
Sudah dua Minggu aku menemani Sita di apartemen nya bahkan aku bekerja dari apartemen dia.
Aku yang tahu betapa terpukulnya Sita dengan keadaan itu. Semua rencana yang ia dan Enggar sudah persiapkan untuk pernikahan harus diundur sampai mereka mendapat restu dari orangtua Enggar.
Setiap malam Sita menangis. Ia terus menguatkan dirinya dengan mulai menyibukkan diri dengan mendengarkan musik klasik, menghabiskan waktu dengan membaca bahkan ia sering olahraga berlebihan.
Ia selalu jogging dengan putaran lari yang sudah melebihi kekuatannya. Sampai terkadang ia lelah sekali dan harus kubantu untuk masuk ke dalam mobil.
Sama halnya ketika ia ditinggalkan oleh El, Sita kembali mengitari taman yang dulu pernah ia datangi untuk berolahraga.
Satu putaran, dua putaran, tiga putaran Sita masih kuat untuk berlari tetapi di putaran keeempat ia tiba-tiba berhenti dan menangis.
"Haruskah aku yang menanggung rasa sakit ini?
Aku sudah lelah Nggar. Aku udah capek banget. Aku mau nyerah" ucap Sita menangis tetapi sambil berlari lambat sekali.
__ADS_1
"Aku harus kuat. Aku harus bisa. Ini hanya masalah kecil. Aku dan Enggar pasti bisa hadapi. Aku gak boleh cengeng" ucapnya kembali sambil berlari jauh.
Aku menangis melihat Sita yang begitu hancurnya merasakan sakitnya hubungan mereka ini. Aku tak pernah tega kalau melihat Sita menangis senggugukan setiap saat. Ia benar-benar lemah sekali kalau dalam percintaan.
Ketika malam telah larut, Sita selalu berdoa dan menangis dalam seruan doanya yang terkadang membuatku terbangun dan juga ikut menangis.
"Ya Tuhan, kalau memang Enggar bukan jodohku, Tolong beri aku hati yang luas untuk menerima ini, beri aku hati yang ikhlas, berikan aku kekuatan untuk bisa bangkit.
Jika memang Tuhan akan mempersatukan kami, berikan petunjuk mu kepada kami" Doa Sita setiap malam.
Ia terus berlari sampai suara tangisnya sudah tak terdengar lagi.
"Sekali lagi aku gak mau bawa kamu jogging disini. Kamu nangis terus. Malas ihhh" ucapku yang berusaha bercanda dengannya.
Sita mengenggam tanganku dengan erat seraya memberi maksud kalau ia ingin berbicara lebih panjang.
__ADS_1
"Li.....Andai waktu dapat diputar, aku tak ingin menaruh hati kepada Enggar. Jangankan menaruh hati, aku tak ingin berjumpa dengannya di tempat ini waktu itu.
Aku selalu menyesalkan pertemuan ini. Aku yang terlalu bodoh karena langsung menerimanya di kehidupanku. Aku terlalu mudah sekali jatuh cinta, yang ternyata aku sendiri tahu cintaku pasti selalu dipatahkan, cintaku itu rapuh " ucap Sita dengan mata berkaca-kaca.
"Setiap aku berjalan melangkah di taman ini seperti ada energi baru yang aku rasakan karena di tempat ini aku bertemu dengan Enggar. Di tempat ini juga aku membuang rasa cinta dan sesal ku kepada El dan di tempat ini pula aku kembali unt....ukkk"
"Untuk apa? Untuk membuang rasa cintamu ke Enggar?" ucap Uli memotong pernyataan Sita.
"Enggar sedang berjuang untuk cinta kalian. Sabarlah Sit. Beri dia kesempatan untuk memperjuangkan nya. Enggar mencintaimu. Percaya deh. Ia pasti menjemput mu" ucap Uli.
"Bagaimana kalau ia tidak menjemput ku? Bagaimana kalau ia memilih orangtuanya? Sewajarnya ia pasti memilih orangtuanya Li' ucap Sita.
"Makanya kamu harus kuat dulu. Gimana mau diperjuangkan coba. Kamu aja lemah begini. Cengeng terus" ucap Uli mengejek Sita.
"Terimakasih Li,,, Terimakasih karena selalu ada dalam hidupku. Bantu aku untuk berjuang. Bantu aku untuk kuat" ucap Sita meyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Aku dan Enggar pasti bisa" ucapnya berlari tertawa tipis dan Uli megejarnya.