CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 48


__ADS_3

"Sial." Andreas sampai di Rumah Sakit. Dia terpaksa naik taksi karena mobilnya harus di derek ke bengkel.


"Kenapa lagi?" tanya Yuda saat Andreas bergabung dengannya. Bukannya menjawab, Andreas malah berjalan menuju dispenser dan segera meneguk segelas air.


"Hidupku bakalan hancur." jawabnya.


"Maksudmu?" Andreas duduk di sampingnya. Dia menyandarkan kepalanya di sofa. "Ada masalah apa?" tanya Yuda.


"Sebentar lagi hidupku akan berubah menjadi neraka." Yuda menatapnya.


"Gimana bisa?" Andreas tidak mengatakan apapun. Dia memilih untuk bungkam. Pintu ruangan terbuka, tampak Olive bergabung bersama mereka.


"Kenapa?" tanyanya pada Yuda, saat melihat Andreas yang sedang menutup mata.


"Entahlah!" jawabnya.


"Apa besok kalian ada acara?" tanya Olive.


"Aku dinas malam." jawab Yuda, Andreas masih tidak mengatakan apapun.


"Bagaimana denganmu?" Olive bertanya padanya.


"Memangnya kenapa?" Andreas kembali duduk.


"Party, Yuk! Udah lama juga kita nggak senang-senang." ajaknya. Olive memang terkenal suka kehidupan malam. Biasanya dia selalu pergi bersama Andreas dan Yuda, juga beberapa teman mereka lainnya.


"Boleh." mendengar Andreas setuju, Olive langsung tersenyum. Ponsel Andreas berdering. Setelah menjawab panggilan itu, dia segera berdiri.


"Mau kemana?" tanya Olive.


"Ada pasien." dia segera keluar dari ruangan itu.


"Kenapa dengannya?" tanya Olive lagi.


"Aku juga nggak tahu. Sepertinya dia lagi ada masalah." jawab Yuda.


"Masalah apa?" tanyanya lagi. Olive yang memang sudah lama menyukai Andreas, selalu mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya.


"Aku'kan sudah bilang nggak tahu. Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya bilang kalau mulai saat ini hidupnya akan seperti di neraka." Olive terlihat berpikir, Yuda berdiri.


"Mau kemana?" tanya Olive.


"Toilet." Yuda berjalan menuju satu-satunya toilet di ruangan itu.


"Masalah apa yang sedang dia hadapi?" Olive mengambil ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya.


"Hubungi aku jika ada masalah." pesan Andreas sebelum keluar dari ruangan pasien.


"Baik, Dok." jawab perawat yang bertugas.


"Dok, bukankah hari ini anda tidak ada jaga malam?" tanya Desmi.


"Aku mengantikan dokter Malik." jawabnya. "Kalau ada pasien hubungi aku." setelah berpesan seperti itu, dia segera meninggalkan nurse station.


"Untung ini hari libur dokter Cleo. Kalau tidak, aku rasa departemen ini akan terbakar." ucap Zia.


"Lanjutkan saja tugasmu." ucap Desmi sebagai kepala ruangan.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Pagi semua." sapa Cleo pada petufas yang dinas malam.


"Pagi, Dok." jawab Desmi.


"Apa Raka sudah datang?" tanya Cleo.

__ADS_1


"Belum, Dok." jawab Zia. Setelah selesai tukaran dinas, Cleo mulai memeriksa status pasien.


"Jadi yang piket semalam dokter Cassano?" tanya Cleo.


"Benar, Dok." jawab Zia.


"Maaf aku telat!" ucap Raka dengan napas terengah-engah. "Apa dokter Casaano sudah datang?" Cleo menggeleng.


"Dia abis jaga malam." jawab Cleo.


"Huft!! Syukurlah!" Raka berjalan menuju ruang ganti.


"Kami duluan ya, Dok." ucap Zia dan yabg lain.


"Hati-hati." jawab Raka yang baru keluar. Raka bergabung dengan Luna, dia mulai memeriksa status pasien baru dan lama.


"Pasien malam sebanyak ini?" Raka melihat pasien yang masuk semalam sebanyak 15 orang. "Apa dokter Cassano bekerja sendiri?" tanyanya.


"Apa menurutmu dokter kandungan hanya dia sendiri? jawab Luna.


"Cantik, aku'kan hanya bertanya. Kenapa sewot sih?" godanya.


"Pagi." mereka menoleh dan melihat Malik berdiri di depan mereka.


"Pagi, Dok." jawab mereka.


"Kita visite sekarang?" ajaknya, Cleo dan Raka berdiri, mereka menemani Malik menuju ruang rawat pasien-pasiennya.


"Kapan kamu akan bergabung dengan kami? Menurutku kamu akan menjadi spesialis kandungan terbaik." Malik memberikan pujian pada Cleo.


"Saya saja masih magang, Dok. Tunggu magang ini selesai, maka saya bisa bergabung dengan anda." jawab Cleo.


"Aku sudah tidak sabar menanti hari itu." Malik tersenyum padanya.


"Bagaimana dengan saya?" tanya Raka.


"Anda tidak adil, Dok. Kenapa anda hanya mengharapkan dokter Cleo saja? Padahal saya yang lebih dulu menemani hari-hari anda." Malik kembali tertawa, Cleo hanya tersenyum mendengar keluhannya.


"Karena dia sangat cantik. Jika dia ada dalam timku, maka aku bisa semakin bersemangat." Cleo tersipu, sementara Raka memanyunkan bibirnya.


"Kalau begitu, kamu pinjam baju dokter Cleo saja. Kali saja dengan begitu kamu bisa terlihat cantik." timpal Luna.


"Jika itu terjadi, maka dia akan langsung ku depak dari sini." mereka semua tertawa. Malik memang termasuk dokter yang menyenangkan. Jika dia yang dinas semua karyawan tampak senang. Berbeda dengan Andreas. Sikapnya sangat dingin, walau terkadang dia juga tak kalah ramah.


"Apa masih ada lagi?" tanyanya.


"Abis, Dok." Cleo menerima status pasien yang terakhir.


"Kalau ada pasien, hubungi ke ruang praktekku saja." Malik berdiri.


"Baik, Dok." setelah itu dia pergi menuju ruang prakteknya yang ada di lantai 2.


"Dok, besok libur ya?" tanya Luna.


"Iya." jawabnya.


"Loh, bukannya kamu besok masih dinas?" tanya Raka.


"Aku ada urusan keluarga. Jadi, aku minta tolong Bella buat gantiin." jelasnya.


"Oh, ok!" Raka berjalan menuju ruangan pasien.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kenapa hanya akad nikah seperti ini sih, Non?" bi Ita keberatan dengan pernikahannya yang sederhana.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bi." jawabnya. Cleo sedang didandani layaknya pengantin pada umumnya.


"Tapi, tuan sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk pernikahan nona." bi Ita duduk di sofa yang ada di kamar itu. Akad nikah Cleo dan Andreas diadakan di rumah Vincent. Vincent menyulap rumahnya yang besar menjadi acara akad nikah mereka. Tidak ada teman atau sahabat yang diundang. Hanya keluarga inti saja. Seperti permintaan Andreas.


"Wah, cantik sekali menantu mama." Jasmine datang dan langsung terkesima melihat Cleo yang sudah siap dengan kebaya dan make up-nya. "Apa sudah selesai?" tanyanya pada make up artis.


"Sudah, Nyonya." jawab wanita berhijab itu.


"Ayo, sayang! Penghulunya sudah datang." Jasmine membantunya berdiri. Bi Ita memegang tangan Cleo. Mereka berjalsn menuruni anak tangga. Vincent tersenyum bahagia melihat Cleo, sementara Andreas terpana melihat kecantikannya.


"Pengantin wanitanya sudah tiba, Pak." ucap Vincent pada penghulu. Jasmine dan bi Ita membantu Cleo duduk disebelah Andreas.


"Apa sudah bisa kita mulai?" tanya penghulu pada semua yang hadir.


"Silahkan, Pak." jawab Vincent. Penghulu memulai proses akad nikah. Karena Cleo tidak memiliki paman yang bisa mengantikan almarhum Adam, maka diwakilkan oleh wali hakim.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Cleopatra Zevaniya binti Adam Winata dengan mas kawin 100 gram cincin emas di bayar tunai." ucap Andreas.


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.


"Sah." jawab mereka. Setelah penghulu membacakan doa, Cleo diminta untuk mencium tangan Andreas. Wajah Andreas terlihat begitu dingin, saat dia diminta untuk mencium dahi Cleo.


"Selamat sayang! Akhirnya kamu menjadi putriku juga." Jasmine memeluk Cleo dengan rasa sayang. Vincent bahagia melihatnya.


Dari awal Jasmine memang berharap punya seorang putri. Tapi, penyakit yang dia derita membuatnya semua keinginannya pudar. Mereka beruntung karena masih bisa memiliki Andreas. Saat tahu bahwa mereka akan menjodohkan Andreas dan Cleo, Jasmine begitu antusias. Cleo kemudian menyalam Vincent.


"Mulai sekarang aku adalah papamu." Vincent mengusap lembut kepalanya.


"Mereka begitu memanjakannya. Membuatnya makin besar kepala saja." Andreas sangat kesal melihat kebersamaan mereka.


πŸ€πŸ€πŸ€


Dan, disinilah Cleo saat ini. Dia berada di kamar Andreas yang sudah disulap menjadi kamar pengantin. Tampak bunga bertaburan diatas tempat tidur. Cleo melihat ke sekeliling. Dia berjalan menuju koper miliknya dan mengambil piyama miliknya. Setelah itu Cleo berjalan menuju kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan di dalam?" Andreas mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali.


"Apa yang harus kulakukan?" Cleo terlihat bingung. Dia sudah mengenakan piyamanya, tapi dia ragu untuk keluar. Biar bagaimanapun dia sadar bahwa saat ini dia sudah menjadi seorang istri. "Apa kau mau selamanya disana?" Andreas kembali mengetuk pintu itu.


"KLEK." Pintu terbuka dan tampak Cleo keluar dengan kepala yang terbungkus handuk.


"Minggir!!" Andreas mendorongnya, lalu menutup pintu dengan kuat. Cleo berjalan menuju kaca besar yang ada di kamar itu. Dia memegang hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya.


"Apa tidak bisa kau matikan benda itu?" tanya Andreas yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Cleo memalingkan wajahnya, jantungnya berdebar hebat. Ini pertama kalinya dia satu kamar dengan pria asing. Andreas masuk ke walk in closet miliknya.


"Aku harus tidur dimana?" Cleo terlihat bingung.


"Kau tidur di bawah." ucapnya.


"Aku?" tanyanya.


"Ini kamarku, kau tidak ada pilihan. Jika mau, kau bisa tidur di kamar tamu." Andreas menarik selimut dan mulai menyelimuti tubuhnya.


"Lebih baik aku tidur di sofa." Cleo tidak menemukan sesuatu yang bisa di jadikan alas untuk dia tidur.


"Ah, letihnya!" ucapnya sambil berbaring. Terdengar dering ponsel dari nakas yang ada di sisi Andreas.


"Hallo!" ucapnya.


"Apa aku menganggumu?" tanya Cantika.


"Tidak. Kamu sedang apa?" tanya Andreas lembut.


"Aku baru melihat panggilanmu. Ada apa?" sebelum akad tadi, Andreas menyempatkan untuk menghubungi Cantika. Dia ingin memastikan lagi perasaan Cantika padanya. Jika Cantika menerimanya, maka dia akan membatalkan pernikahan ini.


"Tidak ada, aku hanya ingin tahu kabarmu." jawabnya, Andreas duduk dan melihat ke arah Cleo yang sedang berbaring membelakanginya. Mereka terus berbicara melalui panggilan telepon, bahkan sesekali terdengar tawa Andreas.

__ADS_1


"Jadi, dia sudah mempunyai kekasih?" sejak tadi Cleo mendengar pembicaraan Andreas. "Lalu, untuk apa dia bersedia menikah denganku?" Cleo bingung.


~tbc


__ADS_2