
"Apa yang telah kulakukan?" Andreas menarik kasar rambutnya. Dia mengutuk apa yang baru saja terjadi. "Kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu." ucapnya. Dia masih duduk diatas tempat tidur, dia tidak tahu apa yang saat ini Cleo lakukan. Andreas belum sanggup keluar untuk menemuinya.
Sementara itu, Cleo terus saja menangis di dalam kamar mandi. Dia membersihkan seluruh tubuhnya, mengusap kasar bibirnya.
"Dasar bule cabul! Berani-beraninya dia melakukan ini padaku." matanya sudah sembab karena terlalu banyak menangis. Sudah jam 23.30 wib, tapi dia masih saja bertahan di kamar mandi. Dia tidak ingin keluar dan bertemu dengan Andreas. Karena disana hanya ada satu kamar, dan semua barangnya berada di kamar itu.
Andreas keluar dan mencari keberadaan Cleo. Dia mengitari seluruh ruangan tapi tidak tampak keberadaan wanita itu. Samar-samar Andreas mendengar suara air dari kamar mandi yang ada di dekat dapur. Andreas berjalan dan mempertajam pendengarannya. Dia yakin Cleo ada disana.
"TOK TOK TOK." dia mengetuk pintu kamar mandi itu. "Keluarlah! Mau sampai kapan kau di dalam sana." ucapnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban. "Cleo!!" untuk pertama kalinya dia memanggil nama Cleo. "Aku bilang keluar!" teriaknya. Tapi, tetap saja Cleo tidak meresponnya. "Kalau kau tidak keluar, maka jangan salahkan aku, jika masuk secara paksa." ancamnya, tapi tetap sama. Andreas mulai khawatir, dia takut Cleo melakukan hal bodoh dengan menyakiti dirinya.
Kepanikannya membuat Andreas medobrak pintu itu. Dalam tiga kali percobaan, akhirnya Andreas berhasil membukanya. Wajah Andreas memutih saat melihat Cleo terbaring di lantai kamar mandi dengan shower yang masih menyala. Wajahnya terlihat pucat, dan bibirnya membiru, pakaiannya basah.
Dengan cepat dia menyambar handuk yang tergantung dan membungkus tubuh Cleo. Setelah itu dia mengendong Cleo menuju kamar. Dia meraba nadi dan memperhatikan gerakan dadanya. Andreas tidak dapat membuka koper milik Cleo, karena dia tidak tahu passwordnya. Dengan cepat dia mengambil baju kaos miliknya. Kemudian bergegas menuju ke tempat Cleo terbaring.
"Apa yang harus kulakukan?" Andreas terlihat bingung saat akan menganti pakaian Cleo. "Tidak ada yang salah, dia istriku." setelah yakin, Andreas segera membuka kaos Cleo yang basah. Dengan hati-hati dia melepaskan kaos itu dari tubuhnya. Matanya tertegun saat melihat kemolekan tubuh Cleo, tapi dengan cepat dia membuang jauh-jauh pikiran nakal itu dari kepalanya.
Setelah kaos dan penutup dada Cleo lepas, dia mengeringkan tubuh itu dengan hati-hati. Kemudian segera memasangnya dengan baju tadi. "Aku sudah biasa melihat seperti ini. Aku pasti bisa." ucapnya saat berusaha menganti pakaian dalam Cleo. Walaupun dia berkata seperti itu, tapi tetap saja dia mengantinya di dalam selimut. Setelah itu, dia membiarkan selimut itu menutupi tubuh Cleo. "Aku bisa gila!" Andreas berlari keluar kamar. Dia mencoba menghirup udara segar, karena di dalam terasa panas.
"Kenapa denganku? Aku punya hak atas dirinya. Kenapa juga aku harus ragu?" dia berjalan mondar-mandir di depan kamar. Sesekali dia melihat Cleo yang masih terbaring disana. Andreas kembali masuk dan duduk disisi Cleo. "Panas." ucapnya saat meraba dahi Cleo. Dengan sigap dia menghubungi pelayan hotel dan minta dibawakan baskom dan handuk kecil.
"Baru begitu saja kau sudah seperti ini. Bagaimana kalau aku benar-benar melakukan itu padamu? Dasar tikus kecil!" dia terus mengompres dahi Cleo.
πππ
"Ada apa denganmu?" Omar kaget saat mendapati Kiano yang terkapar di lantai kamarnya. "Ayo, biar kubantu!" Omar membantunya berdiri, dengan susah payah dia berhasil membaringkannya di sofa. "Apa yang terjadi padamu?" tanya Omar yang duduk di dekat Kiano. Pria itu hanya menatap kosong ke depan.
"Dia sudah menikah! Pria brengsek itu ternyata suaminya." ucapnya pelan.
"Siapa?" tanya Omar.
__ADS_1
"Cleo!" jawabnya jujur.
"Cleo? Siapa Cleo?" Omar baru pertama kali mendengar nama itu.
"Aku mencintainya! Sejak dulu aku sangat mencintainya. Tapi, kenapa dia malah menikah dengan si brengsek itu?" Kiano menunjuk-nunjuk ke arah depan.
"Jika dia sudah menikah kau bisa apa?" jawab Omar.
"Aku tidak akan melepaskanya begitu saja. Dia harus menjadi milikku." racaunya.
"Istirahatlah!" ujar Omar.
"Kau harus membantuku. Bawa Cleo padaku. Aku ingin Cleoku!" dia kembali meracau.
"Ok ..., Ok ...., aku akan membawakannya untukmu." perlahan Kiano menutup matanya. Omar menatap iba padanya. Sejak menjadi artis, Kiano belum pernah berhubungan dengan siapapun. Dia bahkan selalu menolak jika ada yang memintanya untuk melakukan kencan bohongan untuk mendongkrak pamor mereka. Kiano berpegang teguh pada pendiriannya. Dia tidak ingin menjalin hubungan asmara dengan siapapun karena dia masih menunggu cinta pertamanya.
"Kasihan sekali dirimu. Kau bahkan sudah kalah sebelum berjuang." ujar Omar. Setelah Kiano terlelap, Omar keluar dari kamar hotel.
Cleo terbangun saat merasakan sinar mentari yang masuk melalui kaca jendela yang tirainya tidak tertutup. Perlahan dia membuka matanya dan menatap sekeliling. Dia sadar bahwa saat ini dia berada di kamar. Cleo memegang dahinya karena merasa ada sesuatu yang menempel disana. Benar saja, dia mendapati handuk bekas kompresan yang sudah mengering. Saat menoleh ke samping, dia mendapati Andreas tertidur pulas di atas sofa.
"Kenapa denganku?" seingatnya, dia berada di kamar mandi. Saat itu dia begitu marah dengan apa yang terjadi padanya. Cleo kembali menatap Andreas. Andreas benar-benar tertidur, semalaman dia bergadang menjaga Cleo. Cleo berusaha bangun, matanya tertegun saat melihat baju yang dia kenakan.
"Ini bukan bajuku." Cleo memperhatikan lebih seksama, kemudian dia mengangkat selimut dan .... "Aagggghhhh!!!" Andreas yang kaget jatuh dari sofa.
"Apa???Ada apa???" tanyanya saat mendapati Cleo histeris.
"Apa yang kau lakukan padaku?Dasar cabul!!"
"BRUK!!" sebuah bantal mendarat tepat di wajah Andreas.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.
"Beraninya kau mengambil kesempatan saat aku tidak berdaya." saat Cleo akan melemparkan bantal, Andreas terlrbih dahulu menangkapnya. "Lepas!!" pekik Cleo.
"DIIAAMM!!" Andreas membungkam teriakan Cleo. "Harusnya kau berterima kasih padaku. Susah payah aku merawatmu. Ini balasan yang kudapatkan?" Cleo temenung.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Coba kau ingat apa yang terjadi semalam? Jika aku tidak mendobrak pintu kamar mandi itu, mungkin saat ini kau sudah ada di kamar jenazah." kejadian kemarin melintas di benak Cleo. Dia ingat saat itu dia sedang menangis dibawah guyuran air. Setelah itu, dia tidak tahu apa yang terjadi. "Sudah ingat?" Cleo mengangkat kepalanya dan menatap Andreas. "Makanya pikir dulu sebelum bertindak." Andreas menyentuh dahi Cleo dengan telunjuknya. "Menganggu tidurku saja." setelah berkata seperti itu, Andreas berjalan keluar.
"Lalu, siapa yang menganti pakaianku?" Cleo mengejar Andreas hingga ke ruang tv. "Dan baju siapa ini?" tanyanya.
"Bajuku!" Andreas kembali berbaring do sofa.
"Apa???Jadi kau yang menganti bajuku?" Cleo menutupi dadanya.
"Untuk apa aku melakukannya disaat banyak pelayan wanita di sini?" Andreas membalikkan badannya, dia tidak mau terus-terusan menatap Cleo yang berdiri di hadapannya. Mungkin wanita itu belum sadar, kalau saat ini dia hanya menggunakan kaos yang panjangnya hanya sampai pahanya saja.
"Benarkah? Kau tidak bohongkan?" Cleo menguncang-guncang bahu Andreas.
"Untuk apa aku membohongimu? Minggarlah! Aku mau tidur." usirnya.
"Jelaskan padaku!" paksanya.
"Pergilah, sebelum aku melakukan sesuatu padamu." Andreas menyingkiran tangan Cleo yang masih di bahunya.
"Apa maksudmu?" Cleo belum paham, Andreas berbalik dan duduk. Di menatap mat Cleo, kemudian dengan sengaja menurunkan pandangannya ke bawah. Cleo mengikuti arah pandangnya.
"Aagghhhhh!!!!!" teriaknya. "Dasar bule cabulllll!!!" Cleo segera berlari ke kamar dan menutup pintu dengan keras. Andreas cekikikan sendiri melihat tingkah polos Cleo.
__ADS_1
~tbc