
Aku dan Uli bercanda gurau sambil menunggu Enggar datang malam itu.
"Kamu udah dicium berapa kali sama tuh sama Enggar? Secara kan kamu orang nya susah banget diajak begituan" ucap Uli meledekku.
"Ihhh apaan sih Li? Dia belum pernah mencium bibirku loh" ucapku tegang.
"Lah, kenapa jadi marah? Kan aku cuman nanya. Lagian kalau bibir belum, berarti yang lain udah dong" jawab Uli kembali mengejekku.
"Ya ampunnn Uli. Kamu ini gak berubah ya. Selalu aja berpikiran begitu. Dia hanya sekali mencium kening ku. Itupun aku lupa entah kenapa kemarin ia mencium kening ku" ucapku menjelaskannya.
"Gitu sih memang, kalau udah melakukan langsung lupa" ucap Uli yang juga kembali meledekku sambil tertawa.
"Melakukan apa Uli?" tanyaku sambil menarik bajunya dari belakang karena tubuh Uli membelakangi ku.
"Ya itu tuhhh.." ucap Uli sambil tertawa.
"Gila ihhh kamu Li" jawab ku sambil berdiri keluar dari kamar.
"Bercanda oiiii" ujar Uli teriak dari dalam kamar.
"Iyooo" jawabku sambil memakan buah anggur.
Aku duduk di kursi ruang tengah sembari menunggu Enggar datang.
Tiba-tiba Uli berteriak dan mendekat ke arahku.
"Sitttttttttttt" teriak Uli.
"Apa sihh Li" tanya ku heran.
"Ternyata David udah nikah" ucap Uli sambil merengek.
"Masa sih?"tanya ku heran.
"iya Sit"ucapnya sambil menunjukkan foto pernikahan David dengan seorang wanita.
"uhhhhh....uhhhhh....uhhhhhhh...uhhhhh" tangis Uli semakin kuat ketika aku memeluknya.
"Udah ihhh jangan nangis" ucapku menenangkan Uli. Kalian kan udah putus.Ngapain mikirin dia lagi" ucapku kembali sambil mengelus rambutnya.
"Sitaa..uhhhhh...uhhhhh.uhhhh. Aku belum bisa move on dari dia. Dia orang yang paling aku sayang. ughhh.uhhhhh" ucap Uli menangi.
"Yaudahlah ikhlasin aja. Kan toh juga dia udah bahagia sama orang lain. Kalian tidak berjodoh. Lagian ngapain mau dengannya. Mulut mama nya aja pedas kayak cabai rawit" ujarku menenangkan.
"Kemarin memang dia mengundangku melalui chat. Tapi aku pikir itu hanya candaan dia aja. Karena ya biasa juga dia bercanda begitu..uhhhh.uhhhh..uuhhhh" ucap Uli sambil menangis. Aku sayang banget sama dia Sittt... Uhhhhh.... uhhhhh...
Sita....Sit....
Tokkk...Tokkkk
"Iya sebentar" ucapku sambil melepas Uli dari pelukan ku karena ia menangis.
__ADS_1
"Lagi ngapain sayang, kok kek riuh gitu suara dari dalam" tanya Enggar memperhatikan ruang tengah.
"Iya itu Uli lagi nangis" jawabku.
"Nangis kenapa" tanya Enggar.
"Panjang deh ceritanya" jawabku tersenyum sambil mengajak Enggar duduk di teras rumah.
"Sebentar ya, aku masuk dulu" ucapku.
"Gimana, mau aku kenalin gak ke Enggar" tanya ku kepada Uli sambil menghapus air matanya.
"Iya, nanti aku nyusul. Aku mau cuci muka dulu" jawab Uli.
"Yaudah. Aku tunggu ya didepan" ucapku meninggalkan Uli dan kembali ke teras.
"Udah makan malam yang?" tanya Enggar sambil menyerahkan martabak manis.
"Sudah tadi bersama Uli" jawabku sambil membuka martabak nya.
"Oh iyalah. Aku capek banget loh yang" ucap Enggar melendetkan tubuhnya ke pangkuan ku.
"Pijitin napa sayang" bujuk Enggar meraih tangan ku untuk memijit bahunya.
Jantungku berdegup kencang.. Entah mengapa selalu seperti ini. Perasaanku tak karuan.
"Sayang aku capekk banget ya..." ucapku memanjakannya dengan pijatan lembut.
"Iya yanggggg" ucapnya manja.
Enggar tiba-tiba terbangun dari pangkuan ku.
"Hai" ucap Enggar menyapa.
"Kenalin sayang, ini Uli. Dia sahabat aku dari SMA" ucapku memandang mereka berdua.
Uli....
Enggar....
"Oh jadi ini lelaki seksi yang kamu ceritakan tadi?" ucap Uli melirikku sambil tersenyum.
"Ihhh Uli. Kenapa harus diumbar lagi sih" jawabku mencubit tangannya.
"Kamu ini ya sayang, lelaki seksi terus yang diceritain. Aku punya nama loh" Ucap Enggar tersenyum kepadaku.
"Gak loh sayang, aku tadi cerita bagaimana pertemuan kita pertama kali. Gitu loh" jawabku.
"Jadi gimana Uli? Sita bilang apa aja ke kamu" tanya Enggar yang tiba-tiba kompak saja dengan Uli.
"Banyak banget.... Katanya kamu lelaki yang bisa membuatnya mati tak berdaya. Apalagi ketika kamu.....itu tuhhh...." ucap Uli meledekku sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Ihhhh astaga Ulii...." ucapku sambil menutup mulutnya.
Enggar tertawa mendengar penjelasan Uli sedari tadi bercerita dengannya.
Malam itu kami habiskan dengan canda tawa bersama pacarku Enggar dan sahabatku Uli.
*********Flashback*********
David adalah kekasih Uli ketika duduk di bangku SMA sampai kuliah semester 3
Orangtua David tidak menyetujui hubungan mereka karena Uli hanyalah anak seorang percetakan fotokopi kecil dan ibu Uli seorang pedagang kaki lima waktu itu. Orangtua David melarang Uli untuk berpacaran dengan anaknya.
Untuk pertama kalinya, David membawa Uli untuk bertemu Mama nya selama mereka berpacaran. David berpikir, ketika mamanya melihat Uli, mama nya akan berubah pikiran.
Mama David memperhatikan tubuh Uli dari atas sampai ke bawah. Bahkan sampai ke bagian kuku Uli, mama David memperhatikannya.
"Memang benar perkiraan ku, wanita ini tak pantas menjadi pendamping David suatu saat nanti. Pakaiannya saja tak layak dibawa bertemu keluarga besar. Wajah nya saja kusam. Kuku nya saja tak dirawat. Bagaimana mungkin dia berani mencoba masuk ke dalam keluargaku. Oh tidak... Ini akan mencoreng nama baik keluarga Tambunan" pikir mama David dalam hatinya.
Saat itu David pergi keluar untuk membeli makanan.
Ketika David pergi, disitulah mama nya berbincang-bincang dengan Uli sampai akhirnya mama David memarahi Uli.
"Jadi kamu yang selama ini dipacarin sama David" tanya mama nya sinis.
"Iya Tante" jawab Uli lembut.
Sontak suara Mama David kuat dan membentak ku.
"Seharusnya kamu sadar siapa kamu. Kamu tak pantas berpacaran dengan anak ku" ucap mama David kepada Uli.
"Apa tidak ada ruang ya bagi saya untuk mencintai anak Tante? Apa yang membuat saya tak pantas berpacaran dengan anak Tante" tanya Uli menangis.
"Kamu masih bertanya kenapa kamu tak pantas dengan anakku? Kamu seharusnya ngaca. Kamu siapa, anak aku siapa. Kami keluarga terpandang. Keluarga David orang berada. Kamu hanya anak tukang fotokopi dan pedagang kaki lima ingin masuk ke keluarga saya. Kamu mimpi ya?" ucap mama David sambil menarik dagu Uli lalu melepaskan nya.
Uli hanya bisa menangisss tersedu-sedu mendengarkan hinaan dari mama David.
"Aku tahu kamu mendekati anak saya, pacaran dengan anak saya karena harta kami kan? Dasar anak orang miskin. Pemikiran kampungan kamu!!! Tak kubiarkan kamu merusak citra keluarga kami" lontar mama nya memandangi ku dengan sinis.
"Kalau kamu sadar, segera angkat kaki dari rumah saya sebelum anak saya kembali" ucap mama nya menyuruhku keluar dari rumahnya.
Tanpa berpikir panjang, aku keluar dari rumah yang besar itu dan sempat mengucapkan sepatah dua kata kepada mama David.
"Baik Tante. Uli akan pergi dari sini sebelum David datang supaya David tidak mengetahui tindakan tante yang kurang ajar ini.
Terimakasih atas hinaannya. Aku salah. Aku yang mencintai David. Kalau David bertanya aku kemana, bilang saja aku sudah melukai Tante sampai akhirnya aku kabur dari sini" ucap Uli menangis sampai senggugukan.
Uli berlari keluar dan langsung mencari tukang ojek yang saat itu berada di sekitar rumah David.
Sepanjang jalan Uli menangis dan tak menghiraukan orang lain yang terus memperhatikannya.
Di atas sepeda motor itu, Uli memblokir David dari semua akun media sosialnya dan berselang dari hari itu, Uli mengganti nomor teleponnya dan menitip pesan kepada keluarga nya, kalau David datang ke rumah nya, bilang saja Uli sudah tinggal bersama dengan pamannya yang letaknya lumayan jauh dari rumah mereka.
__ADS_1
Hampir 2 bulan David terus datang ke rumah Uli tapi Uli bersikeras tak mau menemui David.
Sudah hampir 2 tahun, Uli tak lagi berhubungan dengan David. Entah darimana David mengetahui nomor WhatsApp Uli sampai akhirnya Uli kembali ingin mencintainya. Tapi langkah nya terhenti ketika 4 hari setelah mereka chattingan, David memberitahukan kalau ia akan menikah dengan anak dari teman mamanya.