Cintaku Rapuh

Cintaku Rapuh
Melamar Sita?


__ADS_3

Kami naik ke lantai dua menjumpai mama


"Ma.............ucapku manja dan langsung memeluknya".


"Kenapa sayang, tanya mama sambil menatap Enggar dengan penuh tanda tanya".


"Ma, Enggar membelikan ku kebaya ini, ucapku sambil memperlihatkan kebaya biru muda itu".


"Oh, karena ini kamu bahagia, ucap mama dengan wajah tersenyum".


"Bukan karna kebaya biru ini sih ma, tapi lebih tepatnya Sita bahagia karena maksud Enggar memberikan kebaya ini, jawabku bangga".


"Ha? Enggar melamarmu?, sambil menatap tajam Enggar".


"Bukan nantulang, jawab Enggar terbata-bata karena takut mama marah".


"Bukan loh ma, Enggar memberikan ini bukan untuk melamarku. Lagian siapa juga yang mau nikah. Aku harus selesain kuliah ku dulu dong begitu juga dengan Enggar, jawabku sambil menggenggam tangan mama untuk meyakinkan nya".


"Iya nantulang, bukan untuk melamar anak gadis nantulang yang cerewet ini. Enggar mau hubungan kami ini nanti bisa lanjut sampai ke jenjang pernikahan. Sekalian juga nantulang, biar Sita gak di dekati cowok-cowok lagi di taman, jawab Enggar tersenyum lebar".


"Ihhh apa sihh.. Kamu kali yang gangguin aku di taman waktu itu, jawabku menatapnya tajam".


"Hahahaha. Kalau gak gitu, gak bisa dong kita jumpa sampai sekarang, jawab Enggar".

__ADS_1


"Yaudah, apapun keputusan kalian, komitmen, rencana kalian harus tetap saling mendukung, saling percaya dan yang penting komunikasi selalu, jawab mama sambil memegang tangan aku dan Enggar".


Aku memeluk mama dengan erat.


"Yaudah deh, kami bayar dulu ya nak kebaya nya, ucap mama kepada Enggar".


"Iya nantulang, aku tunggu di sini saja, jawab Enggar".


Aku berjalan menuju kasir sambil sesekali berbalik menatap Enggar dengan wajah tersenyum merengah begitu pula sebaliknya dengan Enggar. Sesekali ia melayangkan pandangannya kepadaku dan melambaikan tangannya.


Setelah hampir 15 menit kami mengantri dan membayar belanjaan kebaya kami, Enggar datang meraih plastik yang di pegang oleh Mama dan membawakannya ke dalam mobil.


"Ini ini ini lagi sayang, jawabku dengan tertawa sambil menyerahkan plastik".


"Gak gakk, becanda kok sayang. Hehehehe, jawabku sambil melirik mama yang saat itu sudah menatapku tajam".


"Isss mamaaaa, kan Sita cuman becanda, jawabku manja".


"Nak Enggar kan udah capek, berat loh itu belanjaan yang mama pegang, Sita mau nambahin lagi, ucap mama".


"Enggar kan udah terbiasa membawa yang berat-berat selama pelatihan dulu, tanyaku sambil melihat tubuh Enggar yang saat itu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil".


Tubuh Enggar kekar banget ya. Tinggi, berotot, putih.Duhhhh duhhh senang nya aku memilikimu, pikirku.

__ADS_1


Mama sudah masuk terlebih dahulu karena cuaca sangat panas dan hari itu sudah hampir jam 12 siang.


"Ayo sayang masuk, ajak Enggar sambil menatapku".


"Ayo, makasih ya lelaki seksi, ucapku tanpa sadar".


"Ha lelaki seksi? tanya Enggar".


"Astagaaaa, lupakan.. Aku...akuuu..ini..apa ya namanya...anu....itu...., jawabku gugup sambil memainkan jari telunjukku diatas kepala".


"Kenapa sih sayang, tanya Enggar sambil tersenyum lebar".


"Ihhh udah yokk masuk, panas banget yang, jawabku untuk mengalihkan pembicaraan".


"Kita makan siang dulu ya, ucap mama kepada kami".


"Siap nantulang, jawab Enggar".


Sebelum kami melanjutkan perjalanan kami untuk membeli beberapa perlengkapan lainnya, kami makan siang terlebih dahulu di salah satu Rumah Makan Favorit dia bersama dengan teman"nya selama 2 bulan terakhir ini.


Benar saja, Enggar nambah 1 porsi lagi.


Memang enak sih.

__ADS_1


Kami menyantap makan siang hari itu sambil membicarakan perjalanan kami selanjutnya.


__ADS_2