
"Aku berangkat, Bi!" ucap Cleo sesaat setelah selesai sarapan.
"Naik apa, Non?" bi Ita tahu bahwa mobilnya masih dibengkel. Cleo berjalan menuju garasi, dan bi Ita mengikutinya.
"Si Merah." dia menunjuk motor kesayangannya.
"Yang benar saja? Nona bisa kena debu dan kotoran di jalanan." bi Ita kembali mengingatkannya.
"Nggak masalah, Bi. Aku udah telat." Cleo memasang helmnya dan mulai mengendarai motor matic itu keluar dari garasi.
"Tetap aja kebiasaan nggak bisa diubah." ucap bi Ita saat melihatnya keluar dari gerbang.
"Udah lama banget nggak bawa motor begini." Cleo mengingat saat dirinya masih duduk di bangku SMA.
"BRAK!!" tiba-tiba saat berhenti di lampu merah, sebuah mobil menabrak motornya dari belakang, sehingga motornya terdorong ke depan. Cleo menepikan motornya dan memeriksa bagian belakang motor itu, tampak sedikit penyok. Dia menoleh pada pengendara mobil merah yang juga ikut menepikan mobilnya.
"Hati-hati dong bawa mobilnya. Anda bisa membahayakan pengendara lain." tegurnya pada wanita berbaju minim itu.
"Lo yang bawa motor nggak benar! Lihat, mobil gue jadi gores begini!" bukannya meminta maaf dia malah balik memarahi Cleo. Cleo terus menatap wanita berambut pendek itu dari balik helm-nya karean dia sangat mengenal suara itu. "Gue nggak mau tahu, lo harus ganti." ucapnya marah.
"Kamu yang salah malah balik nyalahin orang." jawab Cleo.
"Dasar orang miskin! Gue tahu lo nggak akan sanggup buat bayar perbaikan mobil gue." dia memandang rendah Cleo dan juga motor yang dia gunakan. "Ah, sudahlah! Percuma gue ribut sama lo. Buang-buang waktu gue aja." dia berjalan masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu.
"Aku nggak nyangka kamu bisa berubah menjadi seperti ini Nay!" gumam Cleo begitu mobil sedan merah itu menjauh darinya.
Ya, wanita tadi adalah Nayla. Cleo masih mengenalinya, walaupun penampilannya sudah jauh berbeda. Tak ada lagi kacamata besar di wajahnya. Wajahnya sudah dipenuhi make up dan penampilannya juga sudah lebih modis.
Cleo melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, dia segera memarkir motornya di area parkir karyawan. Cleo berlari karena dia sudah sangat terlambat.
"Dimana Dokter Cleo?" tanya Andreas pada Raka.
"Itu dia, Dok!" jawab Luna. Andreas melihat Cleo yang berlari ke arah mereka.
"Maaf, saya telat!" Cleo ngos-ngosan.
"Baru masuk sudah buat masalah. Ntah apa lagi masalah yang akan kau timbulkan." gerutu Andreas. Semua orang terdiam, Cleo terlihat menahan kesal.
"Ayo!" Andreas berjalan di depan, sementara Raka dan Desmi mengikutinya di dari belakang. Mereka terlihat memasuki kamar pasien.
Cleo buru-buru menuju lokernya dan mengambil jas putih miliknya. Setelah itu, dia mengejar Andreas dan yang lain. Cleo cukup terkejut karena Andreas sangat ramah menghadapi pasiennya. Dia sama sekali tidak membedakan status pasien.
"Ini, Dok!" Raka menyerahkan semua laporan mengenai pasien mereka. Andreas memperhatikan satu persatu rekam medis pasien itu.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau akan terus berdiri disana?" Dia menegur Cleo tanpa menatapnya. Cleo mendekat tapi tetap tidak melakukan apapun. "Apa kau tidak punya pekerjaan? Kau bisa melakukan apapun. Akan rugi rumah sakit mengaji dokter pemalas sepertimu." rasanya Cleo ingin menyobek mulut pria itu.
"Dok, tolong istri saya!" ucap salah satu keluarga pasien yang menghampiri mereka.
"Biar aku aja!" ucap Cleo saat melihat Raka berdiri. Cleo pergi dari sana, dan memasuki kamar 101. Andreas terus memperhatikannya.
"Dok, ini surat kontrolnya!" Desmi memberikan surat kontrol untuk pasien yang akan pulang. Andreas tidak mengambilnya, dia terlihat melamun. "Dok ....?" ulangnya. Andreas terkejut dan segera mengambil dan menandatanginya.
"Pagi ini saya ada seminar. Jika ada pasien, minta dokter Elliot untuk menangganinya." pesannya sebelum pergi.
"Baik, Dok." jawab Raka.
"Akhirnya bisa bernapas lega." ujar Raka. " Lagian, dokter Casanno itu sangat aneh. Sama pasien aja dia itu super ramah dan lembut banget. Giliran sama kita ...? Huh, nggak bisa ditebak." lanjutnya.
"Kamu beraninya ngomong di belakang. Kalau gentle tanya langsung ke orangnya." ledek Luna.
"Aku masih membutuhkannya." jawab Raka cepat.
"Tapi, kenapa dokter Casanno sepertinya nggak suka ya sama dokter Cleo?" tanya Mika.
__ADS_1
"Mungkin karena dokter Cleo terlalu cantik." puji Raka.
"Itu mah kamu yang naksir!" ledek Desmi. Mereka tertawa bersama.
πππ
"Dari mana saja kamu?" Aisyah mencegah Nayla yang baru saja masuk ke rumah.
"Ibu mengagetkan saja." jawabnya.
"Nayla, kamu darimana?" Aisyah mencengkaram lengannya.
"Aduh, Bu! Aku capek nih, ngantuk! Nanti aja tanya-tanyanya." ujarnya.
"Nay!! Nayla!!" teriak Aisyah, tapi putrinya itu sudah naik ke lantai atas dan segera menutup kamarnya.
"Kamu kenapa sih, masih pagi udah teriak-teriak?" tanya Panji yang keluar menggunakan kursi roda.
"Nayla, baru pulang!" jawabnya.
"Aku lapar, apa kau bisa menyiapkan makanan untukku?" tanyanya.
"Aku sibuk mas! Kamu minta bi Jumi aja." Aisyah meninggalkannya seorang diri.
Panji mendapatkan balasan atas sikapnya selama ini. 2 tahun yang lalu, dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai oleh sopirnya menabrak pembatas jalan, Panji terjepit di kursi belakang, sehingga kakinya mengalami kelumpuhan. Sementara, Aisyah yang dulunya begitu perhatian padanya, sekarang malah mengabaikannya.
"Percuma saja aku mempunyai istri." gerutunya, Panji berteriak memanggil bi Jumi, pelayan yang bertugas mengurusnya.
"Nay!! Nayla!!" Aisyah mengedor pintu kamarnya.
"Apa sih, Bu? Ganggu tidurku aja!" Nayla keluar dengan tampak yang acak-acakan.
"Kita harus bicara!" Aisyah masuk ke kamarnya.
"Ibu mau ngomong apa? Cepatlah! Aku ngantuk!" Nayla duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Aku party sama teman-teman." jawabnya sambil mengaruk kepalanya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Diusiamu sekarang harusnya kamu bekerja, bukan malah berfoya-foya begini." Aisyah mulai mengomelinya.
"Ah, ibu berisik banget sih! Buat apa aku kerja? Suami ibukan kaya begitu, jadi ngapaim aku susah-susah cari uang." jawabnya.
"Kamu nggak bisa berharap terus pada papamu. Dia saja udah nggak bisa ngurusin dirinya sendiri, gimana dia mau ngurusin kita?" Aisyah terlihat kesal dengan putrinya itu.
"Gampang, ibu tinggal cari aja lagi pria yang lebih kaya."
"PLAAK!!" Nayla memegang pipinya yang terasa panas.
"Jaga bicaramu!" ucapnya.
"Kenapa? Bukankah itu keahlian ibu? Aku hanya memberikan saran yang terbaik, kenapa ibu harus marah?" Nayla berteriak padanya.
"Ibu melakukan semua ini demi dirimu. Kau harusnya paham!!" ucapnya.
"Ah, sudahlah! Aku sudah muak mendengar alasan yang itu-itu terus. Lebih baik ibu keluar, aku mau tidur." Nayla menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Aisyah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak menyangka putrinya bisa berubah menjadi sekasar ini.
πππ
"Istirahat dulu, Dok!" Raka memberikan secangkir espresso yang dia bawa.
"Terima kasih." Cleo mengambilnya dan langsung meneguk setengah dari isi cangkir itu.
"Tidak perlu memaksakan diri, Dok." ucap Desmi.
__ADS_1
"Benar, Dok! Dokter Casanno itu memang begitu. Tapi, dia sebenarnya baik loh." puji Luna.
"Udah baik, tampan lagi." timpal Mika.
"Cakepan juga aku." potong Raka. "Iyakan, Dok?" tanyanya.
"Cleo aja! Lagian kamu lebih senior." jelasnya.
"Baiklah." jawab Raka.
"Datanglah ke ruanganku sekarang." Cleo membaca pesan dari Vincent.
"Aku ada sedikit urusan, apa aku bisa izin sebentar?" ucap Cleo pada Raka dan Desmi.
"Mau kemana?" tanya Raka.
"Aku dipanggil Direktur." jawabnya.
"Pergi saja, Dok." jawab Desmi. Cleo segera pergi dari sana. Dia menaiki lift menuju ruangan Vincent.
"Kenapa dokter Cleo tiba-tiba dipanggil Direktur?" tanya Luna.
"Mana aku tahu." jawab Mika.
"Apalagi aku." ujar Raka saat mereka menoleh padanya.
"TOK TOK TOK." Cleo mengetuk pintu ruangan Vincent.
"Masuk." Cleo membuka pintu dan terkejut saat melihat Andreas sudah berada disana.
"Ayo, Sayang! Kemarilah!" Cleo duduk di sofa yang berhadapan dengan Andreas.
"Aku memanggil kalian kemari untul membahas mengenai pernikahan kalian." ucapnya. "Kami sudah menentukan tanggal yang baik untuk pernikahan kalian." lanjutnya.
"Kapan?" tanya Andreas.
"Tanggal 22 bulan ini." jawab Vincent.
"Tapi, itu hanya tinggal 2 Minggu lagi." sela Andreas.
"Memangnya kenapa? Toh, tidak ada pesta mewah. Kalian hanya menikah di depan penghulu. Dan, aku sudah memasukkan berkas kalian di KUA." jelasnya, Andreas terlihat kesal. "Bagaimana, Cleo?" tanyanya.
"Aku terserah paman saja." Andreas menatap tajam padanya.
"Baiklah. Sudah diputuskan, aku akan mengabari Jasmine. Dia pasti senang mendengar semua ini." Vincent terlihat bersemangat.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk segera menikah denganku?" ucap Andreas pelan, begitu mereka keluar dari ruangan Vincent.
"Aku hanya mengikuti kemauan orangtuamu." jawabnya. Andreas mencengkram lengannya dan membuat Cleo menatap ke arahnya.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyanya.
"Apa maksudmu?" tanya Cleo, dia berusaha melepaskan tangannya dari Andreas.
"Kenapa kau ingin segera menikah denganku? Kau tidak sedang hamilkan?"
"PLAAKK!" Cleo mendaratkan tangannya di pipi kirinya.
"Jaga mulutmu! Aku bukan wanita murahan." ucap Cleo denga mata memerah menahan marah.
"Bisa saja kau menjebakku untuk menikahimu. Agar tidak ada yang tahu dengan kelakuan busukmu." Andreas kembali merendahkannya.
"Aku bukan kau! Dasar bule cabul!" Cleo melepaskan tangannya dan meninggalkan Andreas yang berdiri terpaku mendengar kata-kata terakhir yang Cleo ucapkan.
__ADS_1
"DIA ....? Bocah ingusan??" Andreas menatap Cleo yang sudah berada di dalam lift. Dia juga sedang menatap tajam ke arahnya. Pintu lift tertutup.
~tbc