
"Kenapa dia selalu membuatku kesal?" Cleo berjalan mondar-mandir di kamarnya. "Kau pikir aku mau menikah denganmu? Kalau bukan karena janjiku pada Ayah, aku tidak akan mau hidup denganmu." Cleo memukul-mukul bantalnya.
"Apa gunanya dia disini? Bahkan dia tidak bisa memasak untukku. Malas banget keluar lagi." Andreas mengambil ponselnya dan memesan makanan secara online. "Aku harus membuatnya sadar siapa dirinya." Andreas mengambil remote tv dan menghidupkannya.
"TIN!!" sudah 3 kali bel berbunyi tapi tidak terdengar Andreas membuka pintu. Cleo yang sedang di depan laptopnya berjalan keluar. Saat melewati ruang keluarga, Cleo melihat Andreas tertidur pulas.
"TINNN" bel kembali berbunyi, Cleo berjalan ke arah monitor. Tampak seorang pria berpakaian hijau sedang memegang papar bag. Cleo membuka pintu.
"Ada apa, Pak?" tanya Cleo.
"Apa ini apartemen tuan Andreas Cassano?" tanyanya.
"Benar." jawab Cleo.
"Ini pesanan beliau." driver ojek online itu menyerahkan bawaannya.
"Sudah dibayar?" tanya Cleo.
"Sudah, Bu." setelah itu driver itu berpamitan. Cleo menutup pintu dan melihat isi dalam paperbag.
"Jadi, dia belum makan?" Cleo memasukkan kembali ayam crispy itu. Kemudian membawanya ke tempat Andreas. Cleo melihat dia masih tertidur pulas. "Gimana bisa dia tidur dengan perut lapar begitu?" Cleo meletakkanya diatas meja. "Apa aku harus membangunkannya?" Cleo terlihat ragu. Saat Cleo masih berpikir, Andreas membuka matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya. Cleo menoleh.
"Aku membawakan pesananmu." Cleo menunjuk meja yang ada di depan Andreas. Andreas segera duduk saat tahu makanannya sudah datang.
"Lain kali, kalau pesan apapun tungguin. Kasihan itu abg ojeknya nungguin. Tidur kok kayak orang mati aja." omelnya.
"Apa katamu?" Andreas hendak berdiri, tapi Cleo keburu kabur ke kamarnya.
"Dasar menyebalkan! Seharusnya kubiarkan saja dikelaparan." omel Cleo begitu sampai di kamarnya.
"Drtt drtt drtt!" Cleo mengambil.ponselnya yang ada diatas nakas.
"Kaino!" Cleo segera menjawab panggilan itu.
"Hi, Cle!" sapanya.
"Hi, ada apa?" tanya Cleo.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Kian.
"Belum." jawabnya.
"Apa yang kau lalukan?" tanya Kian.
"Aku sedang meriksa pekerjaanku." Cleo kembali duduk di meja kerjanya. "Gimana Sandra?" tanya Cleo.
"Entahlah! Tadi dia bilang kalau dia ingin mampir ke rumah papanya." jawab Kian.
"Benarkah?" tanya Cleo.
__ADS_1
"Aku rasa dia merindukan papanya. Apa kau sudah tahu kalau papa Soraya mengalami kecelakaan. Dan, kini beliau tidak lagi bisa berjalan." jelasnya.
"Benarkah?" Cleo yang tidak tahu apapun dibuat terkejut. "Apa kau punya nomornya? Tadi, aku tidak sempat meminta nomornya." ucap Cleo.
"Aku akan mengirimkannya padamu. Cle, kalau aku boleh tahu, siapa pria tadi?" Kiano masih penasaran dengan sosok Andreas.
"Yang mana?" tanyanya.
"Yang di rumah sakit tadi." jawabnya.
"Oh, dia itu dokter penangung jawab di departemenku." jawab Cleo.
"Pantesan! Aku pikir dia itu nggak suka jika aku bertemu denganmu." ujarnya.
"Itu nggak mungkin." menurut Cleo, mana mungkin Andreas berpikiran seperti itu. Jelas-jelas Andreas tidak peduli padanya.
"Apa besok kita bisa bertemu?" tanyanya. "Atau besok aku menjemputmu?"
"Jangan!" Cleo sedikit berteriak.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku bawa mobil. Jika aku ada waktu, aku akan mengabarimu. Soalnya, aku nggak tahu pulang jam berapa." jawabnya.
"Baiklah. Aku tunggu kabarmu." mereka mengakhiri obrolan itu.
πππ
"Tuan ada di dalam, Non." jawab pelayan. Sandra masuk dan langsung mencari keberadaan Panji.
"Ini semua gara-gara kamu, Mas. Seandainya kamu nggak berkata seperti itu, pasti Nayla tidak akan kabur." Sandra mendengar perdebatan Aisyah dan papanya.
"Sudah kubilang, aku hanya ingin mendidik anak itu agar menjadi lebih baik." jawab Panji.
"Tapi, bukan dengan cara keras seperti ini." Aisyah masih tidak terima putrinya pergi dari rumah. "Aku harus mencarinya kemana?" Aisyah menangis.
"Sudahlah! Paling juga besok dia pulang. Mana dia tahan jika tidak punya uang." ledek Panji.
"Kalau begitu kembalikan haknya. Cabut semua hukumanmu. Aku nggak tega melihat putriku hidup susah." Aisyah memohon padanya.
"Tidak sampai dia bekerja. Kau tidak bisa membiarkan putrimu selalu bergantung padamu. Lihat Sandra, dia bahkan bisa menafkahi kita." Panji tetap pada keputusannya.
"Jangan bandingkan Nayla dengan Sandra. Sejak awal mereka berbeda. Putrimulah yang menjadikan Nayla seperti ini." Aisyah berteriak. Dia tidak terima Panji terus-terusan memuji Sandra.
"Sandra tidak melakukan apapun. Memang dasar putrimu yang pemalas." Panji membela putrinya.
"Cukup!! Aku tidak mau kau terus-terusan menyalahkan Nayla. Jika sejak awal putrimu tidak mem-bully-nya, mungkin saat ini dia sudah jadi orang sukses." Aisyah selalu seperti itu. Dia tidak pernah terima, jika ada yang mengatakan hal buruk tentang Nayla.
"Loh, Non, kenapa cepat sekali?" tanya pelayan tadi, saat melihat Sandra berjalan menuju pintu keluar.
"Lain kali saja aku kemari. Tolong jaga papa!" pesannya sebelum pergi.
__ADS_1
"Baik, Non!" Sandra segera masuk ke mobilnya. Dia segera pergi dari situasi yang membuat kepalanya serasa mau pecah. Sandra menghentikan mobilnya di halte dekat kompleks perumahan Cleo. Dia melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 22.15 wib.
"Apa Cleo ada di rumah?" Sandra mulai mencari nomor ponsel Cleo. Setelah menemukannya, dia menekan tanda hijau di ponselnya.
"Hallo!" Cleo yang masih belajar, segera mengangkat ponselnya.
"Hi, Cle!" sapa Sandra.
"Iya Ada apa, Dra?" tanyanya.
"Apa kau di rumah?" Cleo merasa ada yang salah dari nada suaranya.
"Ada apa?" tanya Cleo. "Apa kau baik-baim saja?" Cleo terlihat cemas.
"Aku ada di halte tak jauh dari kompleks perumahanmu. Apa kita bisa bertemu?" tanyanya. Cleo kebingungan, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia sudah menikah. Akan sangat sulit untuk menjelaskan kondisinya saat ini pada siapapun.
"Kau dimana? Aku yang akan menghubungimu." ucap Cleo.
"Aku di halte terakhir di dekat rumahmu." jawabnya.
"Tunggu disana! Jangan kemanapun sampai aku datang." Cleo menutup ponselnya dan mulai mencari jaket dan kunci mobilnya. Setelah menemukan keduanya, Cleo bergegas keluar.
"Mau kemana kau malam-malam begini?" ternyata Andreas masih terjaga. Saat Cleo lewat, dia sedang menonton bola.
"Aku harus keluar." jawabnya.
"Ini sudah larut! Apa kau tidak tahu?" tanyanya.
"Maafkan aku! Tapi, aku tetap harus keluar." Cleo berjalan menuju pintu.
"Apa kau tidak mendengarku? Jangan buat aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali nantinya." ancamnya.
"Aku harus bertemu dengan temanku. Saat ini, dia membutuhkan bantuanku. Jadi, jangan coba halangi aku." Cleo tidak menghiraukannya. Saat Cleo akan membuka pintu, tangannya di cengkram dengan erat. Andreas menariknya, hingga membuatnya berbalik.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Cleo.
"Kau jangan memancing kemarahanku." jawabnya.
"Lepaskan aku!!" Cleo memukul-mukul tangan Andreas menggunakan tangan satunya. Cleo tidak berhasil melepaskan diri.
"Aaawww!!" Andreas memegangi tangannya yang baru saja digigit Cleo. "KAU!!" Andreas menatapnya dengan kemarahan.
"Maaf, tapi aku harus pergi! Aku takut terjadi apa-apa pada Sandra." Cleo berlari keluar, dia bergegas menuju lift. Dia membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke tempat Sandra berada.
"TOK TOK TOK." Cleo memberanikan diir keluar dan mengetuk kaca mobil Sandra. Tampak Sandra sedang bersandar dengan mata tertutup. Sandra membuka matanya, dia melihat Cleo berdiri disamping pintu mobilnya. Sandra keluar dan langsung memeluk Cleo.
"Ada apa?" Cleo mengelus-elus punggungnya. Sandra mulai terisak. Cleo membiarkan Sandra menumpahkan semua emosi yang ada padanya saat ini.
"Jadi dia bertemu wanita itu?" ucap Andreas yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh.
~tbc
__ADS_1