
Enggar terbangun dan merasa lelah sekali. Tubuhnya terasa ngilu seperti ditusuk oleh jarum-jarum.
"Ahhhhh. Kenapa badanku sakit sekali ya" ucap nya membuka selimut yang menggulung tubuhnya.
Enggar bingung karena ia tidak mengenakan baju.
"Sudah bangun sayang... Mandi dulu gih sana. Alkohol kamu bau banget loh yang" Sita menyiapkan makanan untuk Enggar.
"Terimakasih sayang. Tapi kenapa baju aku terbuka? Kamu telah memperkosa aku ya?" ucap Enggar memeluk Sita dengan manja.
"Ihhhh. Aku gak selera sama laki-laki mabuk" Sita kesal karena Enggar mabuk.
"Kalau aku gak mabuk begini, jadi kamu selera sayang. Yokkk....?" tanya Enggar merapatkan pelukan nya.
"Jangan ngada-ngada Nggar.. mandi sana".
"Oh gitu, manggil nama. Ulangi coba. Sejak kapan kamu mulai memanggil namaku" ucap Enggar sinis.
"Iya Enggar. mandi sana" Sita mengulangi nya sedikit tertawa.
"Oh begitu" Enggar menggelitiki perut Sita.
Oh begitu...oh begituuu
Sita mulai bermanja-manja kepada Enggar.
Sesekali Enggar mengecup bibir Sita seolah membuat Sita untuk tidak bertanya apapun kepadanya.
"Sayang.... Kamu datang kesini mau jemput aku kan?" tanya Sita.
Enggar mengalihkan pembicaraan nya.
__ADS_1
"Aku kayaknya makan dulu deh. Lapar banget ihh sayang" ucapnya membalas.
Sita yang juga merasa kalau dirinya juga harus makan, memaksa dirinya untuk menahan pertanyaan demi pertanyaan yang sudah memberontak di pikirannya.
"Sepertinya aku harus makan banyak deh. Aku udah lama gak makan masakan kamu. Masih enak gak ya" Enggar menyindir Sita dan melahap makanan yang sudah disediakan Sita.
"Enak dong. Lagian kan sebentar lagi kita akan menikah. Kenapa harus bersikap berlebihan seperti ini. Aku akan masak untuk kamu setiap hari. S.E.PUASNYAAAA. Termasuk untuk memenuhi hasrat kamu yang ganas itu" ucap Sita menggoda Enggar.
Enggar tersentak dan meminum setengguk teh okra buatan Sita.
Enggar bingung harus berkata apa.
"Aku mandi dulu ya sayang" ucap Enggar.
Di kamar mandi Enggar mulai bergelut dengan pikirannya yang sudah hampir mau pecah.
"Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan kepada Sita? Aku sudah membawanya terlalu jauh sampai sekarang" pikiran Enggar sudah sembrautan.
"Sayang ngapain? Lama banget sih. Perlu aku anterin selimut?" ucap Sita meledek Enggar yang sudah lama berada dalam kamar mandi.
Enggar keluar hanya dengan menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya dari pinggang sampai ke bawah.
Dadanya yang luas dengan petakan perutnya yang gagah membangkitkan gairah Sita untuk mendekat kepadanya.
Tumpukan rambut Enggar yang basah membuat ia semakin tampan.
"Sayanggggg...." Sita mendekat.
"Haaa. Jangan pancing aku. Aku bisa membuatmu bergairah seharian" ucap Enggar menahan pelukan Sita.
"Biarin" Sita terus bermanja.
__ADS_1
"Sayanggggg.. ihhh. kok kamu yang jadi kegatelan gini sama aku. Biasanya gak mau" Enggar mulai bingung.
Sita memeluk tubuh Enggar semakin erat membuat pelukan itu semakin hangat.
Enggar membaringkan Sita diatas ranjang yang luas itu.
Bola mata Sita sudah melotot seolah memberi kode agar Enggar mulai membuka permainan itu.
Ketika Enggar mencoba untuk membuka baju Sita, ia mencoba menahan dirinya.
Ia tak ingin menodai Sita karena kedatangannya kesini hanya untuk melepasnya.
"Shhhtttt.... aku tak ingin menodai mu" pikir Enggar.
Sita yang sedari tadi menutup mata tiba-tiba membuka matanya.
"Kamu ngapain nutup mata begitu?" ucap Enggar tertawa sambil memakai celananya.
"ihhhhhhh" Sita merengut malu melihat dirinya yang sudah berbaring seolah memberi isyarat agar Enggar memulai permainan itu.
Sita terus menatap Enggar dengan raut wajah tajam.
Enggar seolah menghiraukan sikap Sita yang ngambek.
"Jangan marah dong. Makanya jangan nafsuan" ucap Enggar meledeknya sambil mencium pipi Sita.
"Udah. Kamu jawab ihh pertanyaan aku dari semalam. Kamu kesini mau ngapain?"
Enggar mulai panik seolah amarah Sita sudah menumpuk.
"Nanti malam kita bicarakan. Aku akan menjemput mu jam 20.00 Wib nanti" ucap Enggar meninggalkan apartemen Sita.
__ADS_1
Sita yang mulai makin penasaran dan bingung dengan lika liku yang dibuat Engggar, membuat dirinya semakin antusias untuk bertemu malam itu.