
Anya berinisiatif untuk memesan kamar hotel agar ia bisa mengantarkan Enggar kesana.
Brapppppp.......
Anya menjatuhkan Enggar di atas tempat tidur hotel itu.
"Aissssshh. Berat banget sih ini anak" ucap nya terengah-engah karena memapang Enggar mulai dari bawah.
"Untung aja kamu ganteng. Kalau gak, udah aku ceburin tuh kamu ke sungai Cinderas".
"Udah tau gak kuat minum, tapi sok-sokan minum banyak. Dasar laki-laki lemah" ucap Anya memperhatikan wajah Enggar.
Enggar menarik tubuh Anya sampai posisi Anya berada diatas dada Enggar yang sudah terpangpang luas.
"Kamu harus tidur bersama ku malam ini" ucap Enggar yang sudah setengah sadar tapi tak menyadari siapa wanita itu.
"Bayar berapa dulu dong?" tanya Anya penasaran.
"Aku bayar kamu semana kamu mau" ucap Enggar yang sudah membuka bra Anya perlahan.
Anya mulai bringas melakukan aksi nya kepada tubuh Enggar.
Sama halnya dengan Enggar. Ia mulai memainkan dua gundukan gunung Anya dengan kedua tangannya.
Ia menciumi dua gundukan gunung seksi itu dengan ganas sekali sampai Anya kesakitan.
"Ihhhhh. Jangan sampai begini dong. Sakit tahu" ucap Anya yang juga ikut mulai memainkan pedang yang tajam itu.
Anya dan Enggar menikmati malam yang indah itu dengan kehangatan tubuh mereka yang sudah menyatu.
Hampir satu jam mereka melakukan hubungan itu tanpa istirahat sedikitpun.
"Kamu kuat sekali sayang. Aku semakin menyayangimu. Sebentar lagi aku akan menikahimu. Aku akan lebih sering mencicipi buah dada mu yang begitu halus ini. Empuk sekali ketika kukecup"ucap Enggar yang langsung kembali meraba dua gundukan itu.
"Kamu ini ya?" ucap Anya yang tiba-tiba juga mendorong Enggar.
"Aku bukan Sita. Aku Anya. Goblok banget sih. Tampan tapi pelupa" ucap Anya kesal.
Pagi itu, Enggar bangun lebih awal dari Anya.
"Astagaaaaa" ucap Enggar heran membuka selimutnya. Kenapa celana aku terbuka dan bajuku ada dibawah lantai?
__ADS_1
"Yaaampunnn. Kamu siapa?" tanya Enggar melihat ada seorang wanita berada disamping nya.
Anya langsung membuka selimutnya dan memperlihatkan tubuhnya yang seksi dan hanya menggunakan ****** ***** tanpa menggunakan bra.
Sontak mata Enggar melotot kepada dua gundukan milik Anya. Ia menahan dirinya untuk tidak tergoda memegang gundukan itu.
"Bodoh nya kamu" ucap Enggar menutup matanya dengan kedua tangannya.
Enggar berlari menutup matanya menuju jendela kamar hotel itu.
"Astaggaaaaa. Wanita apa kamu ini. Pakai baju kamu. Kamu pikir aku tertarik? Kamu pikir aku lelaki gampangan?" ucap Enggar yang mulai merapikan dirinya dan mengancing resleting celananya.
"Yakin kamu gak tertarik? Semalam sepertinya kamu ganas banget ihh mengecupiii gundukan dadaku" ucap Anya memeluk Enggar dari belakang dengan keadaan telanjang tanpa bra.
"Mau kita coba lagi" ucap Anya dengan ajakan seksi nya ke telinga Ennggar.
Enggar mulai tak tahan dengan ajakan wanita itu.
Ia membaringkan wanita itu kembali dan.....
"Ahhh Siallllll" ucap Enggar yang tak jadi mencium wanita itu.
Anya mulai mandi dan merapikan dirinya, begitu juga dengan Enggar yang hanya mencuci wajahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Anya mengambil rokoknya.
"Kamu wanita. Jangan merokok" ucap Enggar menarik rokok itu dari tangan Anya.
"Udahlah. Santai aja. Aku udah biasa" ucap Anya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa? Mengapa nama Sita yang kamu lontarkan ketika semalam kita bercinta diatas ranjang. Aku sudah merasakan kehangatan itu dari kamu malah kamu rusak dengan nama itu" ucap Anya meniup rokoknya.
"Aku tak pernah bermain cinta denganmu. Kamu sudah gila" ucap Enggar kesal.
"Begitulah lelaki. Habis manis sepah dibuang. Apa mungkin hal ini yang kamu lakukan juga kepada Sita, wanita yang kamu sebut itu?" tanya Anya.
"Jaga mulutmu. Aku tak pernah berbuat begini kepadanya. Aku mencintainya" ucap Enggar kembali marah.
"Namaku Anya. Biar tidak terlalu kaku sekali" ucap Anya menyodorkan tangannya.
"Aku Arif" ucap Enggar berbohong karena ia tak ingin citra dia sebagai tentara buruk.
__ADS_1
"Kalau kamu memang gak kuat minum, jangan minum. Ganteng-ganteng kok lemah" ucap Anya meledek.
"Hmmmmm. Terserah" ucap Enggar.
Mereka mulai bercerita satu dengan yang lain.
Enggar bercerita tentang kisah percintaan nya dengan Sita yang sedang berada di ujung datanduk.
"Yasudahlah. Aku yang salah. Aku memang pecundang?" ucap Enggar.
Enggar meletakkan sejumlah uang diatas meja dan meninggalkan hotel itu.
"Diatas meja ada uang. Ambillah. Terimakasih untuk malam ini telah membantuku" ucap Enggar meninggalkan Anya yang saat itu sedang merokok.
Enggar meninggalkan hotel itu dengan mengendap-endap. Ia takut seseorang mengenalinya dan melaporkannya kepada orangtuanya dan juga karena ia seorang abdi negara yang seharusnya bisa menjadi contoh bagi masyarakat.
"Halo pak Chong" sapa Enggar menelepon pak Chong.
"Halo Nggar" jawab nya singkat.
"Bagaimana dengan Sita disana pak" tanya Enggar memberhentikan mobilnya di trotoar.
"Seperti yang kamu kenal Nggar. Ia terus menangis dan seperti manusia yang jiwanya kosong" ucap Pak Chong prihatin.
"Pak, mohon sekali untuk terus membantu dia. Tolong ingatkan dia untuk makan. Ia sering lupa dengan kesehatannya. Ia selalu memikirkan orang lain. Aku mencintainya pak" ucap Enggar sedih.
"Kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu akan datang menemui dan menjemput nya. Ia sudah seperti orang yang tak berpengharapan. Ia selalu diam dan tak lagi sesempurna dulu aku bertemu dengan nya pertama kali. Aku sedih sekali melihat Sita begitu" ucap pak Chong.
"Pak, Aku juga tak menginginkan ini terjadi. Aku juga ingin memperjuangkan Sita. Tapi aku gak bisa pak" ucap Enggar memukul setir mobilnya.
"Pikirkan lah kembali. Kamu sudah dewasa. Kamu seorang abdi negara. Mengambil keputusan pasti sudah kamu pertimbangkan dengan baik. Ikuti kata hatimu kalau kamu memang mencintainya" ucap pak Chong.
Enggar kembali ke rumahnya dan mendapati keluarga Kezia, tak lain nantulang dan tulang nya sudah ada disana.
Ia tak menggubris dan menyapa keluarga itu.
Ia langsung berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
"Enggar, sini. Salam dulu tulang dan nantulangmu" ucap Mamanya lembut.
"Aku mandi dulu" ucap Enggar.
__ADS_1