
"Kenapa dia disini?" Andreas menatap tajam ke arah Vincent.
"Cleo, duduklah dulu!" ucap Jasmine, Andreas menoleh padanya.
"Mama mengenalnya?" tanyanya. Jasmine mengangguk. Hanya tersisa kursi di sebelah Andreas, dengan terpaksa Cleo duduk di sebelahnya.
"Kalian sudah saling mengenal, bukan?" Vincent menatap mereka bergantian. "Jadi, Cleo Andreas ini adalah putraku." Cleo terkejut bukan main. "Dan, kau, Cleo ini adalah wanita yang kami pilih untuk menjadi calon istrimu." begitupun dengan Andreas, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Papa jangan bercanda! Gimana mungkin aku bisa hidup dengan wanita sepertinya." wajah Cleo memerah.
"And!! Jaga bicaramu!" Jasmine memarahinya. "Cleo, maafkan dia ya! Kamu jangan ambil hati ucapannya." Jasmine memegang tangannya.
"Tidak apa-apa, Tan." dia tersenyum.
"Kami tidak ingin mendengar alasan apapun. Kami sudah mengatur semuanya. Jadi, secepatnya kalian akan menikah." Andreas tersedak air yang sedang dia minum. Sementara, Cleo tampak lebih tenang.
"Hey! Gimana bisa kau tenang seperti itu? Apa kau menyetujui pernikahan ini?" tanyanya.
"And!! Bicaralah baik-baik pada calon istrimu." Jasmine kembali mengingatkannya.
"Ma, aku nggak tahu pengaruh apa yang sudah dia berikan pada kalian. Tapi, dia ini nggak sebaik kelihatannya. Dia sangat kasar dan juga menyebalkan." dia mengadu seperti anak kecil pada sang ibu.
"Cleo tidak melakukan apapun pada kami. Kami yang memintanya untuk menikah denganmu." Vincent yang berbicara. Cleo tetap diam dan mendengarkan semua ocehan Andreas tentangnya.
"Apa? Yang benar saja?" Andreas menoleh padanya. "Apa itu lezat?" tanyanya saat melihat Cleo malah asyik menyantap steak yang ada dipiringnya.
"Iya. Kau mau?" Cleo menyodorkan daging yang ada di garpu miliknya. Jasmine tersenyum kecil, melihat putranya mendapat perlakukan seperti itu.
"Kauu!! Apa kau sama sekali tidak terganggu dengan semua ini?" ingin rasanya Andreas menarik Cleo dari sana.
"Kenapa aku harus terganggu? Hanya kau yang menciptakan keributan." Cleo menyuap daging itu ke mulutnya. Sementara Andreas terlihat sangat kesal.
"Jadi, kau menerima perjodohan ini?" tanyanya.
"Ya." Cleo langsung menjawab tanpa berpikir lagi.
"Kau yakin?" tanyanya.
"Tentu saja." Cleo tidak akan mundur. Sebelum Adam meninggal, dia sudah berjanji pada Almarhum ayahnya untuk menikah dengan pria pilihan sang ayah. Jadi apapun itu, dia harus melaksanakan janjinya agar Adam bisa tenang.
"Cleo sudah setuju, bagaimana denganmu?" mereka menoleh padanya. Jasmine menatapnya dengan penuh harap.
"Terserah kalian saja." ucapnya. Jasmine tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Baiklah! Kami akan mengatur pernikahan kalian." ujar Vincent.
"Tidak akan ada acara mewah. Kami hanya menikah di depan penghulu. Dan, tidak perlu mengundang siapapun. Pernikahan ini hanya dihadiri oleh keluarga saja." keceriaan itu seketika hilang dari wajah Vincent.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Kalau ayah ingin aku menikahinya, maka itulah syarat dariku." ucapnya. Vincent terdiam, kemudian dia menoleh pada Cleo.
"Baik, aku setuju!" jawab Cleo tanpa ragu.
"Walaupun, pernikahan ini tanpa pesta mewah. Tapi, tetap harus terdaftar di mata hukum." ucap Vincent, Andreas menoleh padanya. "Ok?" Vincent melakukan ini agar Andreas tidak bisa semena-mena pada Cleo. Andreas kembali menatap ke arah Jasmine.
"Ok." sang ibu kembali bernapa lega.
"Mama nggak sabar untuk segera membawamu ke rumah." Jasmine memeluk Cleo dengan penuh kasih. "Mama pulang dulu!" Jasmine melepaskan pelukannya, dia memeluk Andreas. "Percayalah, dia wanita terbaik untukmu." bisiknya di telinga sang putra. Andreas hanya diam, dia sendiri masih bingung dengan situasi saat ini.
"Mau kemana kau?" tanyanya saat melihat Cleo memegang tasnya.
"Pulang!" jawabnya.
"Kita harus bicara." Andreas mencengkram tangannya. Cleo kembali duduk, kali ini mereka duduk berhadapan.
"Kau yakin dengan perjodohan ini?" tanyanya lagi. "Aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi, apa yang kau dapatkan dengan semua ini?" Andreas menatap tajam ke arahnya. Cleo tidak mengatakan apapun. Dia tidak mungkin membatalkan semuanya.
"Hallo?" suaranya terdengar lembut saat menjawab telepon itu.
"Dre, kamu dimana?" tanya Cantika.
"Ada apa?" Andreas menatap Cleo.
"Kita bisa bertemu?" tanyanya.
"Kamu dimana?" Andreas bisa mendengar suara musik berdentum keras. "Tunggu aku!!" dia bergegas meraih kunci mobilnya. Dia meninggalkan Cleo tanpa mengatakan apapun dia. Wajahnya terlihat panik.
"Ok, Cleo! Saatnya untuk pulang!" Cleo berbicara pada dirinya sendiri. Dia berjalan keluar dari restoran itu. Cleo memesan taksi yang melintas di depannya. Mobil yang dia kendarai tiba-tiba mogok, itu sebabnya dia terlambat datang ke acara makan malam itu.
πππ
Andreas tiba di Club malam tempat Cantika berada. Dia mencoba mencari Cantika di lantai 1, tapi wanita itu tidak terlihat disana. Dia menaiki anak tangga dan menyusuri sekeliling. Tampak olehnya wanita yang dia kenal sedang mengoyang-goyangkan tubuhnya. Di dekatnya ada, seorang pria yang terus saja memperhatikan liukan tubuhnya. Sebelum pria itu merangkul tubuhnya, Andreas lebih dulu mencengkram tangan pria itu.
"Mau apa kau?" mata Andreas memancarkan kemarahan.
"Sorry, gue pikir dia sendiri." pria tadi segera pergi dari sana.
__ADS_1
"Andre!! Kau baru datang? Dimana Al?" Cantika yang sedang mabuk celingak-celinguk. Dia bahkan tidak mampu berdiri tegak. Tubuhnya terhuyung kesana-kemari. Andreas menangkapnya sebelum doa menabrak meja yang ada di sampingnya.
"Ayo, kita pulang!" Andreas membantunya berjalan.
"Dimana Al? Aku ingin bersamanya." Cantika merengek-rengek padanya. Andreas tidak mempedulikan rengekannya, dia terus menuntunnya menuruni anak tangga. Dengan susah payah dia berhasil membawa Cantika ke mobilnya. Andreas memasang seatbelt padanya. "Dre, aku ingin bersama Al! Bawa aku padanya." Cantika terus saja meracau. Mobil Andreas meninggalkan club malam itu.
"Non, mobilnya mana?" tanya bi Ita saat tidak melihat mobilnya.
"Mogok, Bi! Tapi, udah dibawa sama orang bengkel." jelasnya, Cleo masuk dan duduk di ruang tv.
"Gimana hasilnya?" bi Ita sudah tahu semuanya.
"Takdir sedang mempermainkankku, Bi." Cleo menyandarkan kepalanya di sofa.
"Maksudnya?" bi Ita duduk di sebelahnya.
"Pria itu adalah manusia terakhir yang ingin ketemui di bumi ini." jawabnya.
"Bibi nggak ngerti, Non? Apa nona tidak menyukainya?" tanyanya.
"Itu bukan masalah lagi, Bi. Aku hanya ingin menjalankan amanat ayah." ucapnya.
Bi Ita menatap iba padanya. Seharusnya, Cleo bisa memilih pria seperti apa yang akan menjadi pasangannya. Tapi, karena janji yang dia buat pada Adam, dia harus merelakan semuanya.
"Aku ke kamar dulu, Bi!" dia berjalan menuju anak tangga.
"Aku nggak peduli dia menyukaiku atau tidak. Yang aku inginkan adalah ayah bahagia." Cleo melemparkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Ayo!" Andreas membantu Cantika memasuki apartemennya.
"Aku mau Al! Bawakan dia padaku! Kau adalah sahabatku bukan? Ayo, bawakan Al untukku. Aku nggak rela jika dia bersama wanita itu." Cantika terus saja meracau. Andreas membaringkan dia di tempat tidur.
"Sebaiknya kau istirahat! Kau sudah terlalu mabuk." ucapnya sambil menyelimuti tubuhnya.
"Dre, katakan pada Al, aku sangat mencintainya." Cantika mencengkram tangan Andreas.
"Sudah, istirahatlah!" ucapnya lembut.
"Tetaplah disini! Temani aku!" pintanya dengan wajah memelas. Andreas duduk disisinya. Dia membelai lembut kepala Cantika dan terus saja menatapi wajah cantiknya.
"Aku disini! Ada aku yang selalu mencintaimu. Kenapa kau selalu mengejar Al? Dia bukan untukmu! Aku yang selalu mengharapkanmu." bisiknya pada Cantika yang sudah terlelap.
~tbc
__ADS_1