau wanita itu nanti akan memelet kamu disana. Pusing tuh papa kamu ngelihat kamu" ucap mama nya.
"Enggar akan jaga diri mama. Enggar hanya ingin menyelesaikan hubungan kami ini dengan baik-baik. Tolong lah ma. Sekali ini saja"
"Kan bisa melalui telpon" ujar mama nya sinis.
"Ma, Sita sedang sakit. Enggar mohon sekali ma" ucap Enggar berlutut di kami mama nya dengan mata berkaca-kaca.
"Halo pak Ardi. Pesan tiket untuk Enggar besok ke KNO" ucap mama menelpon salah satu asisten nya.
"Terimakasih ma" Enggar memeluk mama nya.
"Ingat..... Kamu harus kembali besok nya. Kalau kamu tidak kembali, ingat perjanjian kita sebelumnya. Sita akan menderita" ucap mamanya mengancam.
"Baik ma" ucapnya kegirangan.
Enggar dengan wajah bahagia mulai mempacking bajunya.
"Yessss. Sebentar lagi aku akan ketemu kamu sayang".
*******Flashback*******
Enggar memohon kepada mama nya agar bisa kembali ke Medan menemui Sita bukan karena ingin sekali meminta izin tetapi orangtua Enggar termasuk orang hebat yang memiliki kekuasaan besar dalam mengendalikan setiap perusahaan-perusahaan yang ada disana termasuk dalam hal penerbangan. Karena Orangtuanya juga termasuk salah satu pemilik saham dari salah satu maskapai nasional PT Ga**** Indonesia. Ia kurang lebih dapat mengendalikan semuanya termasuk penerbangan Enggar apabila ia pergi tanpa ada izin dari mama atau papanya.
Hal itu yang membuat Enggar untuk meminta izin kepada mamanya.
__ADS_1