CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 45


__ADS_3

"Aku tidak takut." Cleo mendorongnya. dan bergegas keluar dari ruangan itu.


"Aku tidak akan pernah membuat hidupmu tenang. Salahmu sendiri hadir di dalam hidupku." Andreas kembali berbaring di ruangan yang dikhususkan untuk dokter itu.


"Dok, anda dari mana saja?" tanya Desmi saat melihat Cleo yang baru datang.


"Dokter Casanno memintaku untuk ikut di ruang operasi." jawabnya dengan nada kesal.


"Hah? Kenapa bisa?" Desmi terkejut.


"Dia itu hanya ingin balas dendam padaku." ceplosnya.


"Balas dendam? Memangnya apa yang telah anda lakukan?" Cleo menutup rapat mulutnya.


"Huffttt!!!" mereka dikagetkan dengan kedatangan Raka.


"Loh, kenapa kamu masih disini?" tanya Cleo.


"Apa kalian melihat dokter Casanno?" wajah Raka terlihat merah.


"Dia di OK." jawab Cleo.


"Apa dia masih di dalam ruang operasi?" tanyanya. Cleo menggeleng.


"Tadi di ruang istirahat." Raka berjalan menuju dispenser dan mengisi segelas air. Kemudian dia meneguknya hingga habis. "Kamu kenapa? Bukannya tadi udah pulang?" tanya Cleo.


"Aku bahkan belum sampai di rumah." Raka duduk disebelahnya.


"Hah? Kok bisa? Perasaan udah 2 jam kamu pergi dari sini." Cleo dan Desmi saling pandang.


"Gimana aku bisa pulang, kalau aku harus menjaga mobil dokter Casanno." jawabnya.


"Memang kenapa dengan mobilnya?" tanya Desmi.


"Entah siapa yang punya dendam padanya. Semua ban mobilnya kempes, dan aku yang kena getahnya. Dokter Yuda memintaku untuk menunggu petugas bengkel dan mengawasi mereka bekerja." Cleo menelan ludahnya.


"Benarkah? Siapa yang berani melakukan itu pada putra Direktur." tanpa sengaja Desmi menatap Cleo yang terlihat gugup.


"Dimana mobilku?" Raka terkejut mendengar suara Andreas.


"Masih di basement, Dok." jawabnya.


"Apa semua sudah beres?" tanyanya.


"Sudah, Dok" jawab Raka.


"Bagus! Kirimkan nomor rekeningmu, aku akan mentrasfer biaya perbaikannya." Andreas menatap tajam pada Cleo.


"Baik, Dok." Raka menyerahkan kunci mobilnya.


"Apa anda sudah tahu siapa pelakunya, Dok?" tanya Raka.


"Tentu saja. Itu adalah perbuatan bocah ingusan dan tengil." Andreas masih menatapnya dengan sorot mata yang seolah ingin memakannya.


"Apa anda mengenalnya?" tanya Desmi, dia sudah bisa menebak siapa yang di maksud oleh Andreas.


"Iya." ucapnya.


"Siapa, Dok? Siapa bocah sialan yang membuatku nggak harus bertahan selama dua jam di basement?" Raka ikut menimpali. Dia masih sangat kesal. Harusnya saat ini dia sudah berada dalam dunia mimpi.


"Dia ...."


"Apa kita harus pergi sekarang saja?" potong Cleo sebelum Andreas memberitahu mereka semuanya.

__ADS_1


"Pergi? Kemana?" jawabnya.


"Bukankah tadi anda bilang ada yang ingin dibicarakan denganku?" Cleo berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku tidak ...."


"Sudah! Ayo, kita bicara di taman saja." Cleo menariknya menjauh dari mereka.


"Ada apa dengannya?" Raka terlihat bingung.


"Sejak kapan mereka sedekat itu? Perasaan tadi di OK dokter Cleo jadi bulan-bulanan dokter Casanno." timpal Luna.


"Sejak kapan kalian suka ikut campur urusan orang lain?" sela Desmi, Luna terdiam. "Dan, anda! Kenapa masih disini? Apa anda mau lanjut dinas malam?" tanyanya pada Raka.


"Ah, kepala perawat ada-ada saja. Mana mungkin aku sanggup." Raka meraih ranselnya dan segera berlari dari sana. Desmi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Andreas saat mereka sudah berada di atap. "Apa kau tidak akan melepaskan tanganku?" Cleo tersadar dan langsung membuang tangannya dengan kasar.


"Kau mau apa lagi?" tanya Cleo.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau inginkan?" tanyanya. "Setelah kau mengambil uangku, apa sekarang kau juga akan mengambil mobilku? Apa kau menikah hanya untum menikmati hartaku?" Andreas kembali menyerangnya.


"Cih! Aku nggak butuh hartamu!" jawabnya.


"Kalau begitu, kenapa kau membuang-buang uangku untuk membeli cincin itu?" Andreas kembali membahas perihal cincin tadi.


"Dasar bule pelit! Uang segitu saja kau membahasnya berkali-kali." jawabnya.


"Kalau kau punya uang, kenapa tidak membelinya pakai uangmu sendiri?" keluhnya.


"Itu hukuman untukmu." jawab Cleo.


"Kita kesana untuk membeli cincin pernikahan. Kau sendiri yang menyuruhku untuk memilih cincin. Jadi, dimana letaknya salahku?" Andreas terdiam, dia memang meminta Cleo untuk memilih sendiri.


"Lalu, apa yang kau lakukan pada mobilku?" tanyanya.


"Itu balasan karena kau meninggalkanku begitu saja. Jadi, jangan coba bertindak seperti itu lagi padaku. Aku tidak pernah takut padamu." Cleo berjalan menjauh darinya.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Camkan itu!!" teriak Andreas. Cleo sama sekali tidak mempedulikannya. Dia terus saja berjalan menuju pintu.


"Dasar bocah ingusan. Bisa-bisanya dia mengancamku. Lihat saja pembalasanku nanti." Andreas terlihat begitu kesal.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Setelah ini kita kemana?" tanya Nayla pada teman-temannya.


"Gue harus pulang." jawab salah satu temannya.


"Oh, Ayolah! Hari masih terang begini. Kita harus melanjutkan ronde kedua." Nayla yang sudah terlalu mabuk mulai mempengaruhi teman-temannya.


"Maaf, Nay! Gue harus balik." ucap salah satu dari mereka.


"Gue juga." jawab yang lain.


"Ah, kalian nggak asyik banget sih?" Nayla berjalan terhuyung-huyung menuju mobilnya.


"Nay, lebih baik lo naik taksi deh. Nggak baik nyetir dalam kondisi begini." saran Zia.


"Ah, gue baik-baik aja." Nayla mengibaskan tangan Zia dari mobilnya.


"Lo mabuk, Nay!" Zia kembali mengingatkan.

__ADS_1


"Ah, berisik! Minggir, Lo!" Nayla tetap keras, dia menaiki mobilnya dan mulai melajukan mobil itu keluar dari area parkir club.


"Sudahlah, percuma saja lo mengkhawatirkannya. Lo tahu gimana Nayla." sela yang lain. Zia kembali bergabung dengan rekan-rekannya.


"Punya teman nggak asyik banget. Cemen!" Nayla terus saja meracau di sepanjang jalan.


Mobil yang dia kendarai sudah mulai tidak terarah. Mobil itu sudah mulai keluar dari jalur. Tapi, dia sama sekali tidak menyadarinya. Nayla terus saja menari-nari mengikuti irama musik.


"Iya, ini aku sudah di jalan menuju apartemenmu." Andreas berbicara melalui ponsel dengan Alvaro, sahabatnya. "Sebentar lagi aku sampai." Andreas sejak tadi memperhatikan mobil yang ada di belakangnya. Mobil itu terlihat tidak seimbang, meliuk kesana-kemari. Andreas yang mulai was-was memilih untuk menghentikan mobilnya.


"BRAK." Dan benar saja, tak jauh dari tempatnya berhenti, mobil tadi kehilangan kendali dan menabrak sebuah pohon.


Andreas yang melihat kejadian itu, segera melajukan kembali mobilnya, dan bergegas turun untuk membantu si pengemudi.


"HEY! Apa anda baik-baik saja?" Andreas memukul-mukul jendela si pengemudi. Tapi, mobil itu masih belum terbuka. Andreas yakin pasti terjadi sesuatu pada si pengemudi. Orang-orang mulai berdatangan untuk membantu. Andreas menghubungi ambulance Giant Hospital. Sementara warga berusaha membuka pintu mobil merah itu dengan paksa.


"Ayo, tolong!! Tolong!!" teriak beberapa dari mereka saat berhasil mengeluarkan korban. Andreas mendekat, setelah mengatakan pada warga kalau dia adalah dokter, dia mulai memeriksa kondisi korban.


"Hey, apa kau baik-baik saja?" tanyanya saat melihat wanita itu masih tersadar.


"Kepalaku." ucapnya, Andreas bisa mencium bau alkohol dari mulutnya. Andreas memeriksa luka yang ada padanya. Tampak dia mengalami pendarahan di dahinya. Tak lama ambulance datang, Andreas membantu memindahkannya.


"Pasien dalam keadaan mabuk." ucapnya pada perawat yang bertugas.


"Baik, Dok." jawab mereka. Setelah mereka pergi, Andreas kembali melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Al. Dia berpikir tugasnya sudah selesai. Selanjutnya adalah tugas kepolisian.


"Minggir-minggir!" ucap petugas ambulance. Mereka bergegas melarikan pasien kecelakaan tadi ke IGD.


"Kenapa, Dok?" tanya Abel saat melihat Cleo tidak beranjak dari tempatnya.


"Aku seperti mengenal pasien itu." Cleo sempat melihat wajah pasienyang melintas di dekatnya.


"Benarkah? Kenapa anda nggak pastiin aja ke IGD. Mungkin saja dia orang yang anda kenal." Cleo mengiyakan saran itu, dan bergegas ke ruang IGD.


"Aku nggak mau! Minggir kalian! Jangan sentuh aku!" begitu sampai Cleo mendengar keributan yang terjadi disana.


"Ada apa?" tanya Cleo pada perawat yang berdiri di sebelahnya.


"Ada pasien kecelakaan yang buat ulah, Dok. Sepertinya dia sedang mabuk." jawab perawat setelah doa melihat seragam khusus dokter yang Cleo gunakan. Cleo mendekat dan melihat wanita yang sangat dia kenal sedang melempari peralatan yang ada di dekatnya.


"Gue bilang minggir!" teriaknya.


"Tenang dulu, Nona. Kami hanya mengobati luka anda." jawab dokter yang bertugas.


"Tidak perlu, menjauh dariku!" Nayla melempar bantal yanga ada di dekatnya. Darah segar mulai mengalir di pelipis dan pipinya.


"Mau sampai kapan kau berulah?" semua orang menoleh pada Cleo.


"Siapa kau? Jangan mendekat!" dia memberi peringatan padanya. Tapi, Cleo tidak menghiraukannya.


"Kalau kau mau berulah, jangan disini." Cleo mencengkram lengannya.


"Lepaskan aku!" Nayla berontak.


"Diam!! Kalau kau tidak ingin terluka." Cleo mutar-mutar gunting yang ada ditangannya. Nayla seketika menutup mulutnya. Cleo meminta perawat dan dokter yang bertugas mulai mengobati Nayla. Nayla tidak mengatakan apapun lagi.


"Aku pikir hidupmu sudah jauh lebih baik. Tapi, ternyata kau benar-benar memprihatikan." ucap Cleo sebelum meninggalkan Nayla. Nayla terkejut, dia sudah mulai sedikit sadar.


"Siapa dia?" tanya Nayla.


"Oh, dia dokter Cleopatra." jawab perawat yang sedang merapikan alat-alat.


"CLEO??" Nayla tercekat mendengar nama itu.

__ADS_1


~tbc


__ADS_2