
"Kenapa dia tidak pernah membiarkan aku berbicara?" gerutu Cleo sepeninggalan Andreas.
"Ada apa?" tanya Raka.
"Kau mengagetkan aku saja." jawab Cleo. "Sejak kapan kau disana?"
"Baru saja. Aku melihatmu mengomel sendiri." Raka berkata jujur.
"Syukurlah!" jawabnya.
"Apanya?" tanya Raka tidak mengerti.
"Tidak ada." Cleo bergegas meninggalkan pria berkacamata itu, sebelum dia bertanya lebih lanjut.
"Aneh banget." ucap Raka.
"Dok, dicariin sama Direktur." lapor Elia.
"Baiklah." Cleo berjalan menuju lift.
"Kenapa Dirut sering banget manggil dokter Cleo ya?" Elia bertanya pada Desmi.
"Itu bukan urusan kita." jawab Desmi.
"Bukankah menurut ibu itu aneh? Padahal dokter Cleo masih baru, tapi kelihatannya dekat banget sama Dirut." lanjut Elia.
"Jangan ikut campur!" sambung Desmi.
"Kenapa?" tanya Raka yang baru bergabung. "Dimana dokter Cleo?" tanya Raka.
"Ke ruangan Direktur." jawab Elia. "Dok, apa dokter Cleo itu koleganya Dirut?" Raka mengerinyitkan alisnya, kebetulan Desmi berjalan ke dalam ruangan mereka.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Emang nggak aneh ya Dok? Dirut sering banget manggil dokter Cleo ke ruangannya. Terkadang saya melihat mereka mengobrol di taman. Seperti akrab gitu." jelas Elia.
"Benarkah?" Raka terlihat berpikir.
"Masa dokter nggak perhatian?" Raka menggeleng.
"Kalau benar dia kolega Dirut, kita harus baik-baikin dong." ucap Raka.
"TOK TOK TOK."
"Masuk." jawab Vincent.
"Papa memanggilku?" tanya Cleo.
"Duduklah!" Vincent berjalan menuju sofa yang telah Cleo duduki.
"Ada apa, Pa?" Cleo bisa bersikap santai karena hanya ada mereka berdua disana.
"Apa-apaan ini, Cle?" tanya Vincent, Cleo mengerinyit.
"Maksud papa?" tanyanya.
"Kenapa sejak kalian pindah ke apartemen, kalian nggak pernah sekilpun pulang?" Cleo akhirnya paham.
"Maafkan Cleo, Pa. Jadwal Cleo padat banget. Libur besok Cleo akan usahin mampir." Cleo merasa bersalah pada mertuanya.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya.
"Maksud Papa?"
"And, Apa dia bersikap baik padamu?" Cleo terdiam. "Ada apa?" lanjutnya.
"Semua baik-baik saja, Pa." bohongnya.
"Benarkah? Kau tidak berbohong?" Vincent tidak langsung mempercayainya. Cleo mengangguk.
"Semua baik, Pa." Cleo tersenyum.
"Aku hanya tidak ingin dia bertindak semena-mena padamu. Dia harus sadar bahwa kamu ini istrinya." Vincent terlihat kesal.
"Papa nggak perlu khawatir. Aku bisa menyelesaikan semuanya." Cleo menyakinkannya.
__ADS_1
"Jika dia menyakitimu, katakan padaku! Akan kuberi pelajaran dia." Cleo kembali tersenyum. "Oh, iya, aku hampir lupa! Ini ambillah!" Vincent menyodorkan amplop putih padanya.
"Apa ini, Pa?" tanya Cleo.
"Buka saja!" Cleo membukanya, dan betapa terkejutnya Cleo saat menemukan tiket pesawat atas namanya dan Andreas untuk tujuan Bali.
"Ini ....?"
"Iya, itu tiket honeymoon! Kalian harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua." jawab Vincent.
"Tapi itu nggak mungkin, Pa. Jadwalku lagi banyak banget. Aku nggak mungkin cuti." ujarnya.
"Tidak ada penolakkan. Masalah jadwalmu, aku sudah mengatur semuanya. Kalian akan cuti selama tiga hari." jelasnya.
"Apa dia mau?" tanya Cleo.
"Dia pasti setuju." Vincent sangat yakin.
"Sayang, mama mohon!" Andreas saat ini sedang bersama Jasmine.
"Mama boleh minta apapun, asalkan jangan itu." Andreas menolak keinginan orangtuanya agar mereka pergi honeymoon.
"Tapi, itu yang mama inginkan. Mama mau melihat kalian bahagia. Dengan begitu kalian akan saling mengenal." bujuknya.
"Tapi, Ma ....? Aku sibuk! Aku lagi banyak pasien." elaknya.
"Papamu sudah mengatur semuanya. Hanya tiga hari. Kalian berlibur hanya tiga hari. Anggap saja ini permintaan terkahir mama." ujarnya lagi.
"Mama ngomong apa?" Andreas berdiri dan memeluk ibunya. "Baiklah! Aku akan ikuti kemauan mama." Jasmine tersenyum dan memeluknya.
" Terima kasih, Sayang." ucap Jasmine.
πππ
"Ternyata aku tidak salah memilihmu sebagai *B*rand Ambassador." ujar Sandra pada Kiano.
"Apa kita sudah selesai?" tanya Kian.
"Tentu saja! Kau mau kemana?" Sandra mendekap kedua tangannya.
"Apa kau ingin menemui Cleo?" tanya Sandra.
"Kau tahu aja." jawabnya. "Apa kau mau ikut?" ajaknya.
"Tidak. Aku masih ada pekerjaan." jawab Sandra.
"Maaf, Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda." ucap Asisten Sandra yang tiba-tiba datang.
"Siapa?" tanya Sandra.
"Nyonya Aisyah." raut wajahnya seketika berubah.
"Ada apa?" tanya Kiano yang menyadari perubahan pada Sandra.
"Hmm, bukan apa-apa." jawabnya.
"Baiklah, aku jalan dulu." Kaino melambaikan tangan padanya. Sandra berjalan menuju ruangannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Sandra begitu bertemu Aisyah.
"Apa kabarmu?" tanya Aisyah.
"Baik. Langsung aja!" jawabnya.
"Aku kesini untuk bertanya mengenai lowongam kerja." jawabnya.
"Untuk siapa?" sebenarnya Sandra sudah bisa menebak, tapi dia ingin mendengar langsung dari mulut ibu sambungnya itu.
"Nayla!" jawabnya. Sandra tersenyum sinis.
"Kenapa bukan dia yang datang menemuiku?" tanya Sandra.
"Dia ...." Aisyah kebingungan.
"Apa dia masih kabur?" Aisyah terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana kau ....?"
"Jika dia ingin pekerjaan, maka dia harus datang padaku." Sandra membuka dokumen yang ada di mejanya. "Jika tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan, silahkan keluar. Aku sibuk!" ucap Sandra tanpa menoleh pada Aisyah. Aisyah keluar dengan wajah memerah.
"Dasar sombong!" makinya begitu sudah di luar. Sandra hanya melihatnya dari sudut matanya.
πππ
"Cleo!!" Cleo menghentikan langkahnya. Dan Kaino berlari kecil menuju ke arahnya.
"Kenapa kau disini?" tanya Cleo begitu Kian sampai dihadapannya.
"Aku sengaja ingin menjemputmu." jawab Kian.
"Aku bisa pulang sendiri." jawab Cleo.
"Nggak apa-apa." Kiano tersenyum dibalik maskernya.
"Mau sampai kapan kau menutupinya dariku?" tanya Cleo saat melihat Kiano yang menggunakan masker, topi dan kacamata hitam.
"Maksudmu?" tanya Kian.
"Aku baru tahu kalau ternyata kau artis terkenal." jawabnya, Kiano terdiam. "Apa kau sengaja mengerjaiku?" tanyanya.
"Tidak." jawabnya cepat.
"Lalu?" tanya Cleo.
"Kau tidak pernah bertanya mengenai pekerjaanku." Cleo baru menyadari kalau dia memang tidak pernah menanyakan apapun mengenai Kiano. "Aku memakai supaya tidak menimbulkan kegaduhan." Kiano memegang maskernya. Cleo teresnyum sendiri. Dia pikir Kian sengaja membohonginya.
"Maaf, aku nggak tahu!" ucap Cleo.
"Apa itu Kiano Devandra?" tanya Yuda saat melihat Cleo bersama dengan seorang pria yang menggunakan topi dan masker. Andreas mengikuti ibu jari Yuda. Matanya membesar saat melihat Cleo bersama dengan Kiano.
"Brengsek! Apa yang dia lakukan disini?" batin Andreas.
"Wah, ternyata Cleopatra benar-benar beruntung. Bukankah begitu?" Yuda menoleh, tapi doanterkejut saat Andreas sudah tidak ada disebelahnya. Dan yang membuatnya semakin kaget, Andreas menuju ke arah Cleo dan Kiano.
"Mau apa dia?" Yuda kebingungan.
"Jadi, apa kita akan tetap disini?" tanya Kiano.
"Aku ...."
"Mau berapa lama kalian berbicang?" mereka terkejut karena Andreas tiba-tiba muncul.
"Apa yang kau ...."
"Ayo, pergi!" Andreas mencengkram tangan Cleo.
"Tunggu dulu!" Kiano juga mencengkram tangan kiri Cleo. Wanita itu terlihat bingung. Andreas menatap tajam padanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Aku sedang berbicara dengannya." jawab Kiano.
"Dia harus ikut denganku." ucap Andreas, mereka membuat Cleo tertaril kesana-kemari.
"Apa yang mereka lakukan?" Yuda semakin tidak mengerti. Terlebih pada sikpa Andreas.
"Cukup! Lepaskan aku!" Cleo berteriak. Mereka segera melepaskan tangannya. "Apa yang kalian lakukan?" Cleo melihat kesana-kemari. Dia takut memancing keributan, untung saja tidak ada orang lain kecuali mereka.
"Ayo, Cle! Kita pulang saja! Aku akan mengantarmu!" ucap Kiano.
"Kau tidak akan kemana-mana." ucap Andreas. Dia menatap tajam pada Cleo.
"Maafkan aku, Kian!" Cleo menunduk.
"Kau tidak berhak melakukan ini pada bawahanmu." Kiano sangat kesal.
"Aku berhak melakuka apapun padanya. Karena dia itu ...."
"Ayo, kita pergi, Dok!" Cleo memotong pembicaraannya. "Kian, lain kali aja ya!Aku ada sedikit urusan dengan dokter Cassano." wajah Kiano memerah. "Ayo, Dok!" Cleo menarik Andreas dari sana. Andreas tersenyum sinis pada Kiano.
~tbc
__ADS_1