
"Entah apa yang ibu harapkan dari pria itu." Nayla sampai di Club malam yang biasa dia datangi bersama teman-temannya.
"Lo kenapa?" tanya Zia saat melihat Nayla sudah meneguk beberapa gelas minumannya. Nayla tidak mengatakan apapun. Dia kembali menghabiskan minuman yang tersisa di gelasnya.
"Biasalah, pria lumpuh itu membekukan semua aset pribadiku." gerutunya.
"Kalian bertengkar lagi?" di antara temannya yang lain, hanya Zia yang perhatian padanya.
"Dia nggak mau memberikan mobilku kembali." jawabnya.
"Nay, kamukan baru saja kecelakaan. Kali aja mereka lakukan itu untuk kebaikanmu." Zia menasehatinya.
"Itu nggak mungkin. Dia itu memang pelit. Baru ini aku melihat pria sepelit dirinya." Nayal menolak untuk mempercayai Zia.
"Kamu enggak boleh ngomong begitu." ujarnya.
"Sudahlah, aku lagi males juga ngebahas mereka." Nayla beranjak dari kursinya.
"Nay!! Nayla? kamu mau ke mana?" tanya Zia saat dia berjalan menjauh.
"Gabung dengan yang lain." Nayla mulai ikut yang lain menari di lantai dansa. Kerasnya musik tidak dia pedulikan. Dia mulai meliuk-liukan tubuhnya kesana-kemari. Terdengar suitan di sekitarnya saat pengunjung melihat Nayla menari dengan sedikit erotis. Yah, Nayla cukup handal untuk mengerakkan tubuhnya di lantai dansa.
πππ
"Apa kamu mau pulang?" tanya Raka.saat melihat Cleo sudah berganti baju.
"Iya." ucapnya.
"Jadi, kamu double shift?" tanya Raka lagi. Mereka jalan bersama. Raka juga baru selesai dinas sore.
"Iya." Cleo sangat letih.
"Pulang sama siapa?" tanya Raka.
"Taksi." Cleo ingat bahwa dia tadi berangkat dengan mobil Andreas.
"Ayo, biar kuantar aja." dia menawarkan diri.
"Tidak usah. Aku bisa naik taksi." tolaknya.
"Kamu terlalu letih. Lihatlah, matamu saja sudah terlihat berat." akhirnya Cleo menerima tawaran Raka.
"Rumahmu dimana?" Cleo memberikan alamat rumahnya. Bukan rumah Vincent. Raka yang sudah tahu, langsung melajukan kendaraannya menuju perumahan mewah itu.
πππ
"Ada apa?" tanya Andreas, saat melihat Yuda terus menatap ke bawah.
"Itu ...., Kau lihat aja!!" Yuda menunjuk ke arah Nayla yang sedang dikelilingi pengunjung lain. Andreas melihat sekilas, kemudian kembali duduk. "Gila!! Itu cewek seksi banget!!" teriak Yuda.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Olive yang baru datang dari kamar mandi.
"Kamu lihat cewek disana. Seksikan?" Olive melihat wanita yang menari dengan erotis.
"Murahan begitu kamu bilang seksi?" Olive duduk di sebelah Andreas. "Apa seleranya serendah itu?" tanyanya. Andreas tertawa.
"Wow!! Dia sungguh pandai menari." Yuda kembali bergabung dengan mereka.Dia mengambil botol minuman yang ada di hadapannya.
"Apa kamu juga menyukai wanita seperti itu?" tanya Olive padanya.
"Wanita seperti itu hanya bisa jadi penyenang, tidak akan bisa menjadi wanita berharga." Andreas membandingkannya dengan Cantika yang terlihat anggun dan bermartabat.
__ADS_1
"Jadi, wanita idamanmu seperti apa?" tanya Olive.
"Anggun dan lembut." Andreas meneguk minumannya. Dia kembali teringat pada Cantika.
"Mau kemana?" tanya Olive saat melihat Andreas berdiri.
"Toilet." ucapnya.
"Jadi, dia menyukai wanita anggun?" Olive senyum-senyum sendiri.
"Kamu tidak akan bisa mendapatkan hatinya." ucap Yuda yang sejak tadi memperhatikannya.
"Apa maksudmu?" tanya Olive.
"Di hatinya sudah ada wanita yang dia cintai." Olive terkejut dengan mendengar perkataan Yuda.
"Kau pasti bohong!" dia tidak percaya.
"Aku serius. Tidak ada yang tak kuketahui tentangnya." Olive terdiam.
"Lepaskan aku!!" saat keluar dari toilet, Andreas mendengar teriakan wanita di salah satu ruangan.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mencicipi tubuh indahmu?" Terdengar suara tawa beberapa pria.
"Cihh!! Jangan mimpi kau!!" maki Nayla.
Ya, suara wanita yang Andreas dengar tadi adalah Nayla. Saat berjalan menuju toilet, beberapa pria membawanya secara paksa ke dalam salah satu ruangan.
"Aku bisa memberikan berapapun yang kau mau. Asal, kau bisa memuaskanku." ucap Pria berkemeja merah itu.
"Aku bukan wanita murahan. Aku nggak butuh uangmu." Nayla mencoba melepaskan diri dari dua orang pria yang memegangi tangannya. Mereka tertawa.
"Mana ada wanita baik-baik yang menari seperti itu." jawab pria tadi, sepertinya dia adalah bos dari mereka.
"Kau akan kulepaskan, tapi setelah aku puas denganmu!" pria tadi mendekat dan mulai memaksakan keinginannya pada Nayla. Nayla berteriak meminta tolong. Dia berusaha mendorong pria itu dengan sekuat tenaga. Sementara, kedua pria yang memegangi tangannya tadi sibuk meneguk minuman mereka. Mereka seolah tidak terganggu dengan teriakan Nayla.
"Toloongg!!" Nayla kembali berteriak saat dia berhasil mengigit bibir pria itu.
"BRAAKK!!" mereka dikejutkan dengam suara pintu yang di dobrak dari luar.
"Siapa kau?" tanya pria kaos merah tadi, saat melihat Andreas berdiri di depannya.
"Tolong aku!!" Nayla mengambil jaketnya dan menutupi tubuhnya.
"Lepaskan dia!!" ucap Andreas.
"Kau tidak perlu ikut campur." jawab pria tadi. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Andreas. Tapi, tidak membutuhkan waktu lama, untuk Andreas bisa melumpuhkan mereka.
Melihat kedua anak buahnya sudah tidak berkutik, Pria itu mulai menyerang Andreas. Andreas berhasil menghindar, dan membekuknya. Tidak ingin memperpanjang masalah, mereka berlari dari sana.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Andreas, Nayla berdiri. Tampangnya sudah berantakan, lipstiknya berserakan di seluruh wajahnya.
"Naylaaa!!" Andreas menoleh dan tampak seorang wanita menggunakan dress biru berlari ke arah Nayla.
"Kenapa denganmu?" tanya Zia saat melihat Nayla yang sudah berantakkan.
"Sepertinya temanmu sedang syok. Lebih baik kamu bawa dia pulang." setelah memberi saran, Andreas keluar dari ruangan itu. Nayla terus saja menatap Andreas, dia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Zia.
πππ
"Darimana saja kau?" tanya Yuda saat Andreas menghampiri mereka.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?" bukannya menjawab pertanyaan Yuda, dia malah mengambil jaketnya. "Ayo!!" ajaknya pada Olive. Mereka berjalan menuruni tangga.
"Biar aku antar kau pulang." ucap Andreas pada Olive. Olive tersenyum, Andreas membantunya masuk ke mobil.
"Aku??" tanya Yuda.
"Kau bawa mobilnya. Dia terlalu mabuk untuk menyetir." Yuda mengangguk. Memang setelah mendengar perkataan Yuda tadi, entah sudah berapa banyak Olive meneguk minuman keras yang dia pesan.
"Apa yang kau lihat?" tanya Zia. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil.
"Bukankah itu pria yang memyelamatkanku tadi?" tanyanya. Zia melihat ke arah Andreas.
"Benar." jawab Zia.
"Siapa wanita itu? Apa dia kekasihnya?" tanyanya.
"Mana kutahu! Saat ini kau pikirkan saja dirimu. Lihatlah! Kau tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini." ucap Zia. Dia segera melajukan mobilnya menuju pintu keluar, Nayla masih menatap Andreas yang akan memasuki mobil sedan hitam itu.
"kamu nggak masuk?" Olive menawarkan Andreas untuk masuk ke apartemennya.
"Aku harus pulang. Lebih baik kamu istirahat saja." setelah mengatakan itu Andreas langsung berbalik.
πππ
"Ini rumahmu?" tanya Raka saat mereka sampai di gerbang rumah Cleo.
"Iya." jawabnya. Raka masih terus melihat gerbang besar itu.
"Makasih ya." Cleo membuka seatbelt miliknya. Raka mengangguk, Cleo keluar dari mobil itu. Setelah mobil Raka tidak lagi terlihat, Cleo meminta Aming untuk membukakan gerbang.
"Loh, Non ....?" Aming bingung karena Cleo tiba-tiba pulang sendiri.
"Malam, Pak." Cleo segera berjalan menuju rumah. Aming terheran-heran sendiri. Sesampainya disana, Cleo menekan bel.
"Non?" ucap bi Ita saat melihatnya berdiri disana seorang diri. Cleo masuk, bi Ita mengikutinya. "Kenapa pulang sendiri? Dimana dokter Andreas?" tanyanya.
"Aku baru dari rumah sakit, Bi. Kangen sama rumah, jadi aku pulang kesini." Cleo berjalan menaiki anak tangga. Meninggalkan bi Ita dengan segala pertanyaannya.
"Buat apa juga aku pulang ke rumah itu. Dia bahkan tidak menganggapku ada." Cleo melempar tasnya ke atas sofa.
Andreas sampai di rumah saat hari sudah sangat larut. Dia berjalan menuju kaarnya yang berada di lantai 2.
"Sayang!!" dia terkejut saat Jasmine berdiri di depan kamarnya.
"Mama, apa yang mama lakukan disini?" tanyanya.
"Kamu baru pulang?" tanya Jasmine. Dia mengangguk. "Dimana istrimu?" tanya Jasmine.
"Bukankah dia sudah pulang?" tanyanya. Setaunya Cleo dinas pagi, dia nggak tahu kalau Cleo double shitf.
"Mama baru saja dari dalam, tapi Cleo tidak ada. Coba kamu hubungi dia." ucapnya. Andreas mengambil ponselnya dan mulai mencari nama Cleo di handphone-nya.
"Kenapa?" tanya Jasmine.
"Aku tidak punya nomornya." jawabnya.
"Astaga!! Kamu ini suami macam apa sih? Masa nomor handphone istrimu sendiri kamu nggak punya." Jasmine terlihat sangat kesal.
"Aku belum sempat memintanya, Ma." jawabnya.
"Mama nggak mau tahu. Sekarang juga kamu cari dimana istrimu. Jangan pulang sebelum kamu menemukannya." Jasmine meninggalkannya seorang diri.
__ADS_1
"Baru satu hari jadi istriku, sudah nyusahin!!" Andreas kembali menuruni anak tangga.
~tbc