CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 26


__ADS_3

"Minggu depan kamu berangkat ke London. Ayah dan tantemu sudah menyiapkan semua keperluanmu disana. Bumi juga akan membantumu." ucap Adam disaat mereka sedang sarapan. Cleo tidak mengatakan apapun, dia terlihat fokus dengan makanan yang ada di piringnya.


"Aku sudah kenyang!" Cleo meletakkan sendoknya dan berjalan meninggalkan ruang makan. Bi Ita hanya bisa menatap iba kepadanya.


"Tuan, apa keputusan anda sudah benat?" tanya bi Ita.


"Ini yang terbaik, Bi." jawabnya.


"Tapi, kasihan non Cleo. Dia ingin tetap disini untuk menemani tuan." Adam menoleh padanya. "Ya, Tuan, dia mengatakan itu pada saya pagi tadi. Nona tidak ingin meninggalkan tuan sendirian." bi Ita memberitahu pembicaraan mereka pagi tadi.


"Tetap saja ini yang terbaik untuknya. Aku gak sanggup melihatnya harus menderita karena kehilangan diriku." jawab Adam. Padahal dalam hatinya bersedih mendengar penuturan orang kepercayaannya itu.


"Tuan jangan putus asa. Saya yakin tuan masih memiliki banyak waktu untuk bersama nona." bi Ita kembali menyemangatinya.


"Itu tidak mungkin! Kamu tahu sendiri bagaimana kondisiku saat ini." setelah mengatakan itu Adam pergi menuju kamarnya.


"Nona pasti akan hancur saat tahu, ayah yang dia sayangi tidak punya waktu lagi untuk bersamanya." ucapnya pelan.


"Terserahlah! Aku tidak peduli. Percuma saja aku bicara, ayah tetap tidak akan mendengarku." Cleo menggambil ponselnya, dia mulai mencari drama korea yang akan di tonton malam ini.


"Cleo, sudah bangun?" tanya Adam begitu dia sampai di ruang makan.


"Belum, Tuan." jawab bi Ita.


"Aku harus ke rumah sakit. Tolong jaga dia." pesannya, Adam pergi tanpa menyentuh apa-apa.


"TOK TOK TOK."


"Masuk." ujar Cleo dari dalam. "Ada apa, Bi?" tanyanya saat melihat bi Ita masuk.


"Apa nona baik-baik saja?" tanyanya.


"Aku tidak apa-apa. Jika bibi kesini karena khawatir padaku, bibi tenang saja, aku tidak akan berdebat lagi dengan ayah." bi Ita memandangnya dengan penuh kasih.


"Yang sabar ya! Bibi yakin suatu saat nina pasti akan mengerti dengan keputusan tuan." dia membelai kepala Cleo.


"Aku hanya ingin mengabulkan permintaan ayah, Bi. Jika ayah ingin aku pergi dari hidupnya, maka akan kukabulkan keinginannya itu." bi Ita terlihat sedih. Cleo pasti sudah salah sangka pada Adam.


"Nona jangan berkata seperti itu. Yakinlah, tuan begitu menyayangi Nona." ucapnya lembut.


"Aku bukan lagi anak kecil yang bisa tipu, Bi." Cleo berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Tapi bagi kami, kamu akan selalu menjadi putri kecil yang harus selalu dilindungi." bisik bi Ita. Tentu saja Cleo todak mendengarnya, karena pintu kamar mandi tertutup rapat.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ayo, kita pergi ke rumah sakit." ajak Aisyah pada putrinya.


"Gak usah, Bu. Aku gak apa-apa." Nayla menolak. Dia gak suka dengan bau rumah sakit. Apalagi jika harus minum obat.


"Gak apa-apa gimana? Lihat saja badanmu masih panas begini?" ucapnya setelah menyentuh dahi Nayla.


"Tapi, Bu ..."


"Sudah, jangan banyak protes! Ayo, ibu bantu bersiap." Aisyah mengambil baju ganti untuknya. Dia membantu Nayla bertukar pakaian. Setelah itu membantu menyisir dan mengikat rambutnya.


"Sudah, Ayo!" ajaknya. Aisyah menuntunnya berjalan menyusuri gang kecil yang mengarah ke jalan raya. Nayla kaget karena sudah ada taksi yang menunggu mereka.


"Kita naik taksi, Bu?" tanyanya.


"Iya, kamu lagi sakit begini gak mungkin kalau kita naik angkot." Aisyah menyuruhnya untuk masuk terlebih dahulu.


"Giant Hospital, Pak." Nayla terkejut.


"Kenapa gak ke puskesmas aja, Bu?" tanyanya.


"Tapi, itukan rumah sakit terkenal, Bu. Memangnya ibu punya uang?" Nayla berbisik, takut sopir taksi itu mendengarnya.


"Sudah kamu tenang saja. Yang penting kamu cepat pulih. Bukankah sebentar lagi, hasil seleksimu keluar?" tanyanya. Nayla mengangguk. Mereka tiba di Giant Hospital, Aisyah mendaftarkan Nayla di poli umum.


"Bagaimana, Dok?" tanya Aisyah begitu Nayla selesai diperiksa.


"Tidak apa-apa. Karena demamnya baru satu hari jadi kita observasi dulu ya. Jika dalam tiga hari masih demam, baru kita cek lab. Nanti saya resepkan obat penurun demam." Dokter itu berkata ramah.


"Jadi, gak perlu cek labor sekarang, Dok? Ini bukan DBD atau Tipuskan, Dok? Soalnya demamnya gak turun-turun." Aisyah terlihat begitu mengkhawatirkan Nayla, Dokter itu tersenyum.


"Untuk saat ini belum perlu, Bu." jawabnya, Dia kemudian menuliskan resep dan memberikannya pada Aisyah.


"Kamu tunggu disini ya! Ibu kasih ini dulu ke petugas apoteknya." Nayla mengangguk, tak lama Aisyah duduk disebelahnya.


"Bu, Nayla ke toilet dulu ya!" ucapnya.


"Mau ibu temani?"

__ADS_1


"Gak usah, ibu disini aja. Nay bisa sendiri." setelah itu, Nayla berjalan menuju toilet yang terletak di dekat taman yang ada di dalam rumah sakit.


"Bukannya itu ayah, Cleo? Sedang apa dia disini?" saat keluar dari toilet, Nayla melihat Adam sedang bersama seorang pria yang menggunakan jas dokter.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Adam.


"Lebih baik kamu jujur padanya. Cleo perlu tahu kondisimu." jawab Vincent.


"Dia pasti akan sangat sedih jika tahu hal ini." timpal Adam.


"Tapi, mau sampai kapan kamu merahasiakan semua ini darinya? Dia perlu tahu, agar tidak ada penyesalan nantinya." Vincent kembali memberinya saran.


"Aku gak sanggup. Bagaimana aku harus mengatakan padanya? Dia pasti terkejut kalau aku bilang hidupku tidak akan lama lagi." Adam menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tapi, Cleo harus tahu! Kondisimu saat ini tidak begitu baik. Kanker itu berkembang begitu pesat. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi besok. Bayangkan, jika tiba-tiba dia tidak bisa melihatmu lagi. Akan seperti apa deritanya." Adam kembali menggeleng.


"Minggu depan aku akan mengirimnya ke luar negeri. Setelah itu aku tidak perlu khawatir untuk menjalani pengobatan." sifat keras kepala Adam membuat Vincent tidak berdaya.


"Nayla, apa yang kamu lakukan disini? Ibu dari tadi cariin kamu." Nayla kaget mendengar suara Aisyah.


"Tidak apa-apa, Bu." jawabnya. "Obatnya sudah?" tanyanya.


"Sudah. Ayo, kita pulang!" Nayla kembali mengangguk. Sebelum meninggalkan tempat itu, Nayla menyempatkan untuk menoleh ke belakang, Adam masih terlihat murung.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kamu harus setuju?" Panji terlihat kesal karena Sandra terus saja menolak kehadiran Aisyah.


"Nggak akan pernah! Aku nggak sudi punya ibu sepertinya. Aku masih punya mama." Sandra menolak dengan tegas keputusan Panji.


"Tapi, aku dan mamamu sudah berpisah. Mamamu sudah pergi dari hidup kita." jawabnya.


"Dan itu karena wanita itu. Dia sudah menghancurkan keluarga ini. Aku membencinya, sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya." Sandra begitu marah, urat-urat di lehernya mulai terlihat.


"Aisyah itu wanita yang baik. Dia yang selalu mengurusku disaat mamamu sibuk dengan pekerjaannya. Dia sangat lembut dan perhatian. Kamu juga bisa merasakan sikapnya selama ini, bukan? Lagian, apa salahnya? Kamu dan Nayla juga sudah lama bersahabat. Jadi, kalian bisa lebih dekat sebagai saudara." Panji masih terus berusaha.


"Baik? Tentu saja dia harus baik agar papa tertarik padanya. Dimana-mana pelakor itu pasti berpura-pura baik. Tapi, tetap saja dia murahan." Sandra terus mengatakan hal kasar tentang Aisyah.


"Terserah kamu! Minggu depan papa dan dia akan menikah. Suka atau tidak kamu harus menerimanya." Panji pergi begitu saja.


"Aagghhh!!" Sandra melempar dan menendang apa saja yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Dasar pembantu sialan! Murahan! Aku tidak akan membuatmu hidup dengan nyaman. Lihat saja, nanti!" Sandra mengambil kunci mobilnya dan memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi.


~tbc


__ADS_2