Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Sita berhasil


__ADS_3

"Kenapa rambut ibu acak-acakan begitu" tanya Murni yang lewat dari lorong ruangan.


"Aku tadi sedang bermain dengan pak Radit. Nikmat sekali" ucap Aurora meninggalkannya tersenyum sinis.


"Dasar wanita gila" ucap Murni.


"Akhirnya kami tergoda dengan ku Radit. Setelah sekian lama aku menggoda mu dengan kedua gundukan andalanku ini" ucapnya sambil memperhatikan kalau bantalan silikon bra nya yang sebelah kiri tidak ada.


Bantalan silikon bra itu fungsinya agar buah da*a kita terlihat besar dan naik keatas, tidak kendur.


"Kayaknya tertinggal deh di sofa itu. Biarin deh. Biar Radit terus merasakan aroma tubuhku".


Tokkkk....tokkkk....


"Masuk"


Sita masuk kedalam ruangan Radit.


"Kenapa?" ucap Radit.


"Saya hanya ingin memberikan program kerja saya saja" Sita mencari-cari lembaran program miliknya.


Karena Sita kewalahan untuk mencari kertas itu, ia pergi duduk ke sofa dan meletakkan tumpukan kertas miliknya di atas meja.


Betapa kaget nya ia, ketika melihat ada bantalan bra di atas sofa itu.


"Ini apa Dit?" Bantalan bra?" tanya Sita heran.


"Aku gak tau lah itu apaan. Aku gatau itu punya siapa" jawab Radit dengan gugup dan sedikit malu.

__ADS_1


"Pasti kamu berbuat aneh-aneh kan dengan wanita di ruangan ini. Ihhhh. Kurang tempat ya untuk berbuat begitu" ucap Sita mempermalukan Radit.


"Ini program kerja saya. Kantor ini tempat semua kita mencari nafkah. Jangan berbuat kotor seperti itu di kantor. Tuhh banyak hotel" ucap Sita mengomel dan meninggalkan kertas itu diatas mejanya.


"Sialllllll... Gara-gara bantalan bra Aurora nih. Buat malu saja" Radit kesal dan membuang bantalan bra itu di tong sampah.


"Ohhh shtttttt. Bagaimana mungkin aku membuangnya disini. Orang-orang akan kembali berpikiran aneh kepadaku" ucapnya kembali mengambil bantal bra itu dan memasukkan ke dalam tasnya.


"Tau gak sih Bu, tadi rambut Bu Aurora berantakan banget pasca keluar dari ruangan pak Radit" ucap Murni tertawa lucu seolah memberi kode kalau mereka pasti berbuat sesuatu di dalam ruangan Radit.


"Ohh pantasan"jawab Sita membalas Murni.


"Pantasan kenapa Bu?"


"Oh gak. Maksudnya pantasan tadi ruangan tengah kosong. Ternyata dia sedang berdiskusi di dalam ruangan Radit" ucap Sita gugup.


"Ibu yakin mereka diskusi? Rambut Bu Aurora berantakan loh. Sepertinya mereka telah berbuat ....."


Sita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam ruangan itu.


"Bagaimana mungkin lelaki cuek, arogan sepertinya mau berbuat seperti itu? Emang dia punya ***** juga ya selain marah dan jutek begitu" pertanyaan itu terus menghantui pikiran Sita.


Sore itu Sita mengawasi pabrik produksi yang tidak jauh dari kantor itu.


"Halo. Selamat siang semua" ucap Sita menyapa karyawan disana.


"Halo Bu. Selamat siang" ucap karyawan-karyawan membalas sapaan Sita.


"Pak Gandi kemana ya? Saya belum melihatnya"

__ADS_1


"Oh Pak Gandi ada di atas Bak Silo Bu"


(Bak Silo merupakan tempat akhir penampungan CPO).


"Oh begitu ya. Yasudahlah. Nanti saja saya berbicara dengan beliau" ucap Sita mulai berjalan-jalan.


"Apa kendala pak selama bekerja disini?" tanya Sita berhati-hati untuk membongkar semua lika liku perusahaan itu.


"Begitulah Bu. Pabrik ini sudah tua dan kapasitas untuk mengolah juga sudah kecil. Padahal bahan baku yang ingin diolah semakin banyak" jawab seorang karyawan.


"Selain itu, ada tidak masalah di pabrik ini?"


"Banyak Bu, tapi ya tetap saja tidak da solusi yang bisa kami terima"


Salah satu karyawan itu memberi tahu semua masalah yang telah terjadi di perusahaan itu yang membuat tidak pernah maju.


CPO yang dihasilkan dari pabrik itu selalu dimainkan atau di olah penjualannya oleh orang-orang besar di perusahaan itu termasuk Radit.


Gaji karyawan disana juga minim sekali sehingga membuat para pekerja selalu melakukan kecurangan dalam bekerja dan masih banyak lagi informasi penting yang telah Sita terima dari setiap keluhan karyawan.


Tanpa berpikir panjang, Sita meminta bantuan Gandi untuk melakukan tindakan sanksi tegas bagi setiap karyawan yang melakukan kecurangan.


Kedua, Sita akan menaikkan gaji karyawan pabrik dengan catatan produksi CPO harus terjadi peningkatan karena Sita juga akan langsung mengawasi jumlah Sawit yang akan masuk dan diolah pabrik di hari itu. Jadi tidak ada kesempatan bagi pihak manapun untuk melakukan aksi korupsi nya.


Sita juga meminta bantuan kepada beberapa karyawan yang Gandi percaya untuk mengawasi karyawan lainnya yang akan bertindak curang.


Secara perlahan, Sita mengubah kebijakan-kebijakan yang ada di perusahaan itu tanpa mengabaikan kepentingan perusahaan.


Perusahaan mulai menjalin kerjasama dengan perusahaan wilayah timur. Perusahaan Palm ini terus berkembang dan semakin memperlihatkan eksistensi mereka dalam memajukan perusahaan ini.

__ADS_1


Hal itu membuat Aurora merasa terganggu dan tidak terima dengan semua kebijaksanaan yang telah Sita kerjakan. Ia sudah kalah melawan Sita. Semua rencana Aurora yang sedari lama ia susun, telah dihancurkan oleh Sita.


"Sialllll. Dasar wanita sombong" ucap Aurora marah.


__ADS_2