
"Kenapa dengan kepalamu?" tanya Yuda saat Andreas sampai di apartemennya.
"Diam, Lo!" bentaknya, Andreas segera masuk ke kamar dan langsung membuka kaosnya. Dia segera menguyur kepalanya dengan air. Setengah jam kemudian dia bergabung bersama Yuda yang sedang bersantai di depan tv. "Minggir!" Andreas mengeser tubuh Yuda.
"Kenapa denganmu?" tanya Yuda.
"Gue lagi kesal." jawabnya.
"Ho-ho, apa yang membuat tuan Cassano semarah ini?" tanyanya.
"Aku baru saja dipermalukan bocah ingusan di depan umum." ucapnya.
"Dipermalukan? Gimana ceritanya?" tanya Yuda yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Akhir-akhir ini aku selalu bertemu anak ingusan yang selalu membuatku naik darah." jawabnya.
"Cewek atau cowok?" tanya Yuda.
"Cewek." jawabnya.
"Cantik gak?"
"BRUK." Andreas melemparkan bantal yang ada di belakangnya.
"Kenapa lo sewot? Gue cuma nanya cantik apa gak?" Yuda memeluk bantal tadi.
"Cantik tapi galak." Andreas harus akui Cleo memang cantik. Kulitnya yang putih bersih, hidungnya yang tinggi dan juga kalau dia tersenyum terdapat dua lesung di pipinya.
"Terus? Lo, naksir?" tanya Yuda.
"Gue? Naksir tuh bocah? Ya, nggaklah!" jawabnya.
"Yakin?" Yuda menggodanya.
"Yakin 100%! Gue gak akan pernah naksir sama anak ingusan sepertinya. Sudah galak, jutek, tengil lagi!" Yuda manggut-manggut.
"Tapi, hati-hati lo! Benci dan cinta itu kayak benang. Tipis banget." Yuda mengambil remote tv yang ada ditangannya. Dia kembali menganti chanel tv ke drama favoritenya.
"Lo, nonton apaan sih?" tanyanya saat melihat adegan sedih yang ada di tv.
"Ini drama bagus banget! Gue betah nontonnya." jawab Yuda tanpa mempedulikan kalau yang punya rumah protes.
"Sana lo dinas!" Andreas merebut kembali remote itu.
"Yah, lo apaan sih? Lagi seru itu." Yuda kesal karena Andreas menukarnya dengan siaran berita.
"Mending lo siap-siap, lebih penting nyawa pasien dari pada drama gak mutu begitu." ledek Andreas.
"Awas aja lo! Gue sumpahin lo punya pasangan yang maniak sama drama korea. Biar tahu rasa hidup lo!" Yuda segera berlari saat sebuah toples melayang ke arahnya.
πππ
"Yakin gak mau nginap?" tanya Cleo saat Sandra mengantarnya pulang.
"Gue pulang aja." jawabnya.
"Ntar yang ada kamu bete lagi. Terus nyamperin Nayla tengah malam buta." ujar Cleo.
"Itu tergantung situasi yang gue hadapi nanti." Sandra cengar-cengir.
"Jangan, lebih baik kamu pastiin lagi benar gaknya." Cleo memberinya saran.
"Emang lo gak sakit hati apa sama Nayla?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Gimana ya? Aku hanya kasihan melihatnya." jawabnya.
"Kasihan? Apa yang lo kasihani darinya?" mereka masih duduk di dalam mobil yang terparkir di teras rumah Cleo.
"Entahlah! Melihat kehidupannya membuat hatiku terenyuh." Cleo mengingat bagaimana sulitnya hidup Nayla.
"Lo jangan ngelihat luarnya aja. Gue yang lebih lama kenal dia. Jadi, gue tahu seperti apa aslinya dia. Gue yakin lo pasti juga udah tahu gimana sifat aslinya." Sandra menoleh padanya.
"Tapi, seenggaknya dia pernah jadi temanku. Jadi, anggap saja itu impas." ucap Cleo.
"Gue gak ngerti dengan jalan pikiran lo. Tapi, semoga saja ini kali terakhirnya dia buat masalah sama lo." Cleo mengangguk. "Udah, gue balik dulu." Cleo mengerti dan segera turun dari mobil Sandra.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku." pesan Cleo sebelum Sandra pergi.
"Ok." Sandra keluar dari rumah itu.
"Non, dari mana saja sih? Bibi khawatir banget." bi Ita datang menghampirinya.
"Abis jalan, Bi!" jawabnya.
"Jangan begitu lagi ya, Non. Kakinya kan belum sembuh benar." bi Ita mengingatkannya.
"Baik, Bi." Cleo masuk ke kamar.
πππ
"Kamu dari mana saja?" tanya Panji saat melihat Sandra baru pulang.
"Apa urusan papa?" tanyanya.
"Kamu benar-benar keterlaluan ya!" Panji berang.
"Papa yang keterlaluan! Atas izin siapa papa ingin membawa wanita itu ke rumah ini?" Sandra bersitegang dengan sang ayah.
"Mamaku hanya satu, dan aku gak butuh wanita penggoda itu untuk menjadi ibuku."
"PLAAKK!!" Sandra memegang pipinya yang terasa nyeri.
"Jaga ucapanmu! Suka atau tidak, kamu harus bisa menerima Aisyah sebagai ibumu." Panji memberinya peringatan.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menerimanya di rumah ini." Sandra berlari menuju kamarnya.
"Sandraaa! Sandraaa!!" teriak Panji.
"Mas, sudah!" Aisyah datang dan memegang lengannya.
"Dia itu sudah mulai kurang ajar." ucap Panji.
"Namanya juga anak muda, Mas. Nanti dia juga ngerti sendiri." Aisyah membelai lengan panji.
"Aku beruntung memilikimu disini." Panji memeluknya.
"Aku yang bersyukur bisa bertemu denganmu, Mas." ucap Aisyah didalam pelukkannya.
"Dasar murahan!" Sandra yang melihat semua itu semakin marah. Dia masuk ke kamar dan melempar apa saja yang ada di dekatnya.
πππ
"Pastikan dia tidak di terima di kampus manapun." ucap Adam pada orang kepercayaannya.
"Baik, Tuan." jawab Kai.
"Jangan sampai hal ini diketahui oleh putriku. Aku hanya ingin menghukumnya atas kejahatan yang telah dia lakukan pada putriku." ucap Adam.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Kai keluar dari ruang rawat Adam.
"Kenapa kau terlihat marah seperti itu?" tanya Vincent yang baru saja masuk.
"Tidak apa-apa." jawabnya.
"Siapa yang ingin kau hukum?" Vincent yang sejak tadi berdiri di depan pintu mendengar semua pembicaraan mereka.
"Kau menguping?" Adam menatapnya tajam.
"Aku tidak menguping, hanya tidak sengaja mendengarnya." candanya.
"Sama saja." timpal Adam.
"Lalu, siapa yang ingin kau hukum?" tanyanya lagi.
"Teman satu sekolahnya, Cleo. Dia sengaja mendorong putriku dari tangga sekolah." jawabnya.
"Kenapa tidak kau laporkan saja masalah ini kepihak berwajib?" tanyanya.
"Aku sudah merencanakan itu. Tapi, Cleo mencegahku. Dia tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Karena itu hubunganku dengannya semakin buruk." Adam terlihat sedih.
"Bukankah hubunganmu dengannya memang sudah buruk?" Vincent kembali menggodanya.Tatapan Adam seperti ingin membunuh sahabatnya itu. "Itu kenapa aku bilang, cobalah untuk dekat dengan putrimu. Apapun alasanmu melakukan itu, kau harus percaya Cleo pasti bisa bertahan tanpamu. Ada aku yang akan menjaganya." Adam terlihat memikirkan kata-katanya.
"Sudah terlambat untukku." jawabnya.
"Tidak ada kata terlambat. Cobalah untuk lebih dekat dengannya." ujar Vincent.
πππ
"Bagaimana, Dok?" tanya Cleo.
"Kita buka sekarang ya!" ujar dokter Hilman. Cleo mengangguk setuju.
"Coba digerakin kakinya!" perintahnya begitu gips itu lepas dari kaki Cleo. Cleo menggerakan kakinya perlahan.
"Bagaimana?" tanya dokter Hilman.
"Udah gak sakit, Dok." Cleo sumringah.
"Coba berjalan perlahan!" Cleo menurut, dia turun dari tempat tidur dan mulai melangkahkan kakinya secara perlahan.
"Bagus! Untuk sementara hindari olahraga berat ataupun jogging " sarannya.
"Baik, Dok." Setelah selesai, Cleo dan bi Ita keluar dari ruangan itu.
"Syukurlah, Non. Bibi senang lihatnya." ucap bi Ita saat melihat Cleo sudah tidak menggunakan tongkat lagi.
"Aku juga, Bi! Rasanya risih banget pakai begituan." jawab Cleo.
"Ayo, kita pulang!" ajak bi Ita, Cleo setuju. Mereka berjalan menuju pintu keluar.
"Aaaghhh! Apa ini?" Cleo berteriak saat benda cair menutupi wajahnya.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" bi Ita begitu terkejut mendapati wajah Cleo dipenuhi saus.
"Ooppss, maaf!" Cleo mengusap saos tomat yang ada di wajahnya. Dia menoleh ke suara yang ada disampingnya. Cleo menyeka saos yang menempel di kelopak matanya, untung saja tidak ada yang mengenai matanya.
"Looo!!" teriak Cleo saat melihat Andreas berdiri disebelahnya.
"1 sama." Andreas terbahak dan meninggalkan Cleo begitu saja.
"Dasar bule cabulll!" maki Cleo.
__ADS_1
~tbc